Cerita

Buriram United, tentang Bagaimana Mereka Menjadi Kekuatan Besar di Thailand dan Asia Tenggara

Kita semua tentunya sepakat bahwa Thailand adalah salah satu rival terberat kita di sepak bola Asia Tenggara. Negeri Gajah Putih tersebut seringkali menjadi penghalang terbesar untuk Indonesia dalam merebut gelar juara. Meskipun kita telah tampil baik sepanjang turnamen, katakanlah Piala AFF, tetap saja sulit sekali untuk mengalahkan Thailand.

Di satu sisi, kita tak dapat memungkiri bahwa perkembangan sepak bola Thailand adalah yang terbaik di Asia Tenggara. Tak hanya di level internasional (negara), sepak bola level klub di Thailand juga begitu baik kualitasnya. Melihat bagaimana mereka mampu berkembang dan berprestasi, rasa kagum perlahan mulai mengikis rasa benci yang muncul karena rivalitas yang ada. Tak hanya itu, sebagai sesama penghuni Asia Tenggara, kita tentunya boleh berbangga atas prestasi Thailand dan klub-klub sepak bolanya di kompetisi level Asia.

Salah satu prestasi terbaru yang dicatatkan oleh sepak bola Thailand adalah keberhasilan salah satu klubnya, Buriram United, untuk lolos dari fase grup Liga Champions Asia 2018. Memang, bukan pertama kali ini sebenarnya Buriram mampu menembus babak knock-out Liga Champions Asia. Selain itu, Buriram memang menjadi klub terkuat di Thailand selama beberapa tahun belakangan, menggeser rival beratnya, Meskipun begitu, prestasi mereka di Liga Champions Asia tahun ini terhitung spesial.

Ya, di Liga Champions Asia 2018 ini, Buriram tercemplung ke dalam Grup G, yang boleh dikatakan sebagai grup neraka. Tak tanggung-tanggung, Buriram harus bertemu dari tiga klub raksasa yang berasal dari negara besar di Asia Timur (Jepang, Cina, dan Korea Selatan). Lawan pertama adalah Guangzhou Evergrande, klub super kaya dari Liga Super Cina, lalu ada Cerezo Osaka, klub dari J1 Jepang yang berhasil menjuarai Piala J League tahun lalu, serta Jeju United, runner-up K. League 1 Korea Selatan tahun lalu.

Hebatnya, The Thunder Castles, julukan dari Buriram, tak gentar menghadapi lawan-lawan kuat seperti tiga klub tersebut. Dalam pertandingan penentuan yang berlangsung kemarin malam (17/4), Suchao Nutnum dan kolega berhasil mengalahkan Jeju dan lolos menemani Guangzhou ke babak selanjutnya. Dari enam laga yang mereka jalani di fase grup, Buriram hanya sekali menelan kekalahan, yaitu dari Jeju di pertandingan pekan kedua.

Menurut penuturan rekan kami dari Football Tribe Thailand, Jedsada Chanaphinijwong, keberhasilan Buriram di Liga Champions Asia 2018 adalah murni karena kekuatan Buriram yang memang sudah berada di level Asia. Jedsada mengatakan bahwa standar di Liga Thailand memang rendah ketimbang liga-liga di klub yang diikuti oleh lawan Buriram di fase grup.

Namun, skuat asuhan Bozidar Bandovic mampu menunjukkan kualitas mereka sepenuhnya. Menurut Jedsada, tidak kalah melawan Guangzhou, yang merupakan klub terbaik di Grup G, menjadi kunci utama dari kelolosan Buriram ke fase selanjutnya. Moral skuat jadi terangkat atas keberhasilan mereka menahan Guangzhou, hingga akhirnya mampu menang di pertandingan terakhir nan krusial melawan Jeju.

Lalu, bagaimana bisa Buriram memiliki skuat yang mampu berkompetisi di level Asia? Jedsada mengungkapkan satu “rahasia” yang membuat klub yang berdiri di tahun 1970 dengan nama Provincial Electricity Authority ini begitu sukses. Rahasia tersebut adalah Buriram tak hanya fokus pada pemain-pemain yang ada di tim utamanya, seperti katakanlah Guangzhou yang menjadi pemuncak Grup G, melainkan juga pada akademi sepak bolanya.

Fokus Buriram untuk mengembangkan akademinya telah berlangsung begitu lama, dan kini akademi sepak bola Buriram diakui sebagai yang terbaik di Thailand. Tak hanya itu, mereka juga memberi kepercayaan pada pemain-pemain jebolan akademinya untuk tampil di liga dan Liga Champions Asia, seperti Anon Amornlendsak, Supachok Sarachart, dan Rattanakorn Maikami. Pemain-pemain hasil akademi ini memegang peran yang tak kecil dalam kesuksesan Buriram, baik di level nasional maupun internasional.

Selain itu, Buriram juga disokong oleh kemampuan finansial yang baik. Berdasarkan penuturan Jedsada, hal ini bukan karena mereka memiliki pemilik yang super kaya, melainkan karena kemampuan mereka untuk menjual diri dan menarik sponsor besar. Karena kemampuan finansial mereka yang mumpuni ini juga, mereka mampu merekrut pemain-pemain asing berkualitas untuk membantu Jakkaphan Kaewprom dan kolega, seperti Edgar Silva, Diogo, Andres Tunez, dan Yoo Jun-soo.

Meskipun begitu, Jedsada enggan untuk berharap terlalu banyak di fase knock-out nanti, mengingat ada klub kuat seperti Jeonbuk Hyundai Motors akan menanti Buriram. Ia menyatakan Buriram tentunya memiliki peluang untuk melaju, asalkan klub yang satu ini mampu fokus dalam menghadapi satu laga dan tak berpikir terlalu jauh. Rotasi pemain juga penting dilakukan oleh Bandovic agar pemain-pemain Buriram mampu berada dalam kondisi 100% ketika harus berlaga di Liga Champions Asia.

Satu yang pasti, keberhasilan Buriram untuk lolos dari fase grup Liga Champions Asia, yang notabene kompetisi antarklub terbaik di level Asia, wajib untuk kita apresiasi. Sebagai sesama penduduk Asia Tenggara, kita tentunya berharap Buriram mampu memberikan kebanggaan yang lebih. Tentunya, kita juga mengharapkan agar wakil Indonesia yang masih tersisa di kompetisi level Asia, seperti Persija Jakarta, di Piala AFC juga mampu memberikan kebanggaan serupa ke masyarakat Asia Tenggara.

Selamat, Buriram!