Nasional Bola

Kemegahan Stadion Batakan yang Membebani Persiba Balikpapan

Dalam serial Game of Thrones season kelima, Danaerys Targaryen berhasil menjadi penguasa kota-kota nun jauh dari pusat kekuasaan di King’s Landing. Dengan semangat membebaskan rakyat dari belenggu perbudakan, ratu berjuluk Khaleesi ini akhirnya duduk di singgasana, sambil mengumpulkan kekuatan guna merebut kekuasaan yang sedang dipimpin trah Lannister.

Sial, kebebasan yang ia janjikan menuai resistensi justru dari mereka yang ia bebaskan. Mereka merasa perbudakan sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Di suatu sesi curhat bersama Mamah, seorang mantan budak mengeluh bahwa dirinya yang telah renta tak bisa menjual kemampuan di pasar tenaga kerja. Meski dibelenggu, dulu ia bekerja sebagai guru pribadi anak-anak majikannya, dan mereka tak memandangnya sebagai budak, melainkan guru yang patut dihormati.

Pusing Khaleesi tak berhenti sampai di situ. Seorang budak yang telah ia angkat menjadi asistennya berkata bahwa keputusan Khaleesi menghapus kompetisi adu nyawa adalah hal yang keliru. Kompetisi ini mempertarungkan para hamba di medan tempur, kemenangan hanya bisa diraih jika seorang peserta tidak mati. Sang penasihat berkata bahwa segala gejolak yang ada bisa diredam bila Danaerys kembali membuka medan tempur tersebut, pit. 

Di tengah-tengah rumitnya sengkarut politik, rakyat membutuhkan pelarian. Di dunia nyata, tepatnya Indonesia, Bung Karno memanfaatkan olahraga sebagai sarana menumbuhkan jati diri bangsa. Bung Besar menggagas Ganefo, olimpiadenya negara-negara non-blok. Ia pun membangun Senayan, yang disebut para pengritiknya sebagai proyek mercusuar.

Pola yang sama masih terjadi sampai saat ini. Andai saja tidak ada tim yang bernama PS TNI, andai saja Persija Jakarta memiliki stadion, Stadion Patriot di Bekasi niscaya menjadi suatu kemubaziran. Ia berdiri megah, namun pemerintah daerah kelabakan mempertahankannya karena tidak ada tim yang berniat menjadikan stadion tersebut sebagai kandang.

Persiba Balikpapan sedang kepayahan di Go-Jek Traveloka (GT) Liga 1 2017, karena mereka berada di posisi paling bawah klasemen saat ini. Ini seperti mengikuti nasib murung mereka yang lain: stadion mereka yang luar biasa megah itu, Stadion Batakan, perlu sedikit diperbaiki sehingga terpaksa menggunakan Stadion Gajayana di Malang.

Dibangun sejak 2010, Batakan berada di sebuah kompleks olahraga terpadu yang juga menyediakan lapangan tenis, futsal, lintasan atletik, kolam renang, dan masih banyak lagi. Kompleks ini dibangun di lahan seluas 18 hektar yang pengerjaannya dilakukan PT. Waskita Karya.

Saat baru berdiri, banyak pihak yang menyebut kemegahannya setara dengan Emirates Stadium kepunyaan Arsenal. Secara sekilas pun mata kita akan mengamininya. Untuk standar Indonesia, stadion tersebut begitu menjanjikan. Betapa bahagianya klub yang bisa memanfaatkan stadion ini, pikir kita.

Namun nasib berkehendak lain. Kandang yang begitu jauh membuat Beruang Madu tak bisa bermain dengan dukungan suporternya. Dari sisi finansial, tentu juga berpengaruh. Laga Persiba di Gajayana bisa dipastikan akan sepi, sehingga pendapatan dari tiket pertandingan tidak optimal.

Semasa menunggu proyek ini benar-benar selesai, liga telah terlanjur dimulai. Nahas, setelah dirasa sudah cukup, PT. LIB (Liga Indonesia Baru) mengatakan bahwa stadion ini belum layak untuk digunakan Persiba.

Seperti yang dilansir Tribunnews Kaltim (16/5), Persiba dan segenap pencintanya masih harus bersabar karena tim verifikasi menilai stadion ini belum layak pakai. “Akses untuk masuk ke stadion tadi saya lihat belum selesai. Karena itu sangat penting untuk kemudahan tim tamu dan tuan rumah untuk masuk menuju stadion. Selain itu parkir yang tersedia juga belum selesai, karena lahan parkir yang ada tidak cukup untuk kapasitas penonton 46 ribu,” kata Somad, wakil dari PT LIB.

Persiba sebenarnya telah mencoba cara selain mengalihkan kandang ke Malang. Mereka mencoba meminjam Stadion Parikesit kepunyaan Pertamina, namun sayang, sang pemilik lebih berniat untuk memperluas kilang minyak. Stadion itu akan dialihfungsikan menjadi bengkel dan gudang.

Agaknya, persoalan status sebagai ‘tim musafir’ ini turut memengaruhi performa mereka di GT Liga 1. Dari enam laga yang telah berjalan, Marlon da Silva dan kawan-kawan hanya mampu meraup satu poin, dari hasil seri melawan PS TNI. Di lima pertandingan sisa, mereka selalu kalah dengan total kebobolan 9 gol.

Keputusan tim verifikasi PT. LIB tentu harus mereka patuhi. Mereka harus menyelesaikan tuntutan tersebut agar Batakan tak terlalu lama menganggur. Klub yang berdiri tahun 1950 ini harus menggantungkan nasib kepada pemerintah, karena proyek tersebut merupakan proyek mereka. Lagi pula, proyek semegah itu tentu tidak bisa diselesaikan klub sendirian. Membangun stadion dengan uang kas sendiri bukanlah suatu rencana yang berani dicanangkan klub-klub nasional.

Setelah menggelar Piala Dunia pada 2014 lalu, pemerintah Brasil kewalahan mengurus stadion-stadion yang mereka bangun atau pugar. Kemegahan stadion ternyata hanya berlangsung sesaat karena selepas Piala Dunia, mereka kelabakan mengurus biaya perawatan stadion-stadion tersebut.

Danaerys, seperti pemerintah Brasil, memandang kemegahan ini bisa menyenangkan dan menyejahterakan rakyat. Setelah gelanggang pit rampung dan menjadi arena adu nyawa, ternyata itu hanyalah plot dari para pemberontak untuk mengudeta kekuasaan Danaerys. Keturunan terakhir trah Targaryen ini seperti membangun istana pasir yang seolah-olah megah, tetapi begitu mudah hancur.

Tentu bayangan di atas harus kita singkirkan. Semoga manajemen Persiba dan pemerintah daerah mampu duduk bersama dan mengupayakan solusi dan langkah terbaik.

Author: Fajar Martha (@fjrmrt)
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com