Kolom

Jurus LaLiga Memberantas Pembajakan Audiovisual

Upaya signifikan untuk melawan pembajakan audiovisual telah dilakukan oleh LaLiga selama lima tahun terakhir. Departemen Perlindungan Teknologi untuk Konten dari LaLiga bekerja secara nasional dan internasional untuk mengembagkan berbagai inovasi digital terbaru dalam rangka memberantas pembajakan audiovisual dalam berbagai bentuk.

LaLiga berniat menjadi liga terdepan untuk melawan pembajakan, maka memerlukan peralatan dan layanan digital yang mampu membantu LaLiga dan para pemegang hak lainnya dalam mendeteksi, menganalisis, dan melaporkan tindakan pembajakan audiovisual secara ilegal.

Industri sepak bola profesional Spanyol sendiri telah menciptakan sekitar 185.000 lapangan pekerjaan dan menghasilkan 15,688 miliar euro untuk ekonomi Spanyol. Berdasarkan data dari musim 2016/2017, penyiaran pertandingan LaLiga secara ilegal berbahaya bagi perekonomian Spanyol karena banyaknya orang dan pihak yang terlibat di dalamnya.

Sejak musim tersebut LaLiga memulai kampanye untuk memberantas pembajakan audiovisual dengan melaporkan 360.000 video dan 97,4 persen dari laporan tersebut sudah dihapus dari situs-situs media sosial. Untuk mendeteksi konten ini, pihak LaLiga berfokus dalam mencari akun media sosial dan aplikasi seluler tertentu kemudian melaporkannya.

Ada juga fokus pada pembajakan IPTV dan berbagi kartu langganan TV digital, dua sistem yang terbukti paling berbahaya bagi para pemilik hak audiovisual. Lebih dari 15.800 langganan IPTV telah dilaporkan ke Google dan 67,2 persen di antaranya telah dihapus dari daftar pencarian, sementara lebih dari 10.800 profil yang berbagi saluran ilegal di grup Facebook telah dilaporkan. 91 persen di antaranya bahkan telah dihapus.

Baca juga: Nabil Fekir dan Alasannya Memilih Real Betis

LaLiga manfaatkan peralatan in-house dalam memberantas pembajakan audiovisual

Salah satu faktor penting di balik keberhasilan LaLiga memberantas pembajakan audiovisual adalah peralatan buatan LaLiga sendiri.

Pertama adalah sistem Marauder yang diluncurkan LaLiga untuk membantu dalam hal geolokasi, menghasilkan peta, dan menguraikan di mana mereka menemukan situs-situs, akun media sosial, serta aplikasi ilegal yang terbukti melakukan pembajakan audiovisual.

Kedua adalah Lumière, sebuah alat yang terus dikembangkan yang berfungsi untuk membantu penyelidikan dengan mengekstraksi bukti secara digital. Alat ini juga dipinjamkan ke Kementerian Kebudayaan dan Olahraga Spanyol serta Institut Nasional Peru untuk Persaingan Bebas dan Perlindungan Kekayaan Intelektual.

Kepala Departemen Perlindungan Teknologi untuk Konten LaLiga, Fernandez del Castillo, mengatakan ada banyak lagi solusi yang akan datang dari LaLiga dalam upaya memberantas pembajakan audiovisual ini.

“Keberhasilan utama tahun ini adalah perangkat lunak Blackhole yang membantu kami menyusun peta IPTV di tingkat nasional dan internasional. Kami juga akan segera memiliki NEKO, alat baru yang memungkinkan kami mengajukan laporan di media sosial dengan cara lebih cepat dan lebih efisien.”

Keberlanjutan pengembangan peralatan di atas merupakan hasil dari investasi signifikan yang berlangsung lama dan diakui LaLiga diperlukan untuk mengatasi pembajakan dengan baik.

“Pengembangan teknologi terdepan membutuhkan investasi SDM dan teknis yang signifikan. LaLiga memiliki laboratorium anti-pembajakan sendiri, ada lebih dari 25 orang ditambah bantuan dari departemen lain seperti departemen hukum misalnya yang menawarkan bantuan mereka,” ujar Diego Dabrio, Kepala Departemen Perlindungan Global untuk Konten LaLiga.

Baca juga: Martin Odegaard, Penampil Terbaik di LaLiga Saat Ini

LaLiga ingin jadi yang terdepan dalam memberantas pembajakan audiovisual

LaLiga membuka pintu bagi para mitra, koalisi, dan pihak-pihak internasional yang juga dirugikan oleh pembajakan. Lebih lanjut Dabrio mengatakan bahwa pembajakan adalah masalah global dan LaLiga memiliki tantangan untuk tetap aktual, mengetahui tren digital terbaru dan harus proaktif.

“Ada sebagian besar dari masyarakat, dari generasi muda, keliru bahwa pembajakan adalah hal yang normal dan dapat diterima secara sosial. Namun itu adalah kejahatan yang berdampak negatif bagi industri hiburan dan masyarakat secara keseluruhan.”

Sebagai bagian dari upaya memberantas pembajakan audiovisual, LaLiga telah mengorganisir kampanye kesadaran untuk membantu menjelaskan dampak negatif yang signifikan akibat menonton konten audiovisual secara ilegal.

Sejumlah negara seperti Portugal, Italia, Rusia, Afrika Selatan, Kolombia, dan Malaysia menjadi sasaran kampanye anti pembajakan. Lebih jauh lagi Departemen Perlindungan Global untuk Konten LaLiga sedang mengambil tindakan administratif dan hukum di negara-negara seperti Brasil, Uruguay, Republik Kongo, Meksiko, Argentina, dan Ekuador.

“Berkat kolaborasi dengan anggota industri lainnya, LaLiga telah melakukan perintah pemblokiran di Meksiko, Peru, Denmark, Ekuador dan Indonesia.” Dabrio juga mengatakan bahwa ada lebih dari 155 juta kunjungan bulanan ke berbagai platform ilegal dari Senegal, Brasil, Republik Dominika, dan Curacao.

LaLiga juga membagikan pengetahuan dan strategi anti-pembajakan ke lembaga lain, misalnya menawarkan Liga Pro Jupiler Belgia akses ke alat yang sama yang digunakan di Spanyol.

LaLiga juga bekerja sama baik dengan semua jenis organisasi, termasuk pengadilan untuk menghasilkan perubahan. “Hubungan kami dengan polisi dan jaksa penuntut umum (dalam sebuah kasus) adalah untuk membantu membuat proses pendeteksian kecurangan lebih efisien,” sambung Dabrio.

Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan karena memberantas pembajakan audiovisual bukanlah hal mudah. Dampak dari peralatan LaLiga dan aliansi internasional di atas diharap mampu menekan angka pembajakan di seluruh dunia.

Harapannya sederhana, pada akhirnya akan lebih banyak lagi aktivitas ilegal yang dihentikan di masa depan, sehingga mampu mendongkrak perekonomian Spanyol lewat (bisnis) sepak bola modern yang disuguhkan LaLiga.