Kolom

Evolusi Cristiano Ronaldo di Real Madrid

Cristiano Ronaldo sudah menjadi nama yang berada di puncak permainan sepak bola selama satu dekade terakhir. Meraih lima trofi Ballon D’Or, menyandang status sebagai top skor sepanjang masa Liga Champions, dan mencetak lebih dari 600 gol dengan karier yang luar biasa baik di level klub maupun internasional. Kini, Ronaldo menghadapi tantangan baru dalam kariernya: umur.

Selama beberapa tahun membela Real Madrid, jumlah laga yang ia mainkan tak pernah menjadi masalah bagi Ronaldo. Namun, tiap laga yang ia jalani dengan intensitas tinggi tentunya memiliki efek bagi fisiknya.

  • 10/11: 34 penampilan liga, 12 penampilan Liga Champions
  • 11/12: 38 penampilan liga, 10 penampilan Liga Champions
  • 12/13: 34 penampilan liga, 12 penampilan Liga Champions
  • 13/14: 30 penampilan liga, 11 penampilan Liga Champions
  • 14/15: 35 penampilan liga, 12 penampilan Liga Champions
  • 15/16: 36 penampilan liga, 12 penampilan Liga Champions
  • 16/17: 29 penampilan liga, 13 penampilan Liga Champions

Di usianya yang kini sudah menginjak 33 tahun, Ronaldo tentunya harus memerhatikan bagaimana ia berlatih, bagaimana kemampuan fisiknya saat ini, bagaimana ia bermain di lapangan, dan bagaimana kiat yang ia harus terapkan untuk menunda penurunan performanya.

Musim ini dan musim lalu, Zinedine Zidane mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang tak pernah terjadi pada Ronaldo lima tahun lalu: untuk duduk di bangku cadangan, untuk memprioritaskan hal lain, dan untuk beristirahat ketika dibutuhkan. Selain mentalitasnya yang berubah, perannya di lapangan juga ikut berubah. Cedera ligamen yang ia alami di final Piala Eropa 2016 membuatnya untuk beradaptasi lebih awal dari yang ia rencanakan.

 

Ronaldo memenangi Ballon d’Or

Sayap kiri

Selama beberapa tahun terakhir di Santiago Bernabeu, posisi sayap kiri Madrid selalu menjadi milik Ronaldo. Kecepatan yang ia miliki, trik yang ia mampu lakukan, dan akselerasi eksplosif yang ia punya menjadikannya sebagai ancaman yang konstan ketika melakukan cut inside dan melepaskan tembakan dengan kaki kanannya. Tendangan knuckle, atau yang lebih kita kenal dengan concong, menjadi ciri khasnya.

Kedatangan Gareth Bale di tahun 2013 lalu menjadi awal dari munculnya trio BBC (Bale, Benzema, Cristiano) di Madrid. Memiliki tiga penyerang papan atas membuat Madrid mengadaptasi skema 4-3-3 yang benar-benar memanfaatkan kecepatan Ronaldo dan Bale di kedua sisi sayap, berkombinasi dengan penyerang tidak egois seperti Benzema.

Ronaldo sempurna untuk peran ini karena ia memiliki akselerasi serta kemampuan fisik yang luar biasa, yang berasal dari hasil latihan berjam-jam di gym. Ia mampu menggunakan kekuatannya untuk melindungi bola sekaligus menendang bola dengan keras. Eksplosivitasnya menjadi pembeda terbesar dengan pemain-pemain lainnya, dan membuatnya mampu untuk menciptakan sesuatu dari situasi yang sulit. Apabila bola berada di sisi kanan, umpan silang bisa menjadi santapan yang lezat bagi Ronaldo karena kemampuannya untuk melompat dan menyundul bola.

 

Rendahnya harga yang diminta Ronaldo Ronaldo pun masuk ke dalam daftar belanja

Penyerang tengah

Ronaldo harus mengubah dirinya setelah melewati masa-masa yang tidak menyenangkan akibat cedera di pra-musim di tahun 2017 lalu. Namun, keadaan di sekitarnya juga ikut terpengaruh akibat perubahannya.

Baik itu dengan dua atau tiga penyerang di depan, Ronaldo bermain lebih statis dan lebih perhitungan untuk mengambil momennya. Marcelo dan Dani Carvajal memegang peranan penting untuk memberikan kelebaran di serangan tim, dengan Benzema bermain lebih dekat dengan kompatriotnya asal Portugal.

Isco Alarcon juga memegang peranan penting dalam perubahan yang dilakukan oleh Ronaldo. Dengan hadirnya playmaker asal Spanyol ini, Ronaldo tak perlu bergerak banyak untuk menciptakan peluang bagi dirinya sendiri. Alih-alih, ia hanya perlu untuk meningkatkan instingnya, dan bergerak di waktu yang tepat untuk menyambut umpan silang atau terobosan yang diberikan kepadanya.

Kemenangan Madrid atas Bayern München di musim 2016/2017 di Liga Champions adalah bukti bermanfaatnya perubahan yang dilakukan oleh Ronaldo. Ketimbang membuat kesempatannya sendiri, Ronaldo tinggal memberikan polesan akhir bagi kesempatan yang diberikan kepadanya, dan pada akhirnya berhasil mencetak hat-trick.

 

Ronaldo kembali membawa tangis

4-2-4 ala Zinedine Zidane

Di bulan Desember 2017 lalu, Zidane menerapkan taktik 4-2-4 dalam kemenangan 5-0 atas Sevilla, dengan Marco Asensio dan Lucas Vazquez dipasang di kedua sayap, dan dua pemain tengah yang ada bermain lebih ke dalam untuk menahan serangan lawan. Ini adalah cara terbaru untuk mengeluarkan kemampuan terbaik Ronaldo, setelah sebelumnya sempat mengalami start yang buruk di awal musim ini.

Kemenangan dengan skor 5-2 melawan Real Sociedad di bulan Februari ini juga menjadi contoh lainnya. Setelah itu, kebintangan Ronaldo membuka jalan bagi Madrid untuk mengangkangi Paris Saint-Germain (PSG) di Liga Champions. Benzema dan Ronaldo bermain sebagai dua penyerang di depan, dengan sokongan kreativitas dari lini tengah.

Asensio dan Vazquez melakukan kombinasi apik yang berujung pada gol pertama Ronaldo di Paris. Pemosisian dirinya menjadi bukti bahwa ia adalah titik fokal bagi penyerangan Los Blancos di laga itu. Benzema seringkali turun ke tengah untuk melakukan link-up, dengan Ronaldo yang menjadi target utama di kotak penalti ketika Madrid memukul PSG berbekal kecepatan tinggi.

Usia Ronaldo memaksanya untuk mengubah permainannya. Kini, ia tak lagi dapat sering-sering untuk memaksakan diri dan mengambil risiko yang tak perlu. Berawal dari pemain sayap eksplosif, kini berubah menjadi penyerang tengah penuh ketenangan. Madrid telah menunjukkan bahwa mereka memiliki energi dan kreativitas untuk menyokong seorang pemain sayap yang berubah menjadi penyerang berkelas. Ia mungkin tak seperti Ronaldo yang dulu, namun di usia yang sudah menginjak 33 tahun, ia membuktikan bahwa masih banyak yang bisa ia lakukan.

Penerjemah: Ganesha Arif Lesmana