Eropa Inggris

Carlton Cole, Bukti Teranyar Pemain Inggris Alergi Liga Luar Negeri

Jermaine Pennant
Jermaine Pennant saat dikontrak oleh Tampines Rovers.

Tak hanya di Indonesia

Menyeberang ke negeri jiran, kabar heboh kepindahan eks pemain sayap Liverpool, Jermaine Pennant, ke S.League Singapura ternyata hanya berlangsung kurang lebih sembilan bulan. Pemain berusia 33 tahun itu bahkan tak masuk dalam starting eleven Tampines Rovers pada akhir karier tanpa trofinya di Singapura.

Kembali ke belakang, contoh terpopuler adalah kurang bersinarnya bintang Liverpool yang raih Ballon d’Or 2001, Michael Owen, saat pindah ke Real Madrid. Hijrah pada musim panas 2004, pemain kelahiran Chester ini hanya bertahan semusim di Santiago Bernabeu setelah lebih sering diturunkan dari bangku cadangan.

Masih di klub yang sama, kisah tragis dan membingungkan dialami Jonathan Woodgate. Direkrut saat masih berkutat dengan cedera, eks Newcastle United itu akhirnya menjalani debut, yang bisa dibilang sebagai mimpi buruk tiap pemain baru. Kontra Athletic Bilbao, Woodgate mencetak gol bunuh diri dan tak lama kemudian, diusir wasit akibat menerima kartu kuning kedua.

Di Italia dua musim lalu, trio Micah Richards, Ashley Cole, dan Ravel Morrison, juga tak bisa bertahan lama di Serie-A. Richards tinggalkan Fiorentina setelah hanya dipercaya tampil di beberapa laga saja, pun halnya dengan Cole. Sementara Morrison lebih parah. Perangainya di luar lapangan membuat Lazio gerah dan ‘mengasingkannya’ ke Queens Park Rangers.

Musim ini saja tercatat hanya Joe Hart yang bermain di luar Inggris saat masih berstatus pemain tim nasional. Kepindahan kiper berusia 30 tahun itupun dengan status pinjaman setelah terdepak dari skuat utama Manchester City asuhan Pep Guardiola. Selebihnya, hanya nama-nama semisal Lewis Baker dan Andre Wisdom, legiun asal Inggris yang berkarier di luar negeri.

Menurut data Bleacherreport, minimnya pemain asal Inggris yang berkarier di luar negeri dibandingkan dari Spanyol, Argentina, Prancis, atau Brasil, dipicu oleh mentalitas pesepak bola itu sendiri. Mereka terkesan sudah nyaman dengan pola pikir bahwa Liga Primer Inggris merupakan kompetisi terbaik di dunia saat ini. Padahal ironisnya, dalam beberapa tahun terakhir kompetisi regional Eropa kerap dikuasai wakil asal Spanyol.

Selain itu, keengganan untuk beradaptasi dan mempelajari taktik baru juga jadi alasan minimnya ekspor pesepak bola dari Inggris. Alhasil, para pemain hanya tahu lebih banyak soal kick and rush dan saat menjalani turnamen akbar seperti Piala Dunia dan Piala Eropa, sulit untuk meladeni permainan tim-tim besar yang cenderung diisi pemain dari berbagai liga.

Bukan hal yang asing saat Inggris yang difavoritkan media sendiri jadi juara setiap jelang turnamen, tiba-tiba tampil loyo dan angkat koper lebih awal. Media Inggris yang dikenal kejam, juga jadi pengaruh keengganan pemain lokal menjelajah ke luar. Di balik fakta tersebut, media di sisi lain juga berperan mendongkrak pamor pemain dan liga di Inggris.

Empat kategori

Akan tetapi bukan berarti semua pemain Inggris gagal saat memperkuat tim luar negeri. Secara umum setidaknya ada empat kategori pemain Inggris yang berani merantau, yakni yang memang hijrah sejak di akademi, yang terdepak dari tim utama, yang kariernya menuju senja, dan si pengecualian.

Contoh sukses pertama ada dalam diri Owen Hargreaves dan Eric Dier. Hargreaves merupakan lulusan tim junior Bayern Muenchen sebelum menjelma jadi gelandang andalan, sementara Dier adalah eks akademi Sporting Lisbon di Portugal yang kini jadi bintang Tottenham Hotspur dan timnas Inggris.

Kedua, dapat dilihat dari duo Manchester City, Hart dan Richards. Sang kiper kini menanti tawaran untuk kembali ke dalam negeri, setelah musim yang cukup baik bersama Torino, sementara Richards sudah mudik per tahun lalu bersama Aston Villa. Selanjutnya kita dihadapkan pada banyak contoh mulai dari Ashley Cole, Frank Lampard, Steven Gerrard, dan Jermaine Defoe di Major League Soccer (MLS).

Nama terakhir jadi contoh sukses setelah kembali direkrut tim Liga Primer, Sunderland. Meski gagal menyelamatkan tim dari degradasi, Defoe tampil luar biasa dengan gelontoran gol dan sukses kembali dipanggil masuk timnas Inggris. Sementara pengecualian adalah sosok-sosok yang memang tetap bisa bersinar kendati tampil di luar negeri. Deretan semisal Chris Waddle, Steve McManaman, hingga yang paling bisa diasosiasikan, David Beckham.

Dari puluhan bahkan ratusan pemain Inggris yang mungkin gagal di luar negeri, Beckham meraih kesuksesan bersama Madrid dengan satu trofi La Liga 2006/2007 dilanjutkan dengan dua gelar Piala MLS di Los Angeles Galaxy, serta sebuah titel Ligue 1 musim 2012/2013 kala memperkuat Paris Saint-Germain, yang juga jadi penanda akhir kariernya.

Pemain Inggris memang dikenal alergi pada liga luar negeri, tapi bukan berarti semuanya gagal. Jadi, bagaimana, Carlton Cole? Sudah waktunya angkat kaki atau mulai berlatih lebih serius dan berandai-andai masuk kategori si pengecualian?

Author: Perdana Nugroho
Penulis bisa ditemui di akun Twitter @harnugroho