Politik Dinasti di Dunia Olahraga

Dalam dunia politik, kekuasaan adalah segala-galanya. Berbekal kekuasaan yang dipunyainya, manusia bisa berbuat apa saja. Menzalimi orang-orang tak berdosa, mendahulukan kepentingan kelompok serta memuaskan isi perut sendiri adalah sepenggal perkara yang umum terjadi.

Hal ini juga yang kemudian merangsang manusia untuk membangun sebuah dinasti politik. Tujuannya jelas, apa yang telah diraih harus terus dilanjutkan agar selalu lestari. Supaya hal-hal yang menguntungkan tak lenyap seketika.

Namun disisi lain, bagi mereka yang tidak suka atau dirugikan, pasti akan mencerca, mengutuk sampai melawan. Sebuah keniscayaan yang abadi dan tak bisa disangkal tentang politik.

Dalam kaidah dan bidang yang berbeda, tepatnya olahraga, sebuah dinasti pun bisa dibangun demi melanggengkan kekuasaan (baca : meraih titel juara). Sebab berkompetisi bukan urusan sepele yang enteng untuk dilakukan. Banyak hal yang mesti dipersiapkan terlebih dahulu supaya cita-cita yang ingin diraih dapat terwujud.

Tak berbeda jauh dengan yang apa yang muncul di dunia politik, membangun sebuah dinasti di bidang olahraga jelas membutuhkan satu tokoh kunci yang cakap di berbagai level. Karena ini adalah salah satu syarat guna memenuhi lahirnya sebuah dinasti yang ingin dibangun.

Dan realitanya, tokoh-tokoh dengan kemampuan tersebut memang benar adanya. Kebetulan, ada tiga figur luar biasa dengan profesi pelatih kepala yang telah membuktikan tim-tim olahraga yang mempekerjakan mereka selalu bermandikan kesuksesan dan gelar.

Harus dipahami memang, jika kedatangan mereka menuju masing-masing entitas tak sekadar untuk melatih. Kesuksesan yang telah berhasil diraih menunjukkan bahwa mereka berhasil membangun fondasi yang kokoh dan menyusun suatu sistem yang berkesinambungan.

Skuat bisa saja berubah lantaran individu-individu yang mengisinya datang dan pergi. Namun kejadian itu takkan sedikitpun mengganggu stabilitas tim karena fondasi dan sistem yang dibuat memang tepat guna. Dan berikut adalah sosok-sosok yang menurut hemat saya sukses membangun dinasti di olahraga:

Sir Alex Ferguson dan Manchester United

Manajer dengan sapaan akrab Fergie ini datang ketika kondisi klub berjuluk The Red Devils ini ada di posisi yang kritis. Pemain-pemain yang dimiliki United dikenal gemar mabuk dan punya kondisi fisik yang kacau. Namun berkat pendekatan yang benar dan tegas, pelan tapi pasti Fergie berhasil membenahi masalah ini.

Perlahan, United yang tak kompetitif selama bertahun-tahun mulai sanggup bersaing lagi dengan kesebelasan-kesebelasan lain semisal Everton dan Liverpool meski tetap paceklik titel juara di tahun awal Fergie di Manchester.

Sampai akhirnya, bermodalkan kerja keras, ketekunan dan kepercayaan penuh pihak manajemen The Red Devils bahwa Fergie tengah membangun salah satu dinasti sepak bola terbaik di tanah Britania, apa yang didambakan pun tercapai satu per satu. Sebuah hegemon besar lahir di Inggris.

Bersama Fergie, United mengukuhkan status mereka sebagai klub terbaik di Inggris, Eropa dan bahkan dunia usai mengoleksi total 38 gelar sejak Fergie menjadi pelatih United dari tahun 1986 sampai turun tahta pada 2013 lalu.

Tak sampai disitu, United dan Fergie pun berhasil melahirkan sekumpulan pemain-pemain muda berbakat dalam wujud Class of 92 yang kemudian menjadi pilar-pilar andalan Fergie selama membesut The Red Devils.

Di sepanjang sejarah sepak bola Inggris, tak ada klub yang sanggup melakukan hal serupa The Red Devils. Kolaborasi Fergie-United berhasil membuat klub-klub Inggris lainnya tampak begitu inferior.

Gregg Popovich dan San Antonio Spurs

Namanya mulai dikenal publik basket National Basket Association (NBA) setelah menjadi salah satu asisten pelatih Larry Brown di penghujung tahun 1980-an. Kebetulan, saat itu tim yang dipegang oleh Brown adalah San Antonio Spurs.

Sempat hijrah ke Golden State Warriors pada tahun 1992 untuk menjadi asisten dari pelatih kenamaan lain, Don Nelson, sosok yang akrab dipanggil Pop ini lantas mudik ke San Antonio per 1994. Kala itu, masih dengan jabatan sebagai general manager.

Baru di tahun 1996, Pop yang tak puas pada penampilan Spurs memecat pelatih kepala Bob Hill untuk kemudian mengangkat dirinya sendiri menjadi pelatih Spurs. Ya, secara surealis, Popovich menugaskan dirinya sendiri untuk melatih skuat Spurs.

Tugas ganda yang diemban Pop, nyatanya sama sekali tidak menyulitkan dirinya. Pelan-pelan, dengan ide-ide cemerlang dan pemahaman apiknya soal taktik membuat Spurs menjadi salah satu tim yang disegani.

Bersama David Robinson lalu kemudian, Tim Duncan, Pop membentuk sebuah tim yang tidak selalu bermain cantik lewat offense yang mengerikan, namun lebih mementingkan defense yang kuat, efektif dan efisien dalam bermain. Pop benar-benar sukses menjadikan Spurs sebagai tim yang menakutkan dan selalu jadi kandidat juara.

Hingga hari ini, satu-satunya musim dimana Pop gagal mengantar klub yang diasuhnya ini ke babak play-off hanyalah di musim 1996/1997. Setelah itu, Spurs selalu berhasil mengunci satu tempat di post season.

Selama dua dekade melatih Spurs, Pop mampu menghadiahi tim yang kini dimotori oleh Kawhi Leonard dan Tony Parker ini lima trofi juara NBA. Masing-masing di musim 1998/1999, 2002/2003, 2004/2005, 2006/2007 dan 2013/2014.

Catatan ini menyamai beberapa figur pelatih legendaris laiknya Red Auerbach, Phil Jackson, John Kundla dan Pat Riley. Lebih dari itu, beberapa hari yang lalu Pop juga berhasil mencatat sebuah rekor anyar bagi dirinya dan Spurs. Dan mengingat lelaki berusia 68 tahun ini belum menunjukkan sinyal akan pensiun, maka rekor ini pasti akan terus berlanjut.

Bill Belichick dan New England Patriots

Sebuah kontroversi merebak sesaat usai Bill Belichick diangkat menjadi pelatih kepala New England Patriots pada tahun 2000 yang lalu. Pasalnya, beberapa saat sebelumnya, Belichick telah didapuk menjadi pelatih kepala yang baru bagi rival Patriots, New York Jets.

Namun keputusan Belichick hijrah ke Foxborough, kota dimana Patriots bermarkas, sungguh bukan keputusan yang salah. Robert Kraft, pemilik Patriots tak sekadar menjadikan Belichick sebagai pelatih, namun juga jabatan sebagai General Manager.

Hal ini membuat pria kelahiran Nashville, 64 tahun silam ini memiliki kontrol penuh terhadap skuat dan manajemen tim.

Dibantu oleh quarterback muda yang kemudian menjadi andalannya hingga kini, Tom Brady, Belichick tak butuh waktu lama buat mengantar Patriots meraih titel juara National Football League (NFL) untuk kali pertama sepanjang sejarah tim pada tahun 2001 setelah membungkam St. Louis Rams 20-17 di Super Bowl XXXVI.

Usai meraih gelar pembuka itu, Patriots secara fantastis sanggup menggondol empat titel lagi dengan yang terbaru direngkuh pada Senin (6/2) waktu Indonesia kemarin usai melakukan comeback luar biasa dan menaklukkan Atlanta Falcons dengan skor 34-28 via overtime di Super Bowl LI.

Keberhasilan tersebut bahkan sukses melanggengkan status Belichick dan Brady sebagai duo pelatih kepala dan quarterback dengan gelar terbanyak, lima kali.

Bersama Belichick, Patriots menembus babak playoff selama empat belas kali dari tujuh belas musim pamungkas. Sebuah rekor yang terbilang sangat apik. Belichick sendiri sampai musim ini punya koleksi total menang kalah 201-71 bagi Patriots di musim reguler. Sebuah pencapaian yang bahkan membuatnya unggul jumlah kemenangan sebanyak tiga kali lipat dari pelatih Patriots era 1960-an, Mike Holovak.

Mengingat Belichick masih memiliki kontrak dengan Patriots, bukan tak mungkin di masa yang akan datang sang pelatih akan menghadirkan gelar juara keenam, ketujuh dan seterusnya.

***

Dominasi yang ditunjukkan ketiga sosok tersebut bersama tim yang mereka asuh, menghasilkan banyak sekali pujian dari publik. Namun disisi lain, hal itu juga melahirkan kebencian dari mereka-mereka yang saban waktu selalu ditaklukkan.

Satu yang pasti, baik Fergie, Pop dan Belichick telah membuktikan bahwa sebuah dinasti juga bisa dibangun di bidang olahraga.

Mereka membangun tim dari nol dan membentuknya menjadi sebuah hegemon tunggal. Bedanya, Fergie telah turun dari takhta kekuasaannya, dan Manchester United limbung dibuatnya. Satu hal yang belum dialami San Antonio Spurs dan New England Patriots.

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional.