Cerita

Menanti Kelanjutan Saga Transfer Wayne Rooney ke MLS

Sejak pulang ke Everton pada bursan transfer musim panas 2017 lalu, Wayne Rooney diharapkan mampu membawa The Toffees menjadi tim yang kembali disegani, terlebih dengan sejumlah transfer pemain yang bisa dibilang cukup ambisius untuk tim seperti Everton. Namun kenyataannya, sampai akhir musim, penampilan Everton tidaklah mengesankan, dan kini mereka terancam kehilangan mantan wonderkid mereka tersebut.

DC United, klub peserta Major League Soccer (MLS) yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia, Erick Thohir, kabarnya bersedia menebus mantan kapten timnas Inggris tersebut dengan harga 12,5 juta paun agar bisa pindah pada musim panas mendatang. Meski dikabarkan Rooney sudah sepakat dengan transfer ini, namun pihak DC United maupun Everton masih belum memberikan pernyataan yang resmi.

Pihak DC United sendiri mengakui bahwa mereka tertarik untuk membawa Rooney ke Negeri Paman Sam tersebut, seperti yang diungkapkan oleh pelatih Ben Olsen. “Kesepakatannya belum selesai, namun memang ada keterterikan dari pihak kami,” ujar mantan pemain timnas Amerika Serikat tersebut. Perwakilan Rooney, Paul Stretford, dikabarkan sudah menemui pihak DC United, bahkan sudah melihat-lihat Audi Field, kandang baru DC United yang akan dibuka pada Juli nanti.

Sam Allardyce, manajer Everton, membantah bahwa Rooney telah meminta pindah. Meski demikian, Big Sam tidak bisa berbicara banyak mengenai kelanjutan transfer ini. Ia hanya mengatakan bahwa ia tak akan menghalangi siapapun pemain Everton yang ingin meninggalkan klub, meskipun untuk kasus Rooney, ia ingin ayah empat anak tersebut bertahan di Goodison Park.

Keinginan Rooney untuk hengkang ini kabarnya dipicu oleh ketidaknyamanannya dalam bermain di bawah strategi Allardyce. Seperti musim-musim terakhirnya di Manchester United asuhan Louis van Gaal dan Jose Mourinho, ia lebih banyak diturunkan sebagai gelandang, dan menit bermainnya juga semakin berkurang, di mana ia jarang bermain 90 menit penuh.

Meskipun sampai sekarang Rooney masih menjadi top skor klub musim ini dengan torehan 11 gol di seluruh kompetisi, namun hanya 3 gol yang ia cetak selama diasuh Allardyce, itupun terjadi sebelum Natal tahun lalu.

Kepindahan ke DC United mungkin bisa membuatnya kembali bermain lebih ke depan, membantu ketajaman lini depan DC United, yang amat tumpul di dua musim terakhir. Jika mungkin ia sudah dianggap tak cukup baik sebagai penyerang di Liga Inggris, barangkali ia bisa menikmati permainannya di MLS. Usianya yang masih 32 tahun juga membuatnya tak datang ke Amerika dengan kondisi ‘sudah habis’. Ia masih bisa mengikuti jejak David Villa yang masih rutin mencetak gol bersama New York City FC sejak bergabung pada tahun 2015.

Kepindahan Rooney juga bisa memberikan keuntungan bagi DC United. Jika ia jadi pindah pada Juli mendatang, waktunya sangat bertepatan dengan pembukaan markas baru mereka, Audi Field. Belum rampungnya stadion mereka di awal musim membuat DC United menjalani MLS 2018 dengan banyak memainkan partai tandang terlebih dahulu.

Hingga bulan Juli nanti, tercatat hanya dua dari empat belas laga yang dimainkan DC United sebagai tuan rumah, itu pun dengan status musafir. Namun setelah Audi Field resmi dibuka, DC United akan memainkan 15 dari 20 sisa laga mereka di kandang. Hal ini tentu bisa menjadi pertimbangan bagus dari segi olahraga dan bisnis.

Keberadaan Rooney bisa meningkatkan kualitas tim sekaligus menarik jumlah suporter yang datang mendukung langsung semakin banyak. Stadion yang penuh, selain mendatangkan keuntungan finansial, diharapkan bisa meningkatkan moral bertanding skuat asuhan Ben Olsen ini, sehingga mereka bisa meraih kemenangan demi kemenangan untuk mengangkat posisi mereka saat ini sebagai juru kunci.

Menarik untuk dinanti, apakah kepindahan Rooney ke Amerika Serikat benar-benar menjadi kenyataan.