Kolom

Manusia Baik Itu Bernama Miroslav Klose

Struktur wajahnya sangat khas orang Slavik. Dagu lancip, struktur rahang yang tampak kokoh, dilengkapi dengan sorot mata tajam dan bentuk pipi yang tirus. Dan, ia punya raut muka yang muram. Orang Jerman menyebutnya ‘kemurungan khas kaum Slavik’, mengacu pada runtuhnya Uni Soviet dan bagaimana kemudian negara-negara pecahan Soviet dirundung masa-masa awal yang berat selepas bubarnya Soviet.

Kamu akan menemukan muka-muka murung orang Slavik di hampir beberapa titik wilayah di Jerman. Dan dari kantung-kantung wilayah tersebutlah, muncul orang-orang Polandia yang kemudian bekerja mencari nafkah dengan menetap dan bahkan, mengganti kewarganegaraannya menjadi warga negara Jerman. Dari beberapa di antaranya, kamu akan menemui nama Lukas Podolski dan tandem Slavik sehatinya di lini depan tim Panser, Miroslav Klose.

Di era modern, mudah menemukan orang Polandia bermain di Jerman dan mengembangkan karier sepak bolanya di sana. Dari timnas Polandia saat ini, ada Robert Lewandowski dan Lukasz Piszczek yang merupakan pilar utama di tim mereka masing-masing, Bayern München dan Borussia Dortmund. Tapi jauh sebelum keduanya menjadi bintang besar Polandia di Jerman, Klose adalah salah satu yang populer.

Ia asli dari Polandia dan seperti yang jamak dilakukan beberapa warga Polandia selepas kejatuhan Nazi dan Adolf Hitler, Josef Klose, ayah dari Miroslav, membawa keluarganya untuk pindah dan menetap di Jerman. Darah olahraga memang mengalir deras di darah Miro, sapaan akrab Klose. Ayahnya adalah atlet sepak bola sementara ibunya salah satu atlet bola tangan yang tergabung di timnas Polandia.

Dan seperti rekannya yang hangat dan menyenangkan, Lukas Podolski, Klose pun menghapus stigma murung khas Slavik dengan sikapnya di lapangan yang santun dan sangat menjunjung tinggi kehormatan dalam bermain. Hal itu pernah ditunjukkannya dalam sebuah momen ketika masih berseragam Werder Bremen di tahun 2005 lalu. Dalam sebuah insiden minor di kotak penalti Arminie Bielefeld, Klose yang terjatuh di dalam kotak penalti kemudian sukses mendapatkan penalti bagi timnya.

Alih-alih menerima dan bertempik sorak dengan hadiah tersebut, ia dengan percaya diri mendatangi wasit dan bilang bahwa ia tak layak memperoleh penalti. Salah satu keputusan yang kemudian membuatnya dibanjiri banyak pujian dari berbagai pihak. Bundesliga bahkan menyiapkan penghargaan khusus berupa fair play award khusus untuk Klose.

Dan reaksinya kemudian yang membuat kita patut jatuh cinta dengan eks penyerang Kaiserlautern ini. Dibandingkan merasa bangga karena menerima penghargaan terhormat tersebut, sang penyerang yang jago duel udara ini justru berkomentar, “Penghargaan ini adalah kehormatan besar tapi juga sedikit membuatku sebal. Bersikap sportif adalah sikap yang harus selalu kita pegang di lapangan dan aku akan terus melakukannya.”

Terdengar klise memang, apalagi di ranah olahraga, tak jarang banyak pemain melakukan hampir segalanya demi mencetak gol dan meraih kemenangan. Dan Klose, menepati ucapannya bertahun-tahun kemudian. Ketika berseragam Lazio, penyerang yang kala itu sudah memasuki usia senja, sempat mencetak gol ke gawang Napoli pada tahun 2012. Masalahnya, gol yang ia cetak ke gawang tim asal Naples itu berbelok arahnya masuk ke gawang karena terkena tangan. Wasit, yang tak dengan jelas melihat insiden itu, lantas mengesahkan gol itu. Sontak, pemain Napoli berang.

Lima sampai enam pemain Napoli mendekat ke wasit dan mempertanyakan keputusan sang pengadil karena gol pemain Jerman tersebut berbau handball. Klose yang dipanggil mendekat ke wasit untuk memberi konfirmasi, alih-alih menolak tangannya berperan aktif dalam proses gol, justru menjawab bahwa tangannya memang membantu bola berbelok masuk ke gawang. Gol pun resmi dibatalkan dan Klose sekali lagi membuktikan ia memang pemain yang sportif dan pria yang baik.

Empat tahun kemudian, dalam sebuah acara penganugerahan yang dilakukan oleh DFB (PSSI-nya Jerman), lagi-lagi pria karismatik ini mengeluarkan ucapan yang teduh dan menyenangkan ketika ditanya perihal insiden gol di Napoli. “Napoli? Ya, bagi saya itu adalah keputusan mudah. Wasit memanggil saya mendekat dan bertanya apakah bola mengenai tangan saya. Saya jawab sesuai fakta di lapangan karena memang itu adanya dan itu karakter saya. Kita adalah figur panutan di lapangan dan sudah sebaiknya memberi contoh yang baik bagi pesepak bola muda di luar sana.”

Di saat beberapa bintang papan atas dunia kerap melakukan aksi teatrikal di lapangan dan berbuah keputusan kontroversial, Miroslav Klose, dengan puluhan catatan golnya dan statusnya sebagai juara dunia, adalah contoh manusia baik yang sempurna. Pria berwajah murung itu mengajarkan tentang kehormatan dan sikap sportif jauh lebih banyak dari pemain-pemain dengan status bintang yang mengumbar senyum di wajah tampan mereka.

Memang, diving dan mencetak gol culas adalah bagian dari drama yang muncul di sepak bola. Tapi, permainan ini tak melulu perihal kemenangan dan trofi belaka, tapi terkadang, juga tentang sedikit moralitas. Klose adalah pencetak gol terbanyak sepanjang masa di pagelaran Piala Dunia. Ia sudah bermain membela panji tim Panser sejak Piala Dunia 2002 dan menutup kariernya dengan gemilang lewat gelar juara di Brasil tahun 2014 lalu.

Berkaca dari Klose, terkadang, kita perlu percaya bahwa nasib baik mengiringi tindakan baik manusia yang ia lakukan di masa sebelumnya. Sikap sportif Klose di tahun 2005 dan 2012 lalu mungkin hanya berskala kecil, tapi di akhir kariernya, ia mendapat balasan yang setimpal: sebuah trofi juara dunia.

Akhir karier yang sangat sempurna dari pemain yang sempurna, ya? Selamat ulang tahun, pria baik!

Author: Isidorus Rio Turangga (@temannyagreg)
Tukang masak dan bisa sedikit baca tulis