Dunia Kolom

Menunggu J.League Mengembalikan Hegemoninya

Setelah gencar diberitakan banyak media, khususnya di Jepang, kepastian bahwa Lukas Podolski akan mentas di J.League per musim 2017/2018 pun menjadi kenyataan. Kemarin (2/3), pihak klub yang kini diperkuat Podolski, Galatasaray, memberi konfirmasi via akun twitter resmi mereka bahwa sang pemain dipastikan bergabung dengan salah satu kontestan J.League, Vissel Kobe.

Pada hari yang sama, mantan penyerang Bayern Munchen, Arsenal dan Internazionale Milano itu pun mengunggah sebuah postingan di akun instagram pribadinya yang isinya berupa pernyataan bahwa musim ini merupakan periode terakhirnya membela panji Galatasaray. Sosok yang akrab disapa Poldi itu juga menyebut bila dirinya akan tampil semaksimal mungkin di sisa musim ini untuk membantu klub berjuluk Cimbom tersebut demi membahagiakan para suporter.

Sampai pekan ke-22 Liga Super Turki 2016/2017, Galatasaray memang masih tercecer di peringkat ketiga dengan torehan 40 angka. Mereka tertinggal masing-masing sepuluh dan enam poin dari Besiktas serta Istanbul Basaksehir yang beriringan mengisi posisi satu dan dua. Walau cukup jauh, namun peluang tim yang kini dilatih oleh Igor Tudor itu masih cukup terbuka.

Lebih lanjut soal kepindahan Poldi ke J.League, pihak Vissel Kobe sendiri terbilang sangat antusias atas keberhasilan mereka mengamankan jasa pemain yang memiliki 126 caps bersama timnas Jerman itu. Sang presiden klub, Hiroshi Mikitani, berharap jika kedatangan sosok berkaki kidal tersebut akan semakin membuat timnya kompetitif. Sehingga kelak, Vissel Kobe bisa bersaing memperebutkan titel juara J.League.

Di usianya yang masih terhitung produktif untuk ukuran pesepak bola, 31 tahun, keputusan Poldi hengkang ke J.League bisa dibilang cukup mengejutkan. Saya pun yakin, bila dirinya memutuskan hijrah dari Galatasaray di akhir musim dan tetap memilih berlaga di liga-liga Eropa, beberapa kesebelasan top dengan senang hati pasti bersedia menampungnya.

Kompetisi J.League sendiri terbilang tidak asing dengan kedatangan para bintang kelas dunia yang kenyang pengalaman berlaga di kompetisi tertinggi di Amerika Latin atau Eropa. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1992 silam, J.League memang sanggup memikat beberapa pemain kenamaan untuk mencicipi atmosfer sepak bola di negeri matahari terbit.

Pada medio 90-an yang lalu, terdapat banyak sekali bintang-bintang sepak bola dunia yang tertarik mencicipi kerasnya atmosfer liga dari negara Asia Timur ini. Tak tanggung-tanggung, figur semisal Bebeto, Ramon Diaz, Michael Laudrup, Pierre Littbarski, Daniele Massaro, Salvatore Schillaci dan Zico bersedia datang ke negara yang pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun tersebut.

Kita pun tahu bila nama-nama tersebut adalah pemain jempolan yang jadi andalan tim nasionalnya masing-masing pada masanya. Sehingga keputusan mereka mentas di J.League mengundang banyak tanya. Walau perlu dicatat juga bila mereka datang ke Jepang saat usianya telah menembus kepala tiga dan semakin dekat dengan masa pensiun.

Beberapa klub yang menjadi pelabuhan nama-nama itu di J.League antara lain Jubilo Iwata, JEF United Ichihara, Kashima Antlers, Shimizu S-Pulse, Yokohama F. Marinos dan tentu saja Vissel Kobe (yang menjadi pilihan Laudrup).

Dampak dari kehadiran pemain-pemain tenar itu membuat nama J.League semakin dikenal pencinta sepak bola di penjuru muka bumi. Kompetisi ini pun dianggap sebagai liga paling populer di wilayah Asia kala itu.

Pada saat itu J.League juga dianggap sebagai kompetisi yang amat pas buat menghabiskan karier, khususnya bagi pemain-pemain bintang yang sudah tak mendapat tempat lagi di klub-klub ternama Eropa lantaran semakin berumur. Selain Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat tentunya.

Lucunya, walau dipenuhi banyak pemain berkelas, tim-tim asal Jepang tetap kurang menggigit saat beraksi di ajang Liga Champions Asia. Praktis, hanya Jubilo Iwata saja yang pernah menahbiskan diri sebagai tim terbaik di Asia usai menjuarai kompetisi tersebut di musim 1998/1999.

Kesuksesan regional klub-klub Jepang pada era 90-an lebih banyak diraih di turnamen antarklub Asia kelas dua yang telah dihentikan penyelenggaraannya pada musim 2002/2003 silam, Piala Winners Asia. Tercatat, ada empat tim asal Jepang yang berhasil menjadi kampiun di kejuaraan tersebut yaitu Nissan Motors F.C./Yokohama Marinos, Yokohama Flugels (sebelum bergabung dengan Yokohama Marinos dan berubah nama jadi Yokohama F. Marinos), Bellmare Hiratsuka (kini dikenal dengan nama Shonan Bellmare) dan Shimizu S-Pulse.

Seiring berjalannya waktu, meski tetap dianggap sebagai liga paling top di benua kuning, popularitas J.League perlahan-lahan mulai memudar di era 2000-an. Semakin berkurangnya sosok-sosok berlabel pemain papan atas yang merumput di J.League memengaruhi nilai jual kompetisi ini.

Sialnya, pada saat yang sama, kompetisi Liga Super Cina justru semakin menggeliat, utamanya dalam lima musim terakhir. Membaiknya kondisi perekonomian Cina beberapa tahun ke belakang jelas berperan besar atas perubahan signifikan di liga ini. Hal ini juga yang kemudian membuat tim-tim yang ada di sana dengan mudah menggoda iman pemain-pemain bintang yang mentas di Amerika Latin atau Eropa untuk hengkang ke negeri tirai bambu agar mendapat uang lebih banyak.

Di era modern seperti sekarang, tentu sulit untuk menepikan faktor gaji sebagai salah satu pemicu hengkangnya seorang pemain dari tim yang satu ke tim lainnya. Maka tak perlu heran bila nilai-nilai romantisme perihal kesetiaan, pengorbanan dan dedikasi tak lagi subur dewasa ini.

Menyaingi klub-klub di Liga Super Cina dalam hal menghambur-hamburkan uang demi mendaratkan banyak pemain bintang tentu akan sulit diikuti kompetisi di negara-negara lain, bahkan di wilayah Eropa yang basis industri sepak bolanya sudah begitu kuat.

Tapi dalam dunia sepak bola, segala hal yang tidak mungkin justru acapkali diputarbalikkan sesuka hati tanpa pandang bulu dan menjadi mungkin. Sehingga banyak sekali kejutan yang muncul justru datang tanpa diduga. Hal yang membuat sepak bola senantiasa menarik dari waktu ke waktu.

Meminjam propaganda 3A Jepang di masa penjajahan dahulu yang berbunyi “Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang Cahaya Asia”, sekonyong-konyong ada dua pertanyaan yang menetas di kepala saya kala memikirkan J.League.

Akankah kepindahan Poldi ke J.League mulai musim depan menjadi langkah pembuka dari eksodusnya bintang-bintang dunia ke kompetisi ini layaknya era 90-an yang lalu?

Dan mampukah J.League merebut kembali supremasinya sekaligus mengembalikan hegemoninya sebagai liga paling populer di tanah Asia?

Sebuah realita yang patut ditunggu.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional