Cerita

Liverpool Mendekati Sempurna, tapi…

Liga Primer Inggris musim 2018/2019 baru saja berakhir, di mana semua orang tahu bahwa Manchester City berhasil mempertahankan gelar juara dari Liverpool yang menguntit mereka dengan selisih satu poin saja.

Kenyataan pahit harus diterima para Kopites karena untuk meraih gelar pertama di era modern sebenarnya Liverpool mendekati sempurna, tapi…

Sulit rasanya mengingkari kenyataan bahwa musim ini The Reds tampil mendekati kesempurnaan. Bayangkan saja, meski Jordan Henderson dan kawan-kawan berhasil meraih 97 poin dalam 38 pertandingan, jumlah tersebut tak mampu mengantarkan mereka menyandang titel juara.

Lebih pelik lagi adalah fakta bahwa anak asuh Juergen Klopp musim ini sebenarnya bisa saja menyamai capaian Arsenal sebagai tim tak terkalahkan di Liga Primer Inggris andai tak bertekuk lutut di hadapan sang juara, Manchester City, pada 3 Januari 2019.

Siapa sangka bahwa (akhirnya) pertandingan itulah yang justru menjadi kartu As mereka untuk mengunci gelar jauh-jauh hari.

Baca juga: Dukungan Senyap Liverpool Fans Kulon Progo

Sebelum saya bertambah baper, (karena saya adalah pendukung Liverpool sejak belasan tahun silam), tak dapat disangkal bahwa musim ini Liverpool bermain spartan di liga.

Berbagai rekor pribadi para pemain mampu ditorehkan, di antaranya duet Mohamed Salah dan Sadio Mane yang memenangkan sepatu emas liga dengan mencetak masing-masing 22 gol, atau Alisson Becker yang menjaga gawang nirbobol sepanjang 21 laga.

Belum lagi Virgil van Dijk yang sama sekali tak mampu dilewati oleh lawan dalam skema one on one di musim ini, atau penampilan brilian dua bek sayap, Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson, yang total mengoleksi 23 asis seakan tak berarti tanpa gelar yang akhirnya kembali diraih The Citizens.

Saya kembali teringat pada kata-kata Klopp di awal menukangi Liverpool pada 2015 lalu. “Mohon beri saya waktu untuk bekerja di sini (Liverpool) selama empat tahun, kurasa kami akan memenangkan satu titel juara. Jika tidak mungkin saya akan melakukannya di Swiss,” dikutip dari Sportbible beberapa hari lalu ketika banyak yang menyarankan mengejek Klopp ke Swiss usai hasil buruk ini.

Coba perhatikan baik-baik, Klopp tidak secara spesifik menyebutkan titel juara liga bukan? Tapi boro-boro trofi Liga Primer Inggris, Klopp bahkan belum mampu menghadirkan trofi Piala FA atau Piala Liga Inggris ke Anfield dalam empat tahun ke belakang. (Tolong jangan masukkan trofi Premier League Asia ke dalam daftar ini ya!)

Khusus untuk titel terakhir, Piala Liga Inggris yang saat itu masih bernama Piala Carling, trofi tersebut adalah trofi terakhir yang mampir ke kubu Merseyside Merah kurang lebih tujuh tahun silam saat Liverpool masih ditangani legenda hidup, Kenny Dalglish.

Jadi, coba perhatikan baik-baik, apakah titel yang dimaksud Klopp adalah trofi juara Liga Champions 2018/2019?

Baca juga: Liga Champions 2018/2019 Melawan Kemustahilan

Ya for your info, mungkin alasan tersebut kini jadi topik pengalihan isu teman, sanak saudara atau bahkan kamu, ya, kamu!… seorang pendukung Liverpool jika diungkit lagi tentang kegagalan meraih trofi musim ini.

Itupun jika Jordan Henderson dan kawan-kawan tak takluk dari Tottenham Hotspurs di Wanda Metropolitano Minggu (2/6) dini hari WIB. Karena jika kalah, entah mau ditaruh di mana muka kami, bung! Ha ha ha…haiks…hiks hiks hiks.

Memang dalam dua musim terakhir Liverpool mampu tampil maksimal dan menjadi bayang-bayang Manchester City dalam perburuan gelar. Liverpool mendekati kesempurnaan, tapi… ada banyak alasan mengapa mereka musim ini gagal. Salah satunya karena kesalahan sendiri.

Dihukum di awal Januari oleh The Citizens lewat satu-satunya kekalahan musim ini, The Reds justru sudah terlambat memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan di paruh pertama musim yakni terlalu banyak menderita hasil seri.

Dua dari empat hasil seri yang ditelan Liverpool di paruh pertama bahkan terjadi di tangan klub non-big six yakni Leicester City dan West Ham United.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, gelar juara kini kembali diraih City. Sebagai seorang penulis profesional, meski pada akhirnya tulisan ini sedikit emosional, saya salut dan mengamini City pantas menjuarai Liga Primer Inggris. Secara obyektif, mereka pantas dan apalagi mampu memberikan Liverpool pukulan telak di Etihad Stadium di awal musim dingin.

Dan terkhusus para Kopites lainnya di manapun kalian berada, cobalah ikhlas dan tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Bukan salah para pemain, pelatih atau salah klub lain… karena pada dasarnya Liverpool sudah berusaha dengan segala cara agar trofi Liga Primer Inggris yang terakhir diraih pada 1989/1990 dapat kembali ke Anfield.

Jadi mari kita syukuri hasil runner-up yang berkali-kali kita dapatkan ini. Musim ini musim yang brilian bukan? Kita punya dua top skor liga, peraih sarung tangan emas, almost invincibles.

Ya, musim ini Liverpool mendekati sempurna, tapi… tak masalah tak ada gelar, karena mungkin sudah digariskan bahwa:

“Next Year is Our Year!”