Eropa Spanyol

Sisi Melankolis Si Buas pada Momen Terakhir di Real Madrid

“Waktunya telah tiba… Pada 12 Juli 2007 seorang laki-laki tiba di Real Madrid dengan membawa impiannya setiap hari sejak masih kanak-kanak. Hari ini, berselang 10 tahun, saya akhirnya merasa ini saatnya untuk berhenti mengenakan kostum ini…” Kalimat di atas merupakan pembuka salam perpisahan Képler Laveran Lima Ferreira atau akrab disapa Pepe untuk klub yang sudah dibelanya selama satu dekade terakhir, Real Madrid, pada sebuah unggahan di akun Instagram miliknya.

Di akhir, Pepe menyebut tugasnya sudah usai di Los Blancos. Pepe yang identik dengan sosok pemain agresif tak kenal bulu, tiba-tiba berubah menjadi pria melankolis yang sedang tersendu menjalani momen terakhirnya bersama sesuatu yang dianggapnya sebagai cinta, Real Madrid.

Hari ini atau berselang satu bulan setelah umumkan perpisahan lewat Instagram, bek timnas Portugal itu akhirnya melanjutkan hidup, memilih klub Superlig Turki, Beşiktaş JK sebagai destinasi anyarnya.

El día llego… El 12 de julio de 2007 llegue al Real Madrid con la ilusión de un niño que llegaba donde había soñado todos los días de su infancia. Hoy , 10 años después , me toca despedir y dejar de vestir este escudo. Todos , pero todos los días que vestí está camiseta , lo hice con la ilusión de siempre ! Hoy solo puedo dar las gracias a todos vosotros que me habéis apoyado, que habéis escrito comigo esta bonita historia. Gracias a cada uno de vosotros que me habéis acompañado. Gracias a todos los amigos y compañeros que sé que se quedarán allá donde vaya. Me despido también de esta ciudad, que ha visto nacer y crecer a mis hijas. Me siento muy feliz por lo que he conseguido y llevaré vuestro cariño en el corazón ! Y lo vuelvo a decir …. lo mejor de estos 10 años ??? Entrenar cada día , convivir con todos y cada uno de los empleados de este club … Pisar el Santiago Bernabéu y sentir vuestro apoyo siempre fue mágico! En mi corazón guardo vuestro cariño , y este sentimiento de deber cumplido … El Real Madrid y vuestro cariño siempre harán parte de mi Historia , de mi vida ! Gracias y Hasta Siempre ! Pepe 6 Junio 2017

A post shared by Pepe (@official_pepe) on

Meski penuh dengan ucapan terima kasih kepada Los Blancos, ekspresi kesedihan sekaligus kekecewaan mendalam tampak masih terpancar dari wajah Pepe. Musim 2016/2017 jadi pembuktian loyalitas pemain berusia 34 tahun itu untuk Madrid. Sadar jadi incaran klub kaliber Paris Saint-Germain, Pepe malah memilih bertahan pada tahun terakhir kontraknya di Estadio Santiago Bernabeu, seraya berharap mendapat perpanjangan masa bakti.

“Seperti yang selalu saya katakan, saya akan menunggu Madrid hingga momen paling akhir,” tegas Pepe jelang final Liga Champions, 3 Juni 2017, seperti dilansir ESPN FC. Apa lacur, pemain kelahiran Brasil ini harus menerima fakta dilepas klub ibu kota Spanyol itu yang akhirnya berlabuh di Beşiktaş lewat status bebas transfer. Madrid bukannya tak merespons permintaan kontrak barunya, tapi hanya mau memberikan perpanjangan satu tahun, bukan dua seperti yang diharapkan sang pemain.

Antiklimaks sang pejuang

Jika menilik pada usianya yang sudah 34 tahun, masuk akal bagi Los Blancos untuk tak memperpanjang kontrak Pepe. Namun, jebolan tim junior Corinthians Alagoana ini selalu memberikan apapun dan jika perlu, segenap tubuhnya, demi Madrid. Satu tahun sebelum hijrah dari Bernabeu, Pepe malah menjalani salah satu puncak kariernya.

Pada laga final Piala Eropa 2016 antara Portugal kontra tuan rumah, Prancis, Pepe dinobatkan sebagai man of the match. Penampilan solidnya sepanjang turnamen menuai banyak pujian. Bukan sebuah hal yang mengherankan jika dirinya kembali dijagokan jadi andalan Madrid pada musim 2016/2017.

Akan tetapi, nasib berkata lain. Pepe kerap dihantam cedera. Musim 2016/2017 saja, dia telah mengalami lima cedera berbeda mulai dari hamstring, paha, otot, hingga retak tulang rusuk yang membuatnya secara keseluruhan absen selama 146 hari atau 29 pertandingan!

Cedera pula yang jadi salah satu alasan mengapa perpisahan seorang pengabdi selama satu dekade ini tak terkesan spesial. Pertandingan El Derbi madrileño kontra rival sekota, Atletico Madrid, pada siang yang terik awal April 2017 mengubah segalanya. Usai laga, Pepe tahu kariernya di Los Blancos tak lama lagi dan mulai mengemasi barang-barangnya ke kampung halamannya di Portugal, sebelum dibawa terbang ke destinasi baru.

Beberapa menit setelah sukses membawa Madrid unggul lewat gol sundulannya, Pepe mendapat perawatan di sisi lapangan. Apa yang dilihat ternyata jauh lebih parah dari perkiraan, dia mengalami retak tulang rusuk yang membuatnya harus absen lama.

Pemain yang namanya diambil dari duo sosok besar ilmuwan ini sempat punya harapan tinggi dimainkan pelatih Zinedine Zidane saat Madrid menantang Juventus di final Liga Champions. Sayangnya, asa Pepe pupus karena jangankan di tim inti, namanya tak tercantum pada daftar pemain cadangan dan tak dibawa ke Wales sebagai bagian skuat resmi.

Namun, eks FC Porto ini bukan sosok sembarangan. Dia memilih mendukung rekan setim dari bangku penonton dan turun pascalaga untuk merayakan gelar, momen yang sama kala Los Blancos memastikan gelar La Liga 2016/2017 di Malaga.

Praktis, aksi terakhir Pepe di depan Madridista terjadi saat dirinya ditarik keluar pada menit ke-67 dalam laga derbi kontra Atletico usai mengalami cedera, dua bulan sebelum laga pamungkas Los Blancos musim lalu. Dia memang sempat mempertanyakan dinginnya kubu Madrid akan rencana perpisahannya hingga ketiadaan petinggi klub kala mengalami retak tulang rusuk, lewat wawancara dengan radio Cadena Ser, yang mungkin jadi salah satu alasan ketiadaan sambutan meriah.

Akan tetapi, untuk sosok yang pernah memberikan kontribusi pada tiga trofi La Liga, dua Copa del Rey dan Piala Super Spanyol, tiga titel Liga Champions, hingga dua gelar Piala Dunia Antarklub untuk Madrid, plus jadi pemain asing kelima dengan jumlah penampilan terbanyak, perpisahan spesial tampaknya bukan sebuah hal yang terlalu berat untuk dilakukan. Tapi apa boleh buat, Pepe kadung pergi dengan perasaan melankolis.

Garang di lapangan, melankolis di luar

Omong-omong soal melankolis, Pepe yang dikenal garang pada lawan, belakangan memang mulai berubah, meski tak serta merta seperti itu. Permainannya memang masih agresif dan keras, tapi tak lagi kasar. Tak ada lagi tendangan ke punggung lawan seperti yang dilakukannya pada pemain Getafe, Javier Casquero, delapan tahun lalu yang membuatnya dihukum larangan bermain 10 laga, atau tekel kotor sepanjang El Clasico melawan Barcelona.

Pepe yang sempat mengaku ragu untuk bermain sepak bola lagi setelah menendang Casquero, meninggalkan Madrid dengan menjadi seseorang yang berbeda, yang tak lagi brutal terhadap pemain lawannya. Statistik mencatat, kali terakhir Pepe mendapat kartu merah saat berlaga bersama Los Blancos adalah enam tahun lalu!

Sisi melankolis seorang Pepe terlihat saat berbincang dengan ayahnya, Anael, membahas sepatu sepak bola yang jadi saksi perjalanan panjang karier sepak bolanya. Pada video promosi sepatu sepak bola Umbro, dia yang sesekali tertawa mendengar cerita ayahnya perlahan diam dan terpancar raut wajah terharu. Sang ayah menceritakan rela tidur di mobil dan hanya makan roti lapis demi membelikan Pepe sepatu Umbro yang harganya hampir tiga kali lipat dari gajinya sebulan.

Terlepas dari kepergian mirisnya dari Madrid, Pepe mengajarkan arti penting loyalitas dan kecintaan, yang diajarkan serta dialaminya sejak kecil. Kerasnya hidup pada situasi yang tak selamanya ideal, menjadikan dia sosok yang keras, tapi juga peka terhadap lingkungan sekitar. Selamat menempuh hidup baru, Pepe!

Author: Perdana Nugroho
Penulis bisa ditemui di akun Twitter @harnugroho