Cerita

Melihat Potensi Zeljko Buvac Jadi Manajer Arsenal

Rumor yang menyangkut masa depan Zeljko Buvac, asisten manajer Jürgen Klopp di Liverpool, semakin bervariasi. Sebelumnya, Buvac sempat dirumorkan mundur dari Liverpool setelah berkonflik dengan Klopp di sesi latihan. Kedua orang yang telah bermitra selama kurang lebih 17 tahun ini diduga mengalami perbedaan pendapat, dan tensi di antara keduanya meninggi. Namun, pihak Liverpool telah mengeluarkan pernyataan bahwa rumor ini tidak benar.

Baca juga: Zeljko Buvac Dikabarkan Mundur Setelah Berkonflik dengan Jürgen Klopp

“Zeljko (Buvac) saat ini tengah absen dari tim utama, dan akan tetap absen hingga akhir musim karena masalah pribadi. Pihak klub memutuskan bahwa masalah ini adalah masalah yang bersifat privat dan tak akan mengeluarkan pernyataan kembali. Saat ini, Zeljko masih menjadi bagian dari staf Liverpool dan posisinya akan tetap seperti itu meskipun ia akan absen untuk beberapa saat,” begitu bunyi dari pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Liverpool.

Tak adanya penjelasan mengenai absennya Buvac dari tim utama tentu menimbulkan banyak dugaan, dan tak menghapuskan rumor bahwa sang asisten manajer asal Bosnia-Herzegovina ini berkonflik dengan atasannya. Padahal, The Reds akan menjalani laga super penting menghadapi AS Roma di pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions, dan tak mungkin Klopp akan melepas salah satu orang kepercayaannya apabila masalah tak benar-benar besar.

Dari situ, muncul beberapa pra-duga yang cukup menarik. Salah satunya adalah rumor bahwa manajemen Arsenal yang tengah mencermati situasi Buvac. Dilansir dari laman arseblog, beberapa media asal Bosnia meyakini bahwa Buvac kini masuk ke dalam kandidat pengganti Arsene Wenger di musim depan!

Wenger sebelumnya sudah memutuskan untuk undur diri dari kursi manajerial Arsenal setelah mengabdi selama 22 tahun, dan CEO Ivan Gazidis beserta kepala negosiator, Raul Sanllehi dan kepala pemandu bakat, Sven Mislintat, tengah berdiskusi untuk memutuskan siapa yang akan menjadi nakhoda Arsenal selanjutnya.

Beberapa nama sudah disebut-sebut sebagai kandidat. Mulai dari nama-nama berpengalaman seperti Carlo Ancelotti, Massimiliano Allegri, dan Luis Enrique, hingga manajer-manajer yang lebih muda seperti Domenico Tedesco, Patrick Vieira, dan Julian Nagelsmann. Meskipun begitu, masih belum ada satu nama yang benar-benar pasti, dan daftar kandidat ini masih bisa bertambah lagi, bergantung pada situasi yang akan terjadi di pengujung musim ini. Dan situasi yang menimpa Liverpool dan Buvac menjadi contohnya.

Merekrut Buvac boleh jadi akan menjadi langkah yang akan dipertanyakan oleh banyak Gooner, sebutan dari suporter Arsenal. Wajar saja, apabila rumor Buvac ini mengundang pertanyaan. Pasalnya, pria dengan rambut panjang ini hanya memiliki pengalaman yang begitu minim kala menjadi manajer tim utama. Ia hanya pernah memanajeri SC Neukirchen, satu tim gurem di Jerman. Sisa karier kepelatihannya dihabiskan menemani Klopp, mulai dari FC Mainz 05, Borussia Dortmund, hingga saat ini di Liverpool.

Meskipun begitu, ada beberapa alasan mengapa Buvac mampu menjadi pilihan yang cukup menarik. Yang pertama adalah Arsenal terbiasa dengan pilihan-pilihan yang anti-mainstream. Di tahun 1960 an lalu, The Gunners merekrut Bertie Mee, seorang fisioterapis, untuk menjadi manajer di tim utama. Mee terbukti menjadi manajer yang cukup sukses, dengan membawa Arsenal memenangkan trofi Eropa untuk pertama kalinya. Bahkan Wenger, sebelum memanajeri Arsenal, direkrut dari klub Jepang, Nagoya Grampus. Dengan rekam jejak manajer tak berpengalaman yang ternyata baik, Arsenal tentunya berani mengambil risiko dengan merekrut Buvac.

Alasan kedua adalah Buvac merupakan sosok yang revolusioner dalam hal taktikal. Menurut pengakuan Klopp, gegenpressing – permainan menekan yang agresif – adalah hasil dari pikiran Buvac. Buvac menjadi orang yang mengembangkan serta menyempurnakan gegenpressing, yang selalu diidentikkan dengan Klopp. Tak hanya itu, Klopp bahkan menyebut Buvac sebagai “The Brain”, otak dari permainan tim yang ia asuh. Pujian dari manajer sekelas Klopp tentunya bisa menjadi bukti betapa cerdasnya Buvac menyoal taktik, sesuatu yang hilang dari Wenger selama beberapa tahun terakhir.

Tentunya, merekrut Buvac bukan tanpa risiko. Kepergiannya dari skuat Liverpool belakangan ini menjadi satu hal yang patut dicermati. Apabila benar ia memiliki masalah dengan Klopp, bisa ditarik kesimpulan bahwa Buvac tak memiliki manajemen manusia yang baik. Manajemen manusia yang baik tentunya penting, terlebih Arsenal memiliki skuat yang berisi pemain bintang seperti Mesut Özil, Pierre-Emerick Aubameyang, dan Alexandre Lacazette. Tanpa adanya kemampuan manajemen manusia yang baik, bukan tak mungkin pemain-pemain ini akan sulit dikontrol.

Sejauh ini, belum ada satu pun kepastian, baik itu tentang masa depan Buvac di Liverpool, maupun siapa yang akan menjadi manajer Arsenal menggantian Wenger. Satu yang pasti, Buvac adalah pilihan yang berisiko, namun terkadang, risiko harus diambil untuk menjadi lebih baik.