Cerita

Menengok Setahun Kepemimpinan Azrul Ananda di Persebaya dan Masa Depan yang Menanti

Satu tahun bukanlah periode waktu yang singkat, tapi di sisi lain juga bukan sebuah periode yang kelewat panjang. Jika diibaratkan seorang bayi, usia satu tahun adalah momen di mana bayi tersebut tengah berkembang menjadi sosok yang semakin menggemaskan dan cerdas. Namun di sisi lain, ia pasti masih punya sisi rewel dan cengengnya sendiri.

Kondisi semacam itu, kurang lebih juga sedang terjadi di tubuh kesebelasan sepak bola nomor wahid dari kota Surabaya, Persebaya. Walau sudah berdiri sejak tahun 1927 silam, tapi geliat dari tim yang sempat mengalami dualisme dan kevakuman ini baru terasa kembali satu tahun silam, tepatnya pada tanggal 7 Februari 2017.

Usai statusnya sebagai anggota dipulihkan kembali oleh federasi sepak bola Indonesia (PSSI) dalam Kongres PSSI di kota Bandung, saham mayoritas Persebaya yang dimiliki oleh PT. Persebaya Indonesia diakuisisi oleh PT. Jawa Pos Sportainment (JPS) yang dikomandoi oleh Azrul Ananda.

Bersamaan dengan itu, Azrul pun mendapuk dirinya sebagai presiden klub yang baru dan bertanggung jawab penuh atas segala hal yang ada di tubuh Bajul Ijo.

Meski punya nama besar, tapi membangkitkan Persebaya agar sesuai dengan harapan Bonek yang amat suportif tapi juga kritis tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kerja keras yang konstan dan tak kenal lelah guna mewujudkan segalanya. Azrul dan manajemen yang dipunyainya pun sadar betul akan hal ini.

Baca juga: Bonek, Semakin Baik, Semakin Diuji

Semenjak jadi presiden klub, ada satu slogan yang senantiasa diucapkan oleh putra Dahlan Iskan tersebut yakni “Persebaya Selamanya”. Tak sampai di situ, Azrul juga ingin menjadikan klub yang ia kelola menjadi lebih mandiri dan sustainable.

Berkaca dari hal tersebut, sejumlah pembenahan pun coba diupayakannya. Sisi teknis dan non-teknis digarapnya sedemikian rupa demi perubahan yang disasar untuk menjadi lebih baik sehingga tim benar-benar siap tempur ketika Liga 2 dimulai.

Dari sisi teknis, pergerakan Persebaya fokus pada mengontrak para penggawa baru dan juga staf kepelatihan. Sedangkan di sisi non-teknis, Bajul Ijo terus bernegosiasi dengan banyak sponsor guna mendukung kampanye mereka di musim kompetisi 2017.

Walau sempat terdistraksi oleh kasus Iwan Setiawan yang ditunjuk sebagai pelatih Persebaya pada awal musim, tapi pelan-pelan Bajul Ijo sukses menampakkan taringnya usai Angel Alfredo Vera menduduki bangku pelatih dengan menggantikan nama pertama.

Para pemain yang sempat kesulitan menunjukkan performa terbaiknya di bawah asuhan Iwan layaknya Abu Rizal Maulana, Irfan Jaya, Miswar Saputra dan Rishadi Fauzi , akhirnya berhasil melakukannya ketika dibesut oleh Vera.

Sementara dari sisi non-teknis, keadaan Persebaya tergolong amat baik lantaran mendapat sokongan banyak sponsor seperti Kapal Api, Antangin, Go-Jek, dan beberapa nama lain.

Kombinasi yang cukup prima dari sisi teknis dan non-teknis itu akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Persebaya secara meyakinkan sukses menjadi kampiun Liga 2 setelah membekap PSMS Medan di partai final. Kesuksesan itu membuat Bajul Ijo beroleh tiket promosi ke ajang Liga 1 per musim 2018.

Namun pencapaian gemilang yang ditorehkan Persebaya di musim lalu juga diiringi oleh sejumlah problem yang amat mengganggu dan melahirkan kritikan keras dari Bonek.

Misalnya saja kasus pendistribusian tiket pertandingan, sulitnya akses ke Stadion Gelora Bung Tomo sebagai kandang Persebaya (walau semua aktivitas diluar penyewaan dan pemakaian stadion menjadi wewenang Pemerintah Kota Surabaya), ketiadaan tempat latihan milik klub (lapangan dan mes yang terletak di Jalan Karanggayam juga aset milik Pemkot Surabaya) dan berbagai masalah yang lain.

Permasalahan itu bertambah jumlahnya saat Persebaya berbenah guna menyongsong musim kompetisi 2018. Kedatangan lima penggawa anyar, masing-masing empat pemain dari Persipura Jayapura yaitu Ferinando Pahabol, Nelson Alom, Osvaldo Haay, dan Ruben Sanadi, plus satu bek jangkung dari Bhayangkara FC, Otavio Dutra, menimbulkan protes dari Bonek.

Baca juga: Aroma Papua yang Semakin Kental di Persebaya Surabaya

Sialnya, situasi itu terlihat makin pelik begitu nama Arthur Irawan mendapat kesempatan trial bersama Bajul Ijo. Padahal, kemampuan pemuda asli Surabaya itu dinilai sangat jauh dari kata mumpuni. Bonek semakin murka tatkala Arthur disebut-sebut telah menandatangani kontrak dengan Persebaya kendati pihak klub tidak mengumumkannya secara resmi.

Di sisi lain, pemain yang menjadi pujaan Bonek yaitu Andik Vermansah, justru tidak mendapat kesempatan serupa. Bahkan, Azrul sempat mengeluarkan surat terbuka yang ia tujukan kepada pemuda asli Jember itu terkait proses negosiasi yang berbelit-belit di antara kedua belah pihak.

Seperti yang telah saya catut di bagian awal artikel, mengelola Persebaya bukanlah pekerjaan mudah dan Azrul tentu paham dengan situasi itu. Selama satu tahun terakhir, pujian sekaligus cacian menjadi bumbu penyedap dalam usahanya membentuk Bajul Ijo jadi sebuah kesebelasan yang mandiri dan sustainable.

Tantangan buat Azrul pun terasa makin berat di musim ini lantaran ia sudah memutuskan untuk berpisah dari pihak Jawa Pos, perusahaan media kelas atas di Jawa Timur yang selama ini menaungi PT. JPS. Dengan kata lain, di titik inilah usahanya buat membentuk Persebaya jadi klub profesional yang sesuai dengan ikrarnya dimulai.

Bermain di kasta teratas pasti mendatangkan ekspektasi lebih dari Bonek. Terlebih, pihak manajemen juga sudah mencanangkan target untuk finis di papan tengah yang tidak terlalu jauh dari papan atas. Jika disederhanakan, bertengger di posisi lima sampai delapan klasemen akhir merupakan sasaran realistis Bajul Ijo.

Satu tahun pertama Azrul di Persebaya dilaluinya dengan tensi yang naik dan turun. Akan tetapi, ia juga harus menyiapkan diri dengan tantangan-tantangan lain yang sudah menantinya di tahun kedua mengelola Bajul Ijo. Bersinergi dengan Bonek bisa menjadi kunci penting yang dapat membantu Azrul dan manajemennya untuk membawa klub ini ke arah yang lebih baik.

Sukses dan gagal punya jarak setipis kertas. Pun begitu dengan pujian dan cacian dari Bonek. Tak ada keputusan yang dapat membahagiakan semua pihak, tapi jika Azrul bisa membentuk Persebaya sebagai kesebelasan profesional yang mandiri dan sustainable, maka acungan jempol begitu layak untuk didapatkannya.

#Wani

Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional