Kolom

Mencicipi Skema 3-4-2-1 Racikan Arsene Wenger

Tidak adanya konektor juga membuat siapa saja yang berusaha masuk ke kotak penalti menjadi terisolasi. Inilah permasalahan yang kedua ketika Arsenal menyerang. United bertahan sangat dalam, sehingga agak sulit untuk memaksakan umpan terobosan ke dalam kotak penalti.

Ada dua kesempatan di mana Ramsey bisa masuk ke kotak penalti. Satu kesempatan berbuah tembakan ke arah gawang yang bisa ditahan De Gea, satunya ketika ia mendapatkan momen untuk cut back. Dua situasi tersebut tercipta ketika ada konekor yang bermain di sekitar depan kotak penalti. Dalam momen tersebut adalah Alexis Sanchez.

Ia menyediakan diri di sekitar depan kotak penalti United. Mau tak mau, lawan akan mendekati Alexis, pemain yang mampu menahan bola atau melepaskan umpan berbahaya. Oleh sebab itu, ruang Alexis harus dibatasi. Pancingan seperti inilah yang akan disediakan konektor. Ramsey dan Danny Welbeck, meski menghadapi tiga bek lawan, akan mendapatkan ruang yang dipicu keberadaan konektor tersebut.

Bagaimana jika sudah ada konektor, namun tak dimanfaatkan? Perhatikan pergerakan dan keputusan Ramsey berikut.

Sepanjang melawan United, Ramsey berkali-kali membuat pergerakan vertikal-diagonal yang bagus. Ia pandai menemukan ruang dan mengeksploitasinya. Namun, terkadang, pengambilan keputusannya tak terlalu bijak.

Contohnya adalah grafis di atas. Ketika ia mendapatkan umpan terobosan dari Ozil, Ramsey “dikepung” dua pemain United. Situasi ini sangat ideal untuk Arsenal, APABILA Ramsey langsung memberikan bola dengan sekali sentuh kepada Xhaka. Jika langsung mengumpan kepada Xhaka, Ramsey akan mendapatkan momentum, dan sekali lagi, ruang, untuk dieksploitasi dengan berlari diagonal seperti yang ditunjukkan tanda panah.

Namun, Ramsey justru menahan bola sekian detik. Waktu yang sempit sudah cukup bagi dua pemain United untuk merebut bola dari kaki pemain Wales tersebut. Sebuah kesempatan membongkar deep block lawan terbuang percuma.

Ketiadaan konektor bisa disebabkan oleh Wenger yang tak memberikan instruksi secara detail. Selama ini, Arsenal terlalu terlanjur dikenal sebagai tim yang “cair” ketika menyerang. Padahal, tak selalu cara tersebut berhasil, secara spesifik, ketika menghadapi lawan dengan sistem bertahan dan sistem pressing yang bagus.

Selain itu, pengambilan keputusan yang tepat menjadi pekerjaan rumah bagi para pemain. Hal ini sangat fundamental mengingat struktur Arsenal tak selalu bagus, atau kalau boleh dibilang jarang bagus.

Nah, penjelasan sederhana terkait cara bertahan dan menyerang Arsenal dalam skema 3-4-2-1 di atas masih jauh dari detail. Masih dibutuhkan beberapa bahan untuk membuat racikan chef Arsene Wenger terasa lebih sedap. Sedikit garam, gula, dan lada mungkin bisa membuat perbedaan.

Tapi Anda harus selalu ingat, kuncinya, jika tak mampu bergerak sebagai tim, skema apa pun yang digunakan Wenger hanya cocok untuk lawan tertentu, padahal kita berbicara jangka panjang, ketika endurance sebuah tim diuji dan kemampuan pelatih mengaplikasikan sebuah sistem menjadi kunci.

#COYG

Author: Yamadipati Seno
Koki @arsenalskitchen