Cerita

Bambang Pamungkas, dari Getas, ke Eropa, dan Jakarta

Dari klub ibu kota, pria asal Getas itu memilih pergi ke tempat yang dianggap memiliki sepak bola yang lebih baik. Tidak ada kesedihan atau kekecewaan dari publik sepak bola Jakarta kala itu. Sebab semua tahu, si pemuda idola baru hanya pergi untuk kembali lagi.

Benar saja, berada jauh dari rumah tidak membuatnya bertahan lama. Laki-laki 21 tahun kala itu memilih pulang ke klub profesional pertamanya. Klub yang dalam satu kesempatan dalam bukunya ditulis memiliki terlalu banyak cerita dengannya.

Ilmu dari benua sepak bola nampak menjadi bekal berharga. Sepulang dari Eropa, pemain bertingi 170 sentimeter itu menjelma jadi pemain luar biasa. Bukan hanya untuk klub, tapi juga untuk tim nasional Indonesia. Tidak salah bila banyak yang menginginkan jasanya. Bukan hanya klub dalam negeri, tapi juga klub-klub di negara tetangga.

Diiringi selentingan isu kurang sedap, ia kembali pergi untuk kali kedua dari mes di Stadion Menteng. Ada kabar kepergiannya kali ini dikarenakan ia kurang dapat bersaing dari pemain asing yang memiliki posisi serupa dengannya. Bukan klub pesaing di Liga Indonesia, tapi klub Negeri Jiran menjadi tujuan.

Bersama Selangor FA, dua tahun cukup untuk menjadi legenda. Gelar juara kedua dalam kariernya didapat di Liga yang berbeda. Bersama warga negara Indonesia lainnya, Elie Aiboy, Raksasa Merah dibawa berjaya.

Baca juga: Nostalgia Musim Sukses Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy di Selangor FA

Lagi-lagi ia tak lupa jalan pulang. Meski harum di negara orang, Jakarta kembali menjadi tujuan. Ratusan pertandingan menjadi saksi kemesraan. Puluhan gol ke gawang lawan menjadi bukti dedikasi dan kecintaan. Bukan hanya dipuji, ia menjelma menjadi pujaan.

Rasanya kebersamaan kali ini tidak akan pernah dapat dipisahkan lagi. Kisah yang manis antara pemain yang dilahirkan Diklat Salatiga dengan publik sepak bola ibu kota.

Namun suatu ketika, saat dihadapkan dengan pilihan antara rasa cinta dan tanggung jawab, ia harus kembali pergi. Ujung konfik dari tunggakan 5 gaji yang belum menemui kesepakatan penyelesaian, ia dan beberapa pemain lain menolak perpanjangan kontrak. Bukan berarti sudah  tak cinta, tapi ada tanggung jawab yang harus dipenuhi.

“Cinta itu mengalahkan segalanya, tapi dalam berbagai kesempatan, rasa cinta harus memberi jalan pada sebuah tanggung jawab.”

Baca juga: Jika Para Pemain Terbaik Jawa Tengah Dijadikan Satu Tim

Dengan tidak baik-baik saja, sang kapten yang telah dewasa mengambil keputusan sejenak beristirahat di tempat yang lebih sejuk dari Jakarta. Kota Kembang menjadi persinggahan menenangkan pikiran.

Keputusan yang tentu membawa kecewa. Kapten yang dihormati memilih kota yang memiliki rivalitas panas dengan sebagian pendukung setianya. Meski bukan ke klub yang menjadi seteru langsung, kepergiannya ke Bandung menjadi pukulan tersendiri.

Terlebih gol yang untuk pertama kali disarangkan ke gawang klub yang dicintai menjadi pemupus mimpi melaju lebih jauh di kompetisi.

Pengalaman bertarung menghadapi yang dicinta tidak pernah mudah. Baginya menghadapi rekan-rekan yang biasa berjuang dengan warna kostum yang sama membuatnya merasa tengah berada di alam mimpi.

“Perdebatan dalam hati saya sudah terjadi, bahkan sejak sebelum pertandingan dimulai. Berdiri pada jalur yang berbeda dengan Ismed Sofyan saat di lorong menuju lapangan saja, sudah menjadi hal yang sulit saya pahami. Apalagi melihat warna kostum kami yang berbeda corak dan warna, membuat saya merasa tengah berada di alam mimpi.” ungkapnya di buku Bepe20 Pride, halaman 83.

Baca juga: Bambang Pamungkas dan Catatan Gol yang Berlanjut di Liga 1

Sekali lagi cinta menunjukkan jalannya. Ia kembali, ke Jakarta. Melanjutkan kemesraan bersama Persija dan publik sepak bola Jakarta yang juga begitu mencintainya. Ia adalah Bambang Pamungkas. Pria yang telah lebih dari 20 tahun menginjakkan kaki di tempat yang disebut rumah dan menjelma menjadi seorang legenda.

Kemarin (10/6), sang legenda yang bukan hanya milik Persija dan publik sepak bolanya, tapi juga milik Indonesia, tepat berusia 39 tahun. Usia yang mungkin bisa dibilang sebagai pengujung senja seorang pemain sepak bola. Tapi tetaplah berlari selagi kau bisa, karena kami, belum mampu kehilanganmu, lagi.

Selamat ulang tahun Bambang Pamungkas. Tetap semangat dan sukses selalu!