Eropa Inggris

Ekspektasi yang Tak (Mungkin) Bisa Dipenuhi oleh British Core Arsenal

Jack Wilshere

Jack Wilshere

Bocah 19 tahun asal Inggris kala itu berhasil memimpin timnya mengalahkan Barcelona dan menghalangi kebintangan Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Enam tahun kemudian, sang bocah kembali dari masa pinjamannya di Bournemouth dan diminati oleh Sampdoria.

Jack Wilshere, dapat dikatakan, sebagai british core yang kariernya paling mengecewakan. Wilshere memang teramat sangat tidak beruntung. Cedera menghambat perkembangannya dan ia kini menjadi surplus di skuat Arsenal. Wilshere yang dulu diharapkan menjadi metronom Arsenal (dan timnas Inggris), kini mungkin hanya bisa berandai-andai. Berandai-andai jika ia tidak terkena cedera kambuhan, apa yang bisa ia raih dalam kariernya, karena Wilshere muda memang sangat berbakat. Namun, kini ia terancam untuk kehilangan nomor punggung 10 miliknya, bahkan statusnya sebagai pemain Arsenal.

***

Sekarang, dapat dikatakan hanya Ramsey dan Chamberlain, anggota dari british core yang memiliki posisi reguler di Arsenal. Kata-kata Wenger tahun 2012 lalu hanya menjadi angan-angan belaka. Tentu sungguh disayangkan karena sebenarnya british core ini memiliki talenta yang bagus.

Redupnya karier kelima british core ini mungkin juga menjadi pertanda bahwa Wenger memang perlahan mulai kehilangan sentuhannya dalam mengasah pemain muda. Menarik untuk dinanti, bakat-bakat muda Arsenal lainnya seperti Niles, Reiss Nelson, Joe Willock,dan Rob Holding berkembang di Arsenal.

Apakah jejak Ramsey dan Chamberlain yang mereka ikuti? Ataukah berakhir seperti Jenkinson, Gibss dan Wilshere? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket