Gelandang

Emmanuel Maboang Kessack
Sebagai salah satu penggawa tim nasional Kamerun di Piala Dunia 1990 dan 1994, sudah sepatutnya kita tak meremehkan kemampuan figur yang satu ini. Hal ini pula yang membuat Pelita Jaya kepincut dan memboyongnya sebelum kompetisi Liga Indonesia musim 1997/1998 diselenggarakan.
Penampilan impresif Kessack sanggup membawa Pelita Jaya nangkring di papan atas Grup Tengah di musim tersebut serta berpeluang melaju ke babak selanjutnya. Celakanya, sejumlah masalah yang mendera PSSI plus bergolaknya kondisi politik di Indonesia pada saat itu membuat kompetisi harus dihentikan di tengah jalan. Realita tersebut membuat Kessack memilih mudik ke negaranya.

Francis Yonga
Berposisi sebagai gelandang serang, Yonga dibekali kemampuan mengatur serangan dan fisik yang prima. Selain itu, dirinya juga tergolong sangat produktif ketika ada di kotak penalti lawan. Hal ini pula yang membuat Persikota Tangerang, Persija Jakarta dan Arema Indonesia bersedia mengontraknya.
Prestasi tertinggi yang digapai Yonga saat memeras keringat di kompetisi nasional adalah gelar Copa Indonesia tahun 2005 bareng Arema. Usai pensiun, sosok yang satu ini berprofesi sebagai agen pemain, khususnya yang berasal dari Afrika.

Patrice Nzekou
Tahun 2010 menjadi titik awal petualangan pemain berkaki kidal ini di Indonesia. Kala itu, Nzekou yang sedang berstatus bebas transfer direkrut oleh kesebelasan asal Pekanbaru, PSPS. Bersama tim Asykar Bertuah, Nzekou mematri namanya sebagai salah satu idola publik Stadion Rumbai.
Saat beraksi di atas lapangan, Nzekou yang populer dengan kelincahan dan kecepatannya ini cukup jago menjadi pelayan para penyerang dengan umpan-umpan manjanya. Di kesempatan lain, Nzekou juga tak ragu untuk bikin gol. Selain PSPS, pemain yang kini berumur 33 tahun ini juga pernah berkostum Persebaya DU (kini Bhayangkara FC) dan Persiba Balikpapan.