Other Editions

Robert Rene Alberts: “Makassar Tetap Makassar, PSM Tetap PSM. The Passion of Football Is Still There”

Nama Robert Rene Alberts tak pernah lepas dari pemberitaan di Go-Jek Traveloka Liga 1 2017. Saat ini, ia ingin menuntaskan misi membawa PSM menjuarai Liga Indonesia. Jika itu terjadi, Robert akan mengulangi prestasinya membawa Arema saat meraih juara pada tahun 2010 lalu.

Football Tribe berkesempatan menemuinya sehari sebelum pertandingan Persib melawan PSM pada awal Juli 2017 lalu. Dengan gaya komunikasi to the point khas orang Eropa, Robert bercerita kepada kami mengapa ia memutuskan untuk melatih di Indonesia setelah hampir dua dekade berkarier di Malaysia dan Singapura.

“Sederhana saja, saya melihat sekarang kondisi berbalik. Malaysia mulai digerogoti korupsi dan berbagai ketidakadilan dalam situasi pemerintahan mereka, yang akhirnya merembet juga ke olahraga. Di lain pihak, Indonesia sudah memasuki masa keterbukaan dan sepak bola mereka sedang bergerak maju. Yah, meskipun masih banyak hal-hal ‘lucu’ yang terjadi, seperti kelucuan di masa lalu, yang membuat sepakbola Indonesia terkena sanksi FIFA.”

Pendapat Robert itu cukup menarik, mengingat masih banyak orang Indonesia yang masih mencibir iklim sepak bola mereka sendiri. Namun, mengingat pria kelahiran Amsterdam ini sudah tinggal di Malaysia sejak tahun 1992, tentu ia punya penilaian sendiri.

“Secara kultur, orang-orang Malaysia juga cenderung lebih santai, bahkan cenderung malas. Lihat saja, kebanyakan kelas pekerja di Malaysia didominasi warga negara asing. Saya lebih senang budaya kerja keras yang ditunjukkan orang-orang Indonesia,” sambungnya.

Robert juga mengapresiasi kebiasaan para pencinta sepak bola Indonesia yang masih memiliki kebanggaan terhadap klub-klub lokal mereka. Ke daerah mana pun ia pergi di Indonesia, masih terlihat orang-orang mengenakan jersey klub lokal. Di Malaysia, mereka cenderung lebih bangga mengenakan jersey klub-klub Liga Inggris.

Kesan itu dirasakannya ketika pertama kali datang ke Indonesia untuk melatih Arema pada tahun 2009. Saat itu, kekuatan klub kebanggaan masyarakat Malang tersebut sama sekali tidak diperhitungkan di Liga Indonesia. Namun, Robert merevolusi mentalitas Singo Edan menjadi klub yang akhirnya sukses menjuarai Liga Indonesia 2009/2010.

Hal yang sama sebenarnya terlihat lagi ketika ia mengambil alih kursi kepelatihan PSM di awal musim 2010/2011.  Di musim sebelumya, klub kebanggaan publik Sulawesi Selatan ini susah payah lolos dari jurang degradasi. Ketika Robert datang, magisnya merevisi prestasi buruk tersebut. Ia membawa Andi Oddang dan kawan-kawan mendominasi Liga Super Indonesia (LSI) di awal-awal musim.

Namun, angin perubahan sepak bola Indonesia ternyata tak berembus ke arah yang diinginkannya. Pada pertengahan Desember 2010, Robert sedang memimpin pasukannya untuk bersiap menantang tuan rumah Persipura Jayapura ketika sebuah kabar mengejutkan sampai ke telinganya.

“Teringat jelas di benak saya, ketika Ilham Arief Siradjuddin (manajer PSM saat itu) datang untuk memberi tahu seluruh tim bahwa kami akan mengundurkan diri dari LSI untuk menyeberang ke liga sebelah. Akan ada sebuah liga baru dan PSM akan berpartisipasi di situ,” kenang Robert.

“Saya langsung berbicara dengan Ilham selama beberapa jam, membahas apakah langkah itu sudah final dan tak ada pilihan lain lagi. Pada akhirnya, saya pun memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai pelatih. PSM ingin berkompetisi di liga ilegal yang tak diakui FIFA dan itu pilihan mereka, tapi saya tidak mau ikut.”

Robert kemudian kembali ke Malaysia untuk melatih Sarawak. Enam tahun pun berlalu, berbagai hal terjadi di sepak bola Indonesia, kebanyakan berakhir buruk seperti dualisme federasi sepak bola nasional dan terhentinya kompetisi akibat sanksi FIFA. Robert memantau semuanya di sela-sela waktu senggangnya di Malaysia.

Akhirnya, pada pertengahan 2016, takdir kembali mempertemukannya dengan PSM. Munafri Arifuddin (manajer PSM saat ini) meneleponnya, menawari kesempatan untuk kembali mengawal PSM. Tim Juku Eja lagi-lagi terpuruk di liga dan mereka membutuhkan Robert untuk kembali menjadi juru selamat. Kebetulan, saat itu pelatih kelahiran 14 November 1954 ini baru selesai dengan Sarawak.

“Saya langsung mengadakan meeting dengan Munafri, menanyakan visi-misinya. Mau dibawa tim ini ke depan bagaimana dan apa targetnya. Begitu yakin kami memiliki visi yang sama, saya pun tak ragu-ragu lagi. It’s time to come back and finish what I started.”

Meski demikian, ketika ditanya apa perbedaan mendasar PSM pada tahun 2010 dan sekarang, Robert dengan tegas menjawab: tidak ada.

“Tidak ada yang berubah. Makassar tetap Makassar, PSM tetap PSM. Baik kota dan klub sama-sama punya sejarah panjang. The passion of football is still there.”

Satu hal kendala awal yang dihadapinya ketika baru tiba di PSM adalah beberapa pemain yang saat itu berada di dalam tim tidaklah direkrut sesuai keinginannya. Robert lalu berkata terus terang kepada manajemen bahwa beberapa pemain dianggapnya tak memiliki kualitas cukup baik untuk membela PSM, termasuk para pemain asing.

Akhirnya, yang pertama dilakukan Robert adalah mencoret hampir seperempat isi skuat saat itu, termasuk para pemain asing, Lamine Diarrasouba, Alex da Silva dan Boman Aime.

Masalah selanjutnya adalah PSM tak memiliki dana besar untuk nerekrut dan menggaji pemain. Robert mengakalinya dengan merekrut beberapa pemain berkualitas yang sedikit terlupakan, seperti Titus Bonai dan bek asal Korea Selatan yang pernah memperkuat PSM sebelumnya, Kwon Jun.

“Saya sempat merasa malu kepada Kwon Jun, karena saat itu ia bersedia digaji cukup rendah demi bisa kembali membela PSM,” tutur Robert dengan nada suara melemah. “Padahal ia orang asing, tapi gajinya tak jauh berbeda dengan pemain lokal.”

“Saat itu saya hanya bisa menekankan kepada para pemain, klub kita memang tak punya banyak uang seperti klub-klub saingan, tapi kita akan memainkan pure football. Ketika kompetisi selesai nanti, saya berjanji kita semua akan bahagia melihat hasilnya.”

Suntikan semangat oleh Robert itu akhirnya benar-benar membangkitkan PSM dari keterpurukan. Juku Eja pun finis di posisi terhormat, yaitu posisi enam klasemen akhir TSC 2016, setelah sebelumnya lama tertatih di papan bawah.

Satu hal yang masih menjadi kelebihan Robert adalah kehebatannya dalam mendatangkan pemain asing berkualitas yang luput dari radar klub-klub lain di Indonesia. Seperti ketika mendatangkan playmaker genius asal Slovakia, Roman Chmelo, di Arema, kali ini ia mendatangkan Wiljan Pluim.

“Saya sudah lama mengamati penampilan Wiljan di Belanda. Ketika mendengar ia pindah ke Liga Vietnam, saya langsung mengamati perkembangannya. Di saat ia terkena masalah di negara itu, saya memutuskan untuk menghubungi kenalan saya yang bisa menghubungkan saya dengannya. Saya mantap ingin menjadikan Wiljan bagian tim PSM.”

Secara terbuka, Robert pun membeberkan formulanya dalam memilih pemain asing. Ia hanya menginginkan pemain-pemain yang bisa saling mengisi dengan pemain lokal. Jika ada pemain yang memiiki mentalitas arogan karena merasa lebih baik setelah mengantongi pengalaman bermain di Eropa, Robert tak akan memilih mereka.

“Kami bahkan menolak mantan kapten tim junior Prancis karena tidak sesuai kriteria itu,” cetusnya. Yang dimaksudnya adalah bek tengah Steven Thicot, yang pernah mengikuti seleksi PSM sebelum Liga 1 berjalan.

Satu lagi, Robert harus yakin dengan kualitas pemain-pemain tersebut setelah melihat langsung performa mereka. Seperti yang dilakukannya ketika merekrut juru gedor asal Brasil berpaspor Australia, Reinaldo Elias da Costa. Robert menyadari Reinaldo sekarang tidak lagi bermain sehebat ketika berkarier di Liga Cina dan Liga Australia beberapa tahun lalu. Namun, ia tetap melihat sesuatu yang spesial di dalam diri pemain ini.

“Reinaldo masih punya mentalitas kuat untuk selalu menang. Ini sangat penting untuk ukuran pemain profesional.”

Ia lalu membeberkan poin selanjutnya, bahwa pemain-pemain asing yang didatangkannya harus yang memiliki winning attitude yang kuat. Menurut Robert, para pemain asing harus bisa meng-install winning attitude ke dalam tim untuk membuat tim itu menyatu secara utuh. Penjelasan itulah yang mendasari perekrutan Pluim, Reinaldo, serta dua pemain asing lainnya, Steven Paulle dan Marc Klok.

Diskusi seru kami dengan Robert akhirnya harus diakhiri mengingat agendanya yang cukup padat bersama seluruh anggota tim PSM. Sebelum berpisah, ia berpesan kepada kami agar tetap menulis dengan serius untuk mendukung pemberitaan sepak bola nasional.

Terima kasih atas waktunya dan selamat bekerja, Meneer!

*Terima kasih juga kami haturkan kepada Andi Wina Syadzwina telah mengatur waktu terselenggaranya wawancara ini

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.