Cinta tanpa Syarat

I fell in love with football as I would later fall in love with women: suddenly, uncritically, giving no thought to the pain it would bring.” – Nick Hornby, “Fever Pitch”, hal. 7 (Penguin Books Limited)

Pernah saya terjebak suatu perdebatan dengan tiga orang teman. Perkara sepak bola. Topiknya adalah tentang kesejatian seorang suporter dalam mendukung suatu kesebelasan.

Suara pertama mengatakan bahwa para penggemar klub-klub yang baru nongol di blantika sepak bola, lantas kebetulan klub kaya, tidak dapat dikatakan sebagai suporter sejati. Para pendukung tim-tim Manchester City, Chelsea, atau PSG tidak layak masuk kategori ini.

Pendapat kedua mengatakan bahwa tak peduli apapun timnya, berprestasi atau medioker, punya tradisi atau tidak, selama klub tersebut merupakan klub Eropa dan bukan klub lokal, maka masuk dalam kategori suporter abal-abal. Penggemar plastik, meminjam istilah orang-orang Inggris.

Suara selanjutnya mengatakan, tidak peduli wujud klub yang didukung, tapi selama si penggemar tahu betul riwayat, tradisi, serta filosofi klubnya, maka orang seperti ini boleh masuk dalam kategori “suporter sejati”.

Ini seharusnya tidak perlu dibikin repot. Mengapa? Karena saya punya keyakinan bahwa saat seseorang mendukung satu tim, pemicunya begitu kompleks.

Yang menarik, betapa jebloknya prestasi klub yang didukung, Anda pasti jarang mendengar penggemar tersebut minggat menjadi pendukung klub lain.

Bagaimana halnya jika orang tersebut memiliki klub favorit di berbagai liga? Ini lain soal. Seorang suporter Manchester United bisa saja turut menggandrungi Atletico Madrid, karena keduanya jarang bertemu di partai-partai kompetitif. Seandainya bertemu pun (dan ini kemungkinannya sangat kecil), ia pasti dengan mudah memilih tim yang pertama kali ia dukung.

Kerasnya suatu liga disertai pula dengan percekcokkan antarpemain, atau adu mulut antarpelatih. Kita bisa ikut-ikutan marah saat melihat suporter Liverpool mengacungkan kelima jarinya sebagai tanda, “kamilah raja Eropa!”

Padahal kita mengikuti Liga Inggris, misalnya, setelah 2005, periode terakhir Liverpool berjaya di Eropa. Sepak bola memberikan hal-hal sentimentil nan aneh seperti ini, memang. Maka menjawab pertanyaan ‘apa serunya, sih, nonton bola?’ adalah sesuatu yang sulit.

Orang itu tidak merasakan apa yang kita rasakan.

Orang itu tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi pendukung Tottenham, yang sebagus apapun tim yang mereka punya, selalu berada di dalam bayang-bayang Arsenal.

Orang itu tidak tahu rasanya jadi pendukung AC Milan, yang belakangan mengalami periode jatuh-bangun, padahal sering menjadi raksasa sepak bola di masa silam.

Orang-orang itu tidak tahu.

Sehubungan dengan Hari Valentine, saya ingin berpendapat: cinta terhadap sesorang tiada berbanding dengan cinta terhadap klub sepak bola.

Cinta tanpa syarat

Bisakah kita menyalahkan seorang bocah yang lalu gandrung pada Chelsea, karena tidak sengaja menonton tim kosmopolitannya era ’90-an? Bocah itu tidak tahu konsep Liga Inggris. Belum mengerti peraturan sepak bola. Tetapi daya tarik Gianfranco Zola, Gianlucca Vialli, serta keterbatasan informasi, menyihirnya untuk kemudian menobatkan diri sebagai pendukung The Blues.

Apakah bocah itu akan menyangka jika klub pujaannya akan menjadi salah satu klub yang paling dibenci di Inggris karena investasi Roman Abramovich? Tentu saja tidak. Aneh kiranya jika kemudian kita menyalahkan pilihan sang bocah.

Biasanya, cibiran terhadap sang bocah datang dari pendukung klub-klub ‘bertradisi’ seperti suporter United dan Arsenal. Pertanyaan perlu dilempar balik ke mereka: kok bisa-bisanya merasa yang paling sejati sementara mereka mulai mendukung di saat kedua tim itu berjaya?

Begitu pula kepada kaum puritan yang mendakwa pecinta sepak bola Eropa. Bagaimana penggila bola tidak silau terhadap sepak bola Barat, sedangkan kompetisi nasional selalu berubah format? Hari ini bernama ‘A’, musim selanjutnya berganti nama menjadi ‘XYZ’? Belum lagi kalau kita pertimbangkan nilai-nilai seperti daya tarik, kemasan kompetisi, serta profesionalitas pelaksana liga.

Jika berbagai prasangka di atas telah kita buang ke keranjang sampah, kita akan sadar bahwa kita tidak bisa menghalau cinta seseorang terhadap suatu klub. Anthony Sutton, yang seorang die-hard Arsenal, Paul Cumming si penggila Liverpool, keduanya memiliki kesamaan: mencintai sepak bola Indonesia dengan cara yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya.

Dan tidak seperti pasangan (entah pacar atau suami/istri), klub sepak bola tidak pernah menuntut apa-apa dari kita. Ya paling tidak sejumlah uang jika Anda termasuk golongan yang merasa kurang lega jika tidak menonton di stadion. Tetapi, sudah, itu saja. Perkara Anda mau beli kaos atau merchandise asli, tahu betul seluk-beluk klub, mereka tidak pernah mempermasalahkannya.

Klub telah menjadi suatu entitas yang berdiri melintasi sekat geografi (ruang) dan era (waktu). Saya bisa tiba-tiba mbrebes mili jika mendengar lagu “How Can We Hang On To a Dream?” dari Tim Hardin, hanya karena lagu itu menjadi salah satu soundtrack film favorit para Gooner, Fever Pitch (1997).

 Seorang penggemar Liverpool yang beruntung bisa ke Anfield, akan sama-sama dengan lantang menyanyikan “You’ll Never Walk Alone”. Gemuruh di dada, pejaman mata, serta ingatan-ingatan sedih lantas berkelebat, namun harapan selalu kuat sekeras kepalan tangan yang mengacung di udara.

Saya sependapat dengan sosiolog Perancis Pierre Bourdieu yang mengatakan bahwa pilihan kita menikahi seseorang itu dipengaruhi oleh aspirasi pribadi yang kita punya. Kita sering melihat bagaimana si kaya akan menikahi si kaya. Si pintar akan mempersunting pasangan yang secara intelektual sederajat.

Selain itu, pernikahan adalah sebuah konsep yang melibatkan banyak pihak. Suatu kontrak, dalam kacamata tertentu. Suatu pasangan bisa terus langgeng hanya karena mereka terlalu takut untuk bercerai, atau bermasalah dengan keluarga pasangannya.

Tidak usah Anda pungkiri. Buktinya ada di sekitar Anda. Cek saja.

Merawat (atau dirawat?) cinta

Di suatu kafe di Yogyakarta, saya pernah memeluk salah satu sahabat terbaik saya (yang juga laki-laki) hanya karena perkara yang mungkin menurut orang sepele: Arsenal secara dramatis berhasil memastikan tiket Liga Champions, sekaligus kembali membuat tetangga London Utara mengakhiri musim di belakang Arsenal.

Di laga melawan Newcastle musim 2012/13 itu, jika seri atau kalah dan Spurs menang, Arsenal tidak hanya disalip Spurs dan membatalkan ‘perayaan’ St. Totteringham’s Day, tapi juga tidak lolos ke Liga Champions.

Sebaliknya, pendukung rival pun sam-sama berdebar. Silakan cari rekamannya di kanal Youtube, bagaimana pendukung Spurs di stadion mereka begitu kegirangan karena mendapat informasi yang salah (bahwa laga Arsenal melawan Newcastle berakhir 1-1, padahal 1-0).

Bagi pendukung lain, mungkin St. Totteringham’s Day adalah sebatas pelipur lara bagi Arsenal. Hari itu dirayakan setiap musim, saat Arsenal berhasil memastikan diri tidak dapat lagi dikejar Tottenham Hotspur. Rekor tersebut terus bergulir hingga musim kemarin, berapa pun pemain yang dibeli Tottenham di tiap musimnya, siapa pun pelatihnya, Arsenal selalu berada di atas mereka di akhir liga.

Itu.

Penting.

Di ujung acara acara nonbar itu, ketika kami sama-sama berduit cekak (maklum, mahasiswa ngekos), saya yang kebetulan menyimpan sisa uang bertanya kepadanya, “Begini doang? Bir, lah. Wes, aku sing mbayari.” Dan entah kenapa, momen satu-botol-berdua-yang-sebenarnya-terlalu-sedikit itu terlalu berkesan bagi saya.

Padahal belum tentu Arsenal bisa menjuarai Liga Champions di musim berikutnya. Kejayaan atas Tottenham terlalu semu karena mereka terlalu medioker.

Sejak musim itu, banyak perubahan terjadi di kancah sepak bola. Namun Arsenal tidak ke mana-mana. Trofi Liga Primer tak kunjung menghampiri. Begitu pula Liverpool, dua tim Milan, dan (belakangan ini) United.

Tetapi, bung dan nona, mendukung klub sepak bola adalah sebuah ritus cinta tanpa syarat: unconditional love.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com