Cerita

Sebagai Milanisti, Saya Senang dan Benci Kedatangan Cristiano Ronaldo di Juventus

Perpindahan sang pemain terbaik dunia telah diresmikan. Kedatangan Cristiano Ronaldo di Juventus menjadi transfer termahal Serie A yang dibeli dari klub luar Italia, setelah Gaizka Mendieta di musim 2001/2002. Suka cita tentunya bagi para Juventini, tapi bagaimana dengan para pendukung tim lain? Kalau bagi saya yang seorang Milanisti, ada perasaan senang dan benci yang datang bersamaan.

Kedatangan pemain sekaliber Ronaldo sudah sangat lama tidak terjadi di Serie A. Bukan karena kasta tertinggi Liga Italia tersebut minim dana, tetapi karena transfer besar akhir-akhir ini lebih sering dilakukan oleh sesama klub dalam negeri.

Gonzalo Higuaín (Napoli ke Juventus), Leonardo Bonucci (Juventus ke AC Milan), Radja Nainggolan (AS Roma ke Internazionale Milano), dan Paulo Dybala (Palermo ke Juventus) adalah beberapa contoh transfer besar yang dilakukan oleh sesama klub Serie A.

Sementara itu untuk transfer masuk dari luar Liga Italia, dengan nominal di bawah Ronaldo ada Gaizka Mendieta (Valencia ke Lazio, 48 juta euro), Zlatan Ibrahimović (Barcelona ke AC Milan, 45 juta euro), Douglas Costa (Bayern München ke Juventus, 40 juta euro), dan André Silva (FC Porto ke AC Milan, 38 juta euro).

Coba diamati dengan seksama deretan nama-nama itu, Hanya Zlatan yang popularitasnya mampu menyaingi Ronaldo, sedangkan nama-nama lainnya bukan berlabel pemain sepanjang masa.

Bagaikan tenggorokan kering yang diterpa segarnya es kelapa muda, kedatangan Cristiano Ronaldo di Juventus adalah pelepas dahaga Serie A. Setelah sekian purnama, ada lagi pemain top dunia yang singgah di Serie A, dan dia adalah figur top dunia.

Ronaldo memang sudah berusia 33 tahun, tertua di antara 10 pembelian termahal klub Serie A, tapi kebintangannya jauh melebihi 9 pemain termahal Serie A di bawahnya. Sebagai Milanisti yang otomatis juga penikmat Serie A, jujur saya sangat sumringah dengan resminya transfer Ronaldo.

Ya bagaimana tidak senang, ini adalah kali pertama ada pemain terbaik dunia yang merumput di Serie A, setelah Kaká di tahun 2008. Sepuluh tahun lamanya tak ada pemenang Ballon d’Or di Serie A, dan tahun ini kita, para penikmat Serie A, bisa menyaksikan langsung aksi Cristiano Ronaldo tanpa harus menyeberang ke channel liga lain.

Dalam sepuluh tahun terakhir Serie A disinggahi para pelawak lapangan hijau seperti Gabriel Barbosa (Gabigol), Mario Balotelli, dan Nicklas ‘Lord’ Bendtener, sampai akhirnya Ronaldo datang.

 

bursa transfer AC Milan

Tapi dia datang di saat yang tidak tepat

Saya senang, tapi juga benci. Yang saya sesali dari kedatangan Ronaldo adalah dia telat semusim. Mengapa? Karena andai saja Ronaldo datang musim lalu, Milan sangat bisa menyaingi manuver Juventus di bursa transfer. Beda halnya dengan musim ini, ketika Milan lebih sibuk memikirkan sanksi ketimbang mencari prestasi.

Ronaldo datang di saat wajah para Milanisti murung karena klub kesayangannya gagal tampil di kompetisi Eropa akibat masalah duit. Ronaldo datang di saat jantung para Milanisti berdebar-debar karena klub idolanya telah diambil alih oleh orang yang memberi pinjaman uang ke Yonghong Li.

Ronaldo datang, di saat roda Milan turun hampir di titik terbawah. Berbeda dengan musim lalu, ketika I Rossoneri sangat perkasa di bursa transfer, walau pada akhirnya kesenangan itu hanya seperti masturbasi semata.

Baca juga: Masturbasi Bursa Transfer AC Milan

Adu manuver di bursa transfer itu penting, karena secara tidak langsung bisa menyerang psikis tim lawan. Dengan adanya Ronaldo lawan-lawan Juventus akan semakin mewaspadai Si Nyonya Tua. Dengan adanya Ronaldo, I Bianconeri akan lebih pede mengarungi (awal) musim.

Analoginya begini. Seumpama kita bermain futsal dan ada satu pemain superstar yang tiba-tiba ikut bergabung di dalam tim, otomatis mental tim kita akan terangkat. Sementara itu kaki-kaki pemain lawan tiba-tiba akan semakin berat. Terlepas dari bagaimana sang superstar dapat tampil maksimal atau tidak, efek kehadirannya saja sudah membuat atmosfer pertandingan berubah drastis.

Juventus dan Ronaldo sekarang sedang dalam fase tersebut. Mereka mengubah suasana Serie A yang lebih identik dengan liga nostalgia, menjadi liga dengan bintang tamu pemain terbaik dunia di dalamnya. Si Nyonya Tua membuat Serie A saat ini menjadi liga yang mencuri perhatian dunia, menyaingi turnamen akbar yang sedang digelar di Rusia.

Tapi apakah kedatangan Ronaldo berarti scudetto lagi bagi Juventus? Maybe yes, maybe no. Bisa jadi mamayo, bisa juga loyo.

Ronaldo memang pemain terbaik di dunia, tapi dia belum tentu terbaik di Serie A. Sebagai Milanisti saya sangat percaya diri mengucapkannya, karena suksesor CR7 di timnas Portugal saja (baca: André Silva) bisa gagal di Italia, berarti si Ronaldo juga ada potensi gagal dong

Kalau kamu sependapat dengan saya, ucapkan “Amin” 10 kali, dan sebarkan ke 10 temanmu. Jangan sampai berhenti di kamu!