Agar Kamu Sebaiknya Menonton 2. Bundesliga

Sebelum saya mulai, saya tahu apa yang ada di pikiran Anda. Saya sendiri juga berpikir begitu, bertahun-tahun lalu (2014, sih), sebelum Bundeslihaha memberi saya pencerahan:

“Kenapa gue harus ngikutin Bundesliga 2, dan kenapa liganya disebut 2. Bundesliga?”

Pertama, karena suporter. Anda yang bosan melihat Liga Terbaik di Dunia yang penontonnya sepi dan nggak boleh berdiri (apalagi bawa ultras), akan bahagia di sini. Meskipun stadion mereka jarang sold out (kecuali stadionnya Stuttgart, yang baru degradasi musim lalu dan saat ini memuncaki klasemen), penontonnya selalu ramai, dengan koreografi, tifo, dan chants tanpa putus.

Hal ini terjadi karena alasan di atas: bangun atau tidur, raksasa tetaplah raksasa, dan mereka punya ribuan pendukung setia. Klub-klub kecil pun tak mau ketinggalan.

Kedua, persaingan. Juara 2. Bundesliga lebih sulit ditebak daripada juara Eurovision karena kondisi klub-klub yang seringkali tidak konsisten dan/atau melawan ekspektasi. Ya, divisi ini adalah surga bagi penonton netral (seperti saya). Dan artikel ini akan membahas kompetisi di puncak secara terperinci, agar Anda tidak perlu menunggu Matchday 1 musim depan!

Sebelumnya, saya perkenalkan dulu kesebelasan-kesebelasan yang berkompetisi di liga ini:

Banyak nama yang akrab di telinga, ya? Stuttgart, Hannover, Braunschweig, Nuernberg, Karlsruhe, 1860 Munchen, St. Pauli, Duesseldorf, Kaiserslautern, Greuther Fuert.

Saya tidak ngatain Anda (yang setuju) tua, jangan marah. Saya juga tidak ngatain Anda yang baru mengikuti liga Jerman selama 1–3 musim ‘bandwagon’. Buat apa? Karena saya sendiri juga begitu, kok. Kita harus membiasakan dewasa perihal labelling terhadap suporter yang mengikuti liga atau klub Eropa tertentu, walau itu di low-tier sekalipun. Karena gairah menonton bola bebas dicurahkan kemanapun, kan?

Untuk yang belum tahu, hampir semua klub di atas pernah merasakan Bundesliga, atau setidaknya divisi pertama di Jerman Timur. Tetapi, seperti yang saya katakan di atas, saya akan fokus pada yang di atas (bukan Tuhan yang di atas karena ini artikel sepak bola!)

Catatan dan trivia:

  1. Juara pertama dan kedua akan promosi secara otomatis.
  2. Juara ketiga harus ikut play-off dua leg melawan kesebelasan di peringkat ke-16 (ketiga dari bawah) Bundesliga, contohnya 1. FC Nuernberg melawan Eintracht Frankfurt musim lalu.
  3. 3. Aufstieg: promosi, Aufsteiger: klub yang baru promosi (dalam kasus ini, dari 3. Liga: Dynamo Dresden, Erzgebirge Aue, Wuerzburger Kickers)
  4. 4. Abstieg: degradasi, Absteiger: klub yang baru degradasi (dalam kasus ini, dari Bundesliga: VfB Stuttgart dan Hannover 96)

Sudah paham ya? Baik, sekarang kita mulai!

Prediksi versus kenyataan

Hampir setiap musim, para Absteiger diprediksi untuk langsung balik ke Bundesliga, dan tahun ini, Stuttgart dan Hannover tampil sejalan dengan ekspektasi massa.

VfB Stuttgart, pemilik bujet tertinggi di 2. Bundesliga, sangat sibuk di jendela transfer musim panas setelah mass exodus yang dialami setiap klub yang degradasi. ‘Judas’ Timo Werner (RB Leipzig), Martin Harnik (Hannover 96), Antonio Ruediger (AS Roma), Lukas Rupp (Hoffenheim), Serey Die (Basel), and the list goes on. Die Schwaben mendatangkan banyak pemain untuk menambal lubang besar di skuad mereka.

Stuttgart memulai musim 2016/17 dengan Jos Luhukay setelah mendepak pelatih lamanya, Juergen Kramny, yang gagal menyelamatkan mereka dari degradasi. Klub bermaskot buaya ini menang dan kalah secara bergantian selama empat minggu, mendaratkan diri tepat di tengah klasemen, tetapi konflik dengan chairman Jan Schindelmeiser membuatnya mengundurkan diri.

Setelah Olaf Janssen ditunjuk sebagai pelatih interim selama dua pertandingan dan membawa Stuttgart ke peringkat ke-4, VfB merekrut Hannes Wolf, pelatih tim U-19 Dortmund.

Pelatih paling tampan kedua setelah Markus Weinzierl ini memoles Stuttgart menjadi tim yang oke. Meskipun mereka sama-sama kebobolan 22 gol dengan Braunschweig (peringkat 3) dan Union Berlin (peringkat 4), mereka rajin mencetak gol. Siapakah gerangan penyedia gol-gol tersebut?

Jawabannya adalah seorang pendatang baru, Simon Terodde. Mantan penyerang Bochum ini jadi top scorer musim lalu dengan 25 gol dan sejauh ini sudah mencetak 14 dari 35 total gol Stuttgart. Transfer ini mungkin mengingatkan Anda pada situasi Lewandowski, saat penyerang ulung dari klub daerah Ruhr pindah ke klub besar di selatan Jerman.

Sementara itu, Absteiger yang satu lagi, Hannover 96, juru kunci Bundesliga hampir sepanjang musim lalu, cepat pulih dari keterpurukan. Martin Harnik, yang didatangkan dari Stuttgart musim panas 2016, benar-benar membantu Hannover bertahan di sepertiga pertama klasemen dengan 17 kali melesakkan bola ke gawang lawan.

Klub asal Niedersachsen ini bertahan di top three selama delapan minggu-pertandingan terakhir. Highlight-nya? Tentu saja derbi dengan Eintracht Braunschweig! Meskipun hasilnya seri (2-2), pertarungan di lapangan hampir seimbang, dengan banyak kesempatan bagus dan (tentunya) pelanggaran.

Ngomong-ngomong soal Braunschweig, musim lalu, Eintracht mengakhiri musim dengan pertahanan ketiga terbaik di seluruh liga, tapi sayang, mereka hanya di peringkat ke-8, karena attack mereka macet.

Tim yang dijuluki ‘the Lions’ ini hanya bisa mencetak 44 gol, sangat sedikit jika dibandingkan dengan sang juara, Freiburg (75 gol). Dari sepuluh besar 2. Bundesliga, hanya Karlsruher SC (peringkat 7) yang lebih macet (35 gol, ouch).

Musim ini, tim asuhan Torsten Lieberknecht tersebut sangat hemat dalam bursa transfer. Mereka nggak perlu beli banyak-banyak, sih, karena skuad mereka salah satu yang terkuat di 2. Bundesliga, dengan left-back Ken Reichel yang konsisten dan Domi Kumbela yang tembakannya jitu.

Kohesi tim yang baik dan perencanaan matang dari Lieberknecht (yang sudah melatih tim senior Braunschweig sejak 2008 dan baru-baru ini memperpanjang kontraknya sampai 2020) mempertahankan Braunschweig di peringkat pertama dari matchday 3 hingga 14 dan naik dari peringkat kedua pada matchday 16 dan 17.

Selain derbi Niedersachsen melawan Hannover, salah satu pertandingan terbaik Braunschweig adalah ketika mereka membantai teman sepermainan mereka pada musim 2013/14, 1. FC Nuernberg, dengan skor 6-1. Sungguh spektakuler, walau bukan buat Nuernberg, tentunya.

Nuernberg, oh, Nuernberg. Klub yang kalah play-off kontra Frankfurt musim lalu ini digadang-gadang untuk melanjutkan tren positif mereka, terutama dengan ujung tombak setajam Guido Burgstaller. Pelatih yang mereka pilih untuk menggantikan Rene Weiler yang pindah ke Anderlecht agak underwhelming memang, apalagi untuk klub kaya sejarah yang ngebet promosi seperti Nuernberg.

Alois Schwartz, nama sang pelatih anyar, sebelumnya melatih SV Sandhausen, klub yang mungkin belum pernah Anda dengar. SVS, klub dengan bujet terkecil ketiga di seluruh liga, finis di peringkat ke-13 musim itu.

Tapi mereka tidak salah pilih. Walaupun mereka bermain sangat buruk pada awal 2016/17 (bahkan pernah menjadi juru kunci), mereka pelan-pelan naik. Still, sulit bagi klub Franconia ini untuk jadi kandidat kuat untuk kembali ke Bundesliga (apalagi setelah Burgstaller direnggut oleh sang pacar gelap, Schalke 04!)

Siapa lagi klub yang diprediksi akan ikut? Oh, ya, FC St. Pauli. Klub yang identik dengan budaya punk dan aktivisme ini memang malang nasibnya. Dengan tekanan berat untuk promosi setelah finis tepat di bawah ‘der Club’ musim lalu, serta hengkangnya banyak pemain kunci, St. Pauli terus-terusan berkutat di zona degradasi.

Bagaimana dengan Heidenheim dan FC Union?

Oh, Heidenheim. Kisah mereka adalah sebuah dongeng. Tak seindah Darmstadt (atau RB Leipzig), mungkin, tapi benar-benar hebat. Heidenheim, klub dengan keadaan finansial dan suporter yang biasa saja, adalah pejuang sejati.

Di bawah pimpinan sang mantan kapten, Frank Schmidt, mereka merangkak naik dari Regionalliga (IV), 3. Liga, dan akhirnya, pada tahun 2014, mereka berhasil promosi ke 2. Bundesliga bersama dua klub yang saya sebut di atas. Kepercayaan Heidenheim pada Schmidt, distribusi gol yang merata, dan pertahanan yang seperti benteng (kiper mereka clean sheet 10 kali dari 20 pertandingan) membuat klub Swabia ini kandidat promosi yang cukup kuat.

Selanjutnya, Union Berlin. Tim ini memakai jasa tiga pelatih selama musim lalu, but against all odds, mereka finis di peringkat ke-6. Salah satu pelatih tersebut, Sascha Lewandowski, meninggal dunia sebelum musim ini dimulai, mungkin kematiannya memompa Union dengan harapan, motivasi untuk membangun masa depan yang cerah dengan Jens Keller, mantan pelatih Schalke, seorang manajer dengan pengalaman di Liga Champions Eropa.

Ambisius memang, tapi mereka berhasil. Hengkangnya top scorer Bobby Wood ke Hamburger SV tidak menghalangi die Eisernen untuk membobol gawang lawan. Colin Quaner dan Steven Skrzybski sudah mencetak masing-masing tujuh gol.

Prediksi, kenyataan, prediksi, kenyataan. Siapa sangka Dynamo Dresden dan Wuerzburger Kickers bisa bertahan setinggi itu? Keduanya adalah Aufsteiger, dan Wuerzburg sendiri adalah pemenang play-off promosi dari 3. Liga musim lalu, hal yang cukup sulit untuk dilakukan.

Saya punya firasat, walaupun keduanya tidak akan bertemu dengan Bayern Munchen musim depan dan menggoyang Bundesliga seperti cara Tim Kratingdaeng musim ini, mereka akan terus menempel raksasa-raksasa di atas mereka.

Dan kamu yakin belum tertarik menonton 2. Bundesliga setelah saya jelaskan panjang lebar tadi? Keterlaluan betul!

Author: Alicia Altamira (@@freibulous72)
Pecinta SC Freiburg yang berfilosofi ‘Fußball meets fun’ dalam menulis. Kalau tidak sedang ‘menghasut’ pembaca agar melirik klub-klub antah berantah, ia pasti sedang sibuk dengan #Bundeslihaha.