Dunia Piala Dunia

Brasil 2014: Lebih dari Sekadar Tragedi di atas Lapangan

Adakah pertandingan yang lebih tragis dibanding kekalahan telah Brasil 1-7 dari Jerman pada Piala Dunia 2014 lalu? Masyarakat Brasil bahkan menganggap kekalahan tersebut lebih memalukan ketimbang waktu mereka dikalahkan Uruguay pada Piala Dunia 1950.

Masyarakat Brasil telah menganggap kekalahan ini sebagai tragedi: suatu luka kolektif. Dalam “The Maracanazo: Brazilian Tragedy and the 1950 World Cup” (2013), Matthew Schorr menjelaskan bagaimana sulitnya rakyat Brasil melupakan kisah tragis tersebut. Tim nasionalnya, Selecao, takluk di partai final dari Uruguay: negara tetangga yang mereka anggap inferior.

Jika peristiwa 1950 disebut “Maracanazo”, masyarakat Brasil mempunyai sebutan sendiri untuk tragedi tiga tahun silam: “Mineiraco”, mengacu pada kota tempat pertandingan dihelat. Mauricio Savarese dan Marcus Alves di Four Four Two menyebutkan bahwa apapun kegagalan yang terjadi di Brasil, entah di soal politik, ekonomi, ataupun olahraga, publik akan berkomentar, “…yak, Jerman mencetak gol lagi.”

Kita melihat bagaimana David Luis berderai air mata saat diwawancarai reporter, jangan lupakan juga responnya setelah peluit akhir ditiup wasit. Sepak bola, atau futebol bagi orang Brasil, memang sudah menjadi separuh nyawa.

Yang seharusnya tidak boleh kita lupakan adalah, rakyat telah berkorban begitu banyak untuk menyelenggarakan pagelaran ini. Pemerintah memangkas subsidi, utamanya subsidi transportasi dan mengalokasikannya untuk membangun infrastruktur Piala Dunia.

Infrastruktur yang dituntut FIFA: yang berhubungan dengan penyelenggaraan (stadion dan tempat latihan) dan akomodasi (bandara, jalan tol, hotel). Terlebih, Brasil juga menjadi tuan rumah untuk Piala Konfederasi dan Olimpiade Rio 2016.

Brasil dituntut untuk mengencangkan ikat pinggang, tetapi masyarakatnya yang menjadi korban. Piala Dunia memang telah menjadi ilusi bagi suatu negara. Sebelum Brasil, kita juga melihat Afrika Selatan yang menjadi tuan rumah pada 2010 dan ternyata tidak memberi dampak signifikan bagi perekonomian dan sepak bolanya.

Ilusi

Pada 2001, Jim O’Neill dari lembaga keuangan Goldman Sachs menyebutkan negara-negara yang masuk dalam kategori negara terindustrialisasi baru terkemuka. Negara-negara tersebut adalah Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, yang kerap disebut BRICS. Kecuali India dan Cina, tiga negara di atas adalah tuan rumah Piala Dunia.

Dalam Development and Dreams: The Urban Legacy of the 2010 Football World Cup (2009), Richard Tomlinson dan kawan-kawan telah memperingatkan bahwa meskipun proyeksi ekonomi Piala Dunia begitu menggoda, keuntungan yang didapat tuan rumah tidak sebanding dengan yang didapat FIFA.

Di Brasil sendiri, event raksasa ini adalah ambisi dari presiden mereka Lula da Silva sehingga pada 2007, FIFA menetapkan negaranya sebagai tuan rumah di 2014. Silva, yang memang seorang megalomaniak, percaya diri karena waktu itu Brasil sedang mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%. Tetapi, sebagian besar pemasukan berasal dari dana investor asing. Sesuatu yang seharusnya tidak membuatnya besar kepala.

Brasil akhirnya menyanggupi syarat-syarat dari FIFA, salah satunya adalah penyediaan stadion yang layak. Berikut daftar stadion baru maupun yang dipugar demi keberlangsungan agenda ini, yang saya kutip dari majalah World Soccer Indonesia edisi Maret 2013.

No. Nama stadion Biaya Kapasitas Status
1 Arena da Amazonia 171 juta paun 42.374 Baru
2 Arena Pantanal 167 juta paun 42.968 Baru
3 Estadio Nacional 326 juta paun 70.064 Renovasi
4 Estadio Beira-Rio 106 juta paun 48.849 Renovasi
5 Arena da Baixada 75 juta paun 41.456 Renovasi
6 Arena Corinthians 264 juta paun 65.807 Baru
7 Estadio Castelao 167 juta paun 64. 846 Renovasi
8 Arena das Dunas 134 juta paun 42.086 Baru
9 Arena Pernambuco 170 juta paun 46.000 Baru
10 Arena Fonte Nova 190 juta paun 48.747 Baru
11 Estadio Mineirao 224 juta paun 62.547 Renovasi
12 Maracana 260 juta paun 76.804 Renovasi

 

Seperti yang diurai Anderson Antunes untuk Forbes (2014), keputusan ini diibaratkan seperti publicity stunt untuk menunjukkan pada dunia bagaimana Brasil telah menjadi negara maju, namun melupakan prinsip-prinsip utama, yaitu memberikan rakyatnya kebebasan sosial, ekonomi, dan politik.

Ongkos yang mesti dikeluarkan pemerintah untuk penyelenggaraan acara sebesar 11,7 milyar dolar. Jumlah uang tersebut kebanyakan berasal dari pajak yang dibayar rakyatnya, sementara fasilitas-fasilitas publik yang lebih penting seperti rumah sakit dan sekolah dibiarkan terbengkalai.

Baru satu tahun berselang, stadion-stadion tersebut menjadi suatu hal yang sia-sia. Jelas demikian karena pemerintah membangun stadion tanpa perencanaan yang matang, yakni bagaimana stadion tersebut akan digunakan setelah Piala Dunia berlalu.

Stadion butuh biaya perawatan. Lucunya, berstatus sebagai salah satu kekuatan sepak bola bukan berarti negara ini mampu merencanakan turnamen sepak bola yang baik.

Beberapa stadion dibangun di lokasi yang jumlah warganya sedikit. Ada pula stadion yang dibangun di kawasan yang tidak mendukung klub sepak bola apa pun. Maka stadion-stadion tersebut menjadi bangkai karena pemerintah daerah pusing bagaimana mengelolanya.

Arena Amazonia, contohnya. Stadion ini dibangun sangat jauh, ratusan mil dari kawasan yang berpopulasi padat. Tidak ada tim sepak bola kasta tertinggi di kawasan ini. Hendak menyelenggarakan pertandingan lokal pun tidak bisa karena mahalnya biaya sewa.

Arena Pantanal, salah satu stadion baru, kini ditutup akibat mahalnya biaya perawatan. Atap stadion tersebut bocor dan ruang ganti pemain digunakan oleh para gelandangan. Herannya, FIFA hanya mensyaratkan agar Brasil membangun delapan stadion baru. Namun pemerintah Brasil bertindak melebihi ketetapan tersebut.

Maracana, stadion ikonik itu, tidak lepas dari permasalahan. Menurut laporan Tim Vickery untuk ESPN Asia (12/1), 6.000 kursi stadion raib, begitu pun komputer dan TV yang ada di dalamnya. Jika Maracana, yang terletak di pusat kota dan merupakan simbol sepak bola, menghadapi masalah sehingga stadion menjadi bangkai, jangan kaget jika stadion-stadion lain bernasib serupa.

Skandal yang belum terungkap, adalah bagaimana stadion-stadion tersebut dibangun dengan uang hasil penggelapan anggaran pemerintah. Brasil yang dikejar-kejar oleh FIFA (agar segera menuntaskan pembangunan stadion) kelabakan, lalu mengambil uang negara yang bersumber dari keringat rakyatnya.

Rakyat kembali menjadi korban

“Saya berharap agar Brasil kalah di babak grup,” kata Maria de Lourdes, 39 tahun, seorang pedagang kaki lima yang hadir dalam aksi penolakan Piala Dunia kepada USA Today (27/5/2014). Ia melanjutkan, “Dengan segala permasalahan yang ada di Brasil, segala permasalahan di Rio, masih banyak orang-orang yang mati karena kelaparan sementara mereka menghamburkan uang demi permainan ini.”

Piala Dunia 2014 mendapat banyak tantangan karena negara seperti menutup mata dengan ketimpangan yang ada. Mereka seperti ingin menegaskan predikat dari Goldman Sachs bahwa mereka telah bertransformasi menjadi negara ‘maju’.

Waktu berlalu, dan terbukti, Silva seorang presiden yang korup sehingga dimakzulkan pada 2010, empat tahun sebelum agenda ‘propagandanya’ dihelat. Silva memanfaatkan sepak bola yang bagi rakyat Brasil sudah seperti agama.

Pun demikian dengan penerusnya, Dilma Rouseff yang dilengserkan senat Brasil pada 12 Mei 2016. Rouseff berasal dari partai yang sama dengan Silva, Partido dos Trabalhadores (Partai Pekerja). Selepas Piala Dunia hingga ia turun dari jabatannya, aksi massa banyak digelar karena skandal suap dan korupsi yang ia perbuat.

Mengapa Piala Dunia begitu menggoda bagi banyak negara? Jawabnya: Ekonomi.

Proyeksi ekonomi paling utama bagi para tuan rumah adalah pariwisata: bagaimana pagelaran ini dapat menjadi daya tarik bagi warga dunia setelah menyaksikan suksesnya penyelenggaraan Piala Dunia. Terutama di negara-negara kawasan selatan (sebuah dikotomi kesenjangan baru yang menggantikan konsep Timur-Barat), Piala Dunia mengeksploitasi eksotisme dan identitas negara mereka kepada para pemirsa, bukan hanya suporter yang datang ke negara mereka.

Malang, di atas lapangan Brasil berduka. Begitu pun di luar lapangan. Tangisan David Luis pasca laga versus Jerman tidak seberapa menyakitkan dibanding orang-orang di luar sana yang tidak memiliki penghasilan sebanyak bek Chelsea tersebut.

Walikota Rio de Jeneiro, Eduardo Paes, bertutur kepada ESPN FC (19 Juni 2015): “Orang-orang Brasil tidak mendapat manfaat dari turnamen ini. Tidak ada warisan untuk mereka. Piala Dunia masih membuat mereka murka. Ada penyesalan mengapa kita sampai bisa menyelenggarakannya.”

Secara ironis, stadion-stadion tersebut disebut “gajah putih”. Binatang ini berwarna abu-abu. Tidak ada gajah yang berwarna putih. Gajah berwarna putih yang disebut orang-orang Brasil adalah kiasan bagi keserakahan para pemimpin, sehingga gajah tersebut menjadi liar dan menghancurkan apa yang ada di sekitarnya: kebahagiaan dan hak-hak rakyat Brasil.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com