Turun Minum Serba-Serbi

Deretan Nomor Punggung yang Diabadikan untuk Menghormati Mereka yang Berpulang

Kepergian kapten Fiorentina, Davide Astori, bukan hanya duka bagi publik sepak bola Italia, tapi juga dunia. sebagai penghormatan, nomor punggung yang menjadi ciri khas sang pemain diabadikan oleh klubnya. Inilah beberapa nomor punggung lain yang ‘dipensiunkan’ sebagai tanda penghormatan terhadap pesepak bola yang menutup usia di saat masih aktif bermain:

Davide Astori (Fiorentina dan Cagliari, nomor 13)

Kepergian mantan pemain tim junior AC Milan ini sangat tak terduga. Ketika timnya, Fiorentina, sedang bersiap-siap menghadapi tuan rumah Udinese, sang kapten ditemukan meninggal sewaktu sedang tertidur. Nomor punggung 13 pun diistirahatkan untuk mengenang pengabdiannya bersama Fiorentina dan eks timnya, Cagliari. Selamat beristirahat, Astori!

Cheick Tiote (Beijing Enterprises, nomor 24)

Putra Pantai Gading yang tujuh tahun membela Newcastle United ini meninggal pada 5 Juni 2017 lalu di Beijing, Cina. Ia sedang latihan bersama klub barunya, Beijing Enterprises, ketika terkena serangan jantung. Klub tersebut lalu mengabadikan nomor 24 milik Tioté terhitung efektif sejak 24 Juni 2017.

Marc Vivien-Foe (Manchester City-23, Lens-17, Lyon-17)

Pemain Kamerun ini meninggal di lapangan ketika sedang membela negaranya menghadapi Kolombia di ajang Piala Konfederasi 2003. Setelah kematiannya, tiga klub sekaligus mengenang jasa-jasa sang pemain. Nomor punggung 23 miliknya diabadikan di Manchester City, klub terakhir Foe bermain. Selain klub tersebut, Lens juga mengabadikan nomor 17 untuk mengenang mantan penggawanya. Satu mantan klub Foe lainnya, Lyon, sempat melakukan hal yang sama sebelum menggunakan kembali nomor tersebut sejak tahun 2008.

Miklos Feher (Benfica, nomor 29)

Pemain asal Hungaria, Miklos Feher, meninggal di lapangan pada menit ke-91 setelah memberikan umpan matang kepada rekannya yang kemudian berbuah gol. Sejak berpulangnya pemain mereka tersebut pada tahun 2004, Benfica kemudian mengabadikan nomor punggung 29 milik sang pemain.

Piermario Morosini (Livorno-25, Vicenza-25)

Mirip dengan Marc-Vivien Foe, mendiang Piermario Morosini juga dikenang oleh dua klub. Yang pertama adalah Vicenza, klub yang dibelanya selama tiga tahun. Satu lagi oleh Livorno, seragam klub terakhir yang dikenakannya ketika berpulang ke pangkuan yang kuasa pada tahun 2012.

Antonio Puerta (Sevilla, nomor 16)

Sampai sekarang, seluruh penonton di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan masih menyanyikan nama almarhum Antonio Puerta di setiap menit ke-16. Nomor tersebut memang nomor punggung yang dikenakan sang pemain ketika meninggal dunia pada tahun 2007. Nomor punggung 16 itu sempat dipensiunkan selama sepuluh tahun, sebelum diaktifkan kembali untuk dikenakan oleh sahabat karib Puerta, Jesus Navas.

Dani Jarque (Espanyol, nomor 21)

Banyak yang baru mengetahui nama pemain ini melalui tulisan di kaos dalam Andres Iniesta ketika merayakan golnya di final Piala Dunia 2010. Jarque adalah anggota tim U-19 Spanyol, bersama para nama terkenal seperti Iniesta dan Fernando Torres. ia meninggal dunia pada usia 26 tahun akibat serangan jantung, hanya sebulan setelah diberi amanat sebagai kapten Espanyol. Nomor punggung 21 miliknya pun tak tersentuh sampai sekarang di Espanyol.

Eri Irianto (Persebaya, nomor 19)

Kita beralih ke dalam negeri yakni ke salah satu klub Indonesia, Persebaya Surabaya. Nomor punggung 19 sebelumnya digunakan oleh Eri Irianto. Almarhum meninggalkan dunia ini pada laga melawan PSIM Yogyakarta. Eri yang bertabrakan dengan salah seorang pemain lawan, lalu pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit dr. Soetomo. Sampai sekarang, Persebaya Surabaya memensiunkan nomor punggung 19 milik sang legenda.

Kredit Foto: Jawapos

Choirul Huda (Persela, nomor 1)

Satu lagi mantan pemain tim nasional Indonesia yang meninggal dunia akibat bertabrakan dengan pemain lawan. Choirul Huda meninggal pada laga Persela Lamongan melawan Semen Padang. Diabadikannya nomor punggung 1 klub kota Lamongan tersebut menjadi pengingat  kesetiaan sang kapten dan penjaga gawang idola Laskar Joko Tingkir.

Diego Mendieta (Persis, nomor 33)

Kepergian Diego Mendieta adalah potret buram sepak bola Indonesia. Pemain asal Paraguay tersebut meninggal karena sakit pada tahun 2012 lalu, di tengah-tengah konflik dualisme federasi Indonesia. Persis Solo pun mengabadikan nomor punggung 33 milik Mendieta sebagai penghormatan.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.