Kolom Eropa

Mereka yang Redup Usai Hengkang dari FC Porto

Meskipun merupakan penguasa di Portugal dan juga salah satu kekuatan Eropa di masa klasik, FC Porto sempat meredup karena mereka kalah saing dari dua rival utama mereka Benfica dan Sporting di era 90-an. Mereka seakan muncul kembali ketika berhasil memenangkan Piala UEFA (kini Europa League) dan Liga Champions secara beruntun dalam rentang waktu 12 bulan saja. Jose Mourinho menjadi aktor utama keberhasilan Porto kala itu.

Porto dikenal sebagai salah satu kesebelasan yang berhasil memproduksi banyak bakat-bakat hebat. Bukan hanya bakat domestik Portugal  saja, tetapi juga bakat-bakat yang berasal dari Amerika Selatan. Kedekatan kultural antara Portugal dan negara-negara benua latin tersebut, terutama Brasil, membuat Porto bisa dengan mudah memanen para calon bintang dari sana. Radamel Falcao adalah salah satu bakat terbaik yang dientaskan oleh Porto dan kemudian sukses di klub lain.

Falcao datang dari River Plate ke Porto pada musim 2009/2010. Di musim perdananya di Portugal, El Tigre yang kala itu masih berusia 23 tahun berhasil menyarangkan 25 gol. Sekaligus membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak Liga Portugal musim tersebut. Setelah sukses mengantarkan Porto meraih gelar Europa League pada 2011, Falcao kemudian hijrah ke Atletico Madrid dengan mahar transfer sebesar 40 juta euro.

Di Atleti, ia kembali mempersembahkan gelar juara Europa League. Falcao juga berhasil membawa Atleti menjadi kampiun Copa del Rey pada tahun 2013. Dua musim bermain di Spanyol, Falcao kemudian hijrah ke Prancis untuk bermain di AS Monaco. Kepindahan Falcao dari Atleti ke Monaco melibatkan nilai transfer sebesar 60 juta euro. Sebuah angka yang luar biasa.

Falcao adalah salah satu contoh pemain Porto yang hijrah ke kesebelasan lain dengan transfer besar. Dan juga berhasil sukses di kesebelasan barunya. Namun ternyata ada juga pemain yang hijrah dari Porto dengan transfer besar tapi justru meredup dan tampil tidak sesuai ekspetasi di kesebelasan barunya. Berikut diantaranya:

Jackson Martinez

Romansa antara penyerang Porto yang hijrah ke Atleti berlanjut. Terkesan dengan kinerja dari Falcao, Atleti kemudian mengontrak penyerang asal Kolombia, Jackson Martinez dengan transfer sebesar 25 juta paun. Wajar saja apabila Atleti sampai membayar dengan nilai demikian tinggi untuk Jackson.

Dari tiga musimnya di Portugal, ia berhasil menyarangkan 92 gol dari 132 pertandingan. Ia juga berhasil membawa Porto menjadi kampiun Piala Super Portugal dua tahun beruntun. Ditambah penampilan mengesankannya di Piala Dunia 2014 yang diselenggarkan di Brasil.

Tapi, ketajaman yang Jackson tunjukan di Portugal seakan hilang ketika ia mendarat di tanah Spanyol. Dari 15 laga ia hanya berhasil menyarangkan dua gol. Tidak sampai semusim Jackson berada di Atleti karena ia kemudian hijrah ke Chinese Super League dan mendarat di Guangzhou Evergrande dengan transfer sebesar 31 juta paun.

< Previous
Page 1 / 5