Cerita Nostalgia

Rochy Putiray, Salah Satu Berlian Terbaik dari Maluku

Mari mundur sejenak untuk mengenal lebih dekat salah satu mutiara terbaik dari Maluku ini. Ia lahir di Ambon, Maluku 50 tahun yang lalu, Rochi memulai karier sepak bolanya justru di pulau Jawa. Karier profesionalnya ia mulai dengan membela klub kota Bengawan, Arseto Solo. Bersama tim yang dimiliki Keluarga Cendana inilah Rochy tampil brilian.

Sebelas tahun bersama tim yang bermarkas di stadion Sriwedari itu, Rochi bermain sebanyak 219 pertandingan mencetak 180 gol. Puncak karier Rochy bersama Arseto Solo terjadi kala tim kepunyaan Sigit Harjoyudanto ini menjadi juara Galatama tahun 1992.

Sayang, pada 1998 Arseto Solo membubarkan diri akibat dampak dari Reformasi Republik Indonesia yang membuat sosok nyentrik ini harus meninggalkan kota Solo.

Setelah memutuskan bergabung dengan klub ibu kota, Persija Jakarta, pada tahun 2000, Rochy menerima pinangan dari klub Hong Kong Instant-Dict FC. Di sanalah ia mulai digandrungi warga Hong Kong karena bersama tim tersebut ia mampu membawa tim tersebut runner-up Liga Hong Kong dan menjadikan dirinya topskor di musim tersebut dengan 20 gol.

Selanjutnya, penyerang mungil ini bergabung klub Hong Kong lainnya, Happy Valley. Sayang, walau mampu membawa finis di posisi kedua, secara individu karier Rochi bersama tim tersebut tak begitu mulus yang membuatnya harus pulang ke Indonesia bersama PSM Makassar.

Namun, penampilan Rochy bersama PSM juga tak kunjung membaik yang membuat namanya mulai tenggelam.

Setelah kegagalannya bersama Tim Juku Eja, Rochy memutuskan kembali ke Hong Kong, bermain bersama South China sebelum memutuskan untuk bergabung dengan tim papan atas Liga Hong Kong, Kitchee SC. Di usia yang sudah senior, Rochy membuktikan bahwa dirinya belum usai. Bersama Kitchee SC lah kariernya menapaki titik tertinggi dalam karier sepak bolanya.

Bersama tim inilah cerita Rochy membobol gawang AC Milan bermula dan menjadi dongeng yang selalu diceritakan banyak orang di Indonesia, terlebih Maluku tanah kelahirannya.  Dua tahun bersama Kitchee SC ia lalui, The Bluewaves bahkan menjadi klub terakhir asal Hong Kong yang dibela olehnya. Bersama Kitchee ia mampu mencetak 15 gol dari 25 pertandingan yang ia jalani.

Rochy sempat membela PSPS Pekanbaru sebelum menuntaskan karier fenomenalnya bersama PSS Sleman pada 2007 di usia 37 tahun. Bersama tim kebanggan warga Sleman ini Rochy memutuskan gantung sepatu.

Di level timnas pun, penyerang mungil ini juga memiliki kisah yang tak kalah hebatnya. Menjadi bagian peraih emas SEA Games 1991 sekaligus emas terakhir Indonesia di ajang tersebut, bersama Sang Garuda, Rochi tampil di 41 pertandingan dengan mencetak 17 gol.

Kisah Rochy Putiray menandakan bahwa Indonesia sebenarnya tak pernah kehilangan bakat, terlebih Maluku. Berbagai nama mulai dari pemain bermarga Lestaluhu seperti Ramdani Lestaluhu dan Abduh Lestaluhu, Manahati Lestusen, Rifad Marasabessy dan lain-lain. Hampir semuanya berani merantau ke berbagai klub di Indonesia, meski belum ada yang sejauh Rochy.

Rochy membuktikan bahwa potensi pemain asal Timur Indonesia, terutama Maluku, tak boleh dipandang sebelah mata. Hingga saat ini, tak berlebihan bila kita menyebut RochyPutiray sebagai salah satu berlian terbaik dari Maluku.