Kolom

Jalan Terjal Karier Marco Reus

Adalah menyakitkan tiap mendapati fakta seorang pemain jempolan yang akrab dengan cedera. Alih-alih mengeluarkan potensi yang ada, para pemain pesakitan tersebut justru lebih sering menghuni ruang medis ketimbang di atas rumput.

Ledley King, Pierluigi Casiraghi, Owen Hargreaves, hingga Marco van Basten adalah nama-nama yang akhirnya harus pensiun lebih cepat akibat didera cedera hebat atau berkepanjangan.

Di masa kini, saat proteksi terhadap pemain lebih ketat, hantu cedera masih mengintai para pemain. Jack Wilshere adalah salah satu contoh terkemuka. Digadang-gadang akan membawa Inggris menuju kejayaan, dinilai sebagai penerus Paul Gascoigne, karier Wilshere jalan di tempat akibat cedera engkel dan lutut yang menjadi kawan karibnya selain Benik Afobe dan Emmanuel Frimpong.

Di Jerman, salah satu pemain yang mengalami nasib serupa adalah Marco Reus, alumnus akademi Borussia Dortmund yang mencuat kala membela Borussia Mönchengladbach.

Berada di skuat yang diisi nama-nama menarik seperti Marc-André ter Stegen, Dante dan Roman Neustädter, serta diasuh oleh juru taktik bertangan dingin, Lucien Favre, Reus menjadi tumpuan tim di musim 2011/2012 saat mereka mampu mengakhiri liga di posisi keempat.

Namanya dielu-elukan karena ia menjadi pencetak gol terbanyak klub berjuluk Die Fohlen musim tersebut dengan 19 golnya. Didatangkan dari tim antah berantah Rot Weiss Ahlen, Reus memukau publik Mönchengladbach di umur yang masih menginjak 22 tahun.

Dengan postur tubuh cukup tinggi, Reus menguasai teknik kontrol bola jempolan, plus kemampuan bergerak cepat. Ia pun bisa diposisikan di berbagai pos sektor ofensif, sehingga memanjakan pelatih manapun.

2011/2012 adalah musim terakhirnya membela Gladbach, lalu menerima pinangan dari Borussia Dortmund, klub tempat ia menimba ilmu semasa bocah. Di Dortmund-lah permainannya semakin memikat, apalagi ia berduet dengan Mario Götze, bocah ajaib lain yang juga didikan akademi klub dan kelak menjadi sahabat karibnya.

Dengan Götze di posisi gelandang serang dan Reus beroperasi di sayap kiri, keduanya bersinergi dengan dua pemain lain di lini serang, Robert Lewandowski dan Jakub “Kuba” Błaszczykowski. Duet belia ini begitu dikagumi pencinta sepak bola Jerman, sampai-sampai legenda Jerman, Franz Beckenbauer turut memberikan pujian.

Meski di musim perdananya (2012/2013) ia tak membawa Dortmund meraih satu trofi pun, ia membawa Dortmund meraih posisi runner-up Bundesliga dan Liga Champions. Di kedua ajang tersebut, Dortmund takluk di tangan musuh yang sama, Bayern München.

Kekalahan kembali ditelan Dortmund karena untuk dua musim selanjutnya, Götze dan Lewandowski dibajak München. Klub kuning-hitam itu pun tak bisa mengejar dominasi FC Hollywood.

Kehilangan rekan setim yang sehati menjadi batu sandungan pertama. Selanjutnya adalah batu yang membuat jalan Reus begitu terjal dalam mengarungi dunia sepak bola. Batu tersebut adalah riwayat cedera.

Dengan permainan memukau yang secara konsisten ia tampilkan, Reus bisa dipastikan mendapat satu tempat di tim nasional Jerman. Untuk Piala Dunia Brasil 2014, Die Mannschaft di atas kertas akan semakin menakutkan dengan adanya nama Reus.

Pelatih Jerman, Joachim Löw, memiliki proyeksi untuk bermain tanpa penyerang tengah murni, dengan format tiga pemain muda: Reus, Götze, dan gelandang Arsenal yang kala itu masih membela Real Madrid, Mesut Özil.

Sungguh malang, Reus terpaksa dicoret Löw karena cedera. Ia memperolehnya di pertandingan kurang penting, laga persiapan melawan Armenia. 2014 menjadi tahun yang berat karena Reus didera cedera hebat sebanyak tiga kali, yang ia alami di bulan Juni, September, dan November.

Sang kawan, Götze, akhirnya menjadi bintang tim berkat gol kemenangan yang ia ciptakan di final melawan Argentina. Götze tak melupakan sang kawan. Ia memamerkan kaos Reus selepas pertandingan. Götze juga melakukan hal serupa saat tim Jerman melakukan pawai kemenangan di negaranya.

Klub-klub Eropa pun tergiur. Liverpool menjadi nama yang sering dikait-kaitkan akan memboyongnya. Namun, pemain yang disponsori Puma ini bersetia bersama Dortmund, lalu menemukan sosok pengganti Lewandowski dalam diri Pierre-Emerick Aubameyang.

Masih dilatih Jürgen Klopp, Reus tidak memiliki alasan untuk berganti tuan. Lagipula Dortmund adalah tanah tempat ia lahir. Dulu, waktu masih bocah, bersama Kevin Grosskreutz, Reus menjadi satu dari puluhan ribu suporter Die Borussen yang menghuni tribun selatan. Darahnya berwarna kuning-hitam.

Kemampuan bermain yang baik, kesetiaan, dan nasib malang itu membuatnya menjadi figur penting di Dortmund. Apalagi mereka kehilangan Sebastian Kehl yang pensiun. Reus menjadi begitu populer di Asia. Menurut majalah Kicker, seragam Dortmund bernomor 11-nya Reus, menjadi best seller di Asia.

Padahal, sebelum memenangi DFB-Pokal musim ini, Reus belum pernah mempersembahkan satu trofi pun bagi Dortmund. Kepopuleran Reus membuatnya terpilih sebagai pemain yang dipajang di sampul gim FIFA 2017.

Seperti yang dilansir ESPN FC Asia (21/7/2016), Reus menyingkirkan James Rodriguez, Anthony Martial, dan Eden Hazard di voting yang melibatkan lebih dari tiga juta suara tersebut.

Kapten Dortmund ini memang pribadi yang dicintai. Para pencintanya kembali bersedih saat Reus kembali menderita cedera, di final DFB-Pokal melawan Eintracht Frankfurt.

Jalan Reus akan semakin terjal. Dortmund baru saja memecat Thomas Tuchel dari kursi pelatih. Sobat kentalnya, Götze, menderita penyakit yang menyerang metabolisme otot dan belum diketahui kapan kembali merumput. Musim depan, kemungkinan Reus akan kembali merasakan kehilangan karena Aubameyang semakin gencar diberitakan merapat ke Paris Saint-Germain.

Rentetan nasib sial belum sepenuhnya menjegal nasib Reus. Jika situasi di Dortmund membaik dan pulih dari cedera, ia bisa menapaki jalan yang sama seperti Robin van Persie. Van Persie menjadi mesin gol menakutkan setelah kariernya melulu dihantui cedera.

Gute besserung, Marco Reus!

Author: Fajar Martha (@fjrmrt)
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com