Piala Dunia 2018

Siphiwe Tshabalala: Ketika Anak Supir Taksi Tercantum di Buku Sejarah Piala Dunia

Sebelum tanggal 11 Juni 2010, dunia hampir tak peduli dengan nama Siphiwe Tshabalala. Wajar, karena sebelum hari itu ia memang bukan siapa-siapa, hanya seorang pemain sepak bola di sebuah klub yang kurang tenar di dunia. Namun, segalanya berubah setelah gol ke gawang Meksiko malam itu.

Afrika Selatan menjamu Meksiko di laga pembuka Piala Dunia 2010. Dari 22 pemain yang berlaga, sekitar 90% di antaranya adalah nama-nama yang kurang populer di dunia lapangan hijau. Saat itu hanya ada Steven Pienaar, Rafael Márquez, Giovani dos Santos, dan Carlos Vela, yang cukup familiar di telinga para penonton. Kecuali bagi pendukung tuan rumah dan Meksiko, tentu saja.

Akan tetapi dari laga minim bintang itu, justru lahir sebuah gol cemerlang. Di menit 55, Afrika Selatan yang dikurung oleh Meksiko berhasil mencuri penguasaan bola dari lawannya. Serangan balik cepat pun dilakukan, dan hanya dalam tempo 7 detik bola sudah berada di sisi kiri pertahanan Meksiko, bersama ayunan kaki Tshabalala, dengan situasi satu lawan satu dengan bek Meksiko plus kiper.

Ketika komentator melafalkan nama Tshabalala, mungkin sebagian dari kita tidak tahu siapa dia, apa spesialisasinya, atau apa kebiasaannya di lapangan. Inilah yang membuat kita sulit menerka apa yang akan dilakukannya. Berbeda dengan, misalnya, Arjen Robben yang bagaimanapun caranya akan memakai kaki kiri untuk menendang, atau pemain sayap Brasil yang gemar mengajak lari lawannya disertai beragam gocekan.

Sebagian dari kita sulit memprediksi apa yang akan dilakukan Tshabalala, karena kita belum mengenalnya, belum mengetahui profilnya. Tapi setelah hantaman keras kaki kiri yang membawa Jabulani bersarang dengan indah ke gawang Óscar Pérez itu, kita jadi familiar dengan nama Siphiwe Tshabalala.

Kalaupun kesulitan menyebut namanya, melihat wajahnya saja bisa membuat kita teringat “Oh… yang dulu mencetak gol pembuka di Piala Dunia 2010”. Bisa dibilang, Tshabalala mendapat identitas baru sejak ajang empat tahunan yang digelar di negaranya tersebut.

Sudah jago sejak kecil

Kualitas lesatan Tshabalala di pertandingan pembuka Piala Dunia 2010 memang layak diacungi dua jempol, atau well tenan kalau kata anak muda masa kini. Usut punya usut, ternyata kemampuan itu sudah dimilikinya sejak kecil. Tshbalala sudah menunjukkan bakat besar sejak merumput di tim junior.

Kaizer Chiefs merupakan klub yang beruntung bisa memoles bakat Tshabalala sejak usia dini. Ia masuk di akademi klub asal Johannesburg itu pada tahun 1997, ketika usianya masih 13 tahun. Namun, perjalanannya menggapai mimpi menjadi pesepak bola profesional tidak dijalani dengan mudah.

Tshabalala kesulitan menembus tim inti. Itu membuatnya berpikir ulang untuk melanjutkan karier di Kaizer Chiefs, dan pada akhirnya memutuskan hengkang ke klub lain. Pemain setinggi 170 sentimeter ini kemudian menjajal petualangan di beberapa klub seperti Moroka Swallows, Alexandra United, dan Free State Stars.

Di klub yang disebut terakhir itulah sinarnya di tim nasional mulai berpendar. Tshabalala adalah pemain yang mendapat panggilan timnas, ketika masih berkarier di kasta kedua liga domestik. Usianya saat itu 22 tahun, dan ia belum pernah dipanggil timnas junior, tapi langsung mendapat panggilan timnas senior.

Kesempatan yang di kemudian hari kita tahu tidak disia-siakan olehnya. Sampai saat ini berusia 33 tahun, Tshabalala telah mencatatkan 91 caps dan 12 gol bagi Bafana Bafana, julukan timnas Afrika Selatan. Dirinya juga menahbiskan diri sebagai legenda timnas dan Kaizer Chiefs, dan menikahi Miss Afrika Selatan, Bokang Montjane, pada 2016.

Sebuah jalan kesuksesan telah ditempuh oleh Siphiwe Tshabalala. Walau dipenuhi beragam rintangan sejak awal. Sang anak yang ayahnya berprofesi sebagai supir taksi dan ibunya meninggal ketika menghadiri acara bridal shower rekannya itu, kini telah mencatatkan namanya di buku sejarah Piala Dunia. Sebagai salah satu pencetak gol pembuka, dan turut berkontribusi pada (kembali) tersingkirnya Prancis di fase grup.