Eropa Italia

Mengagumi Gianluigi Buffon sebagai Rival

Sebagai pencinta AS Roma, agak aneh ketika mengidolakan pemain dari Juventus ataupun rival yang lain. Namun, hal ini tak berlaku bagi saya saat mendaku diri mengidolakan Gianluigi Buffon. Buffon memenuhi segala kriteria untuk diidolakan.

Buffon adalah alasan saya saat masih sekolah dasar selalu bermain menjadi penjaga gawang. Bahkan saya masuk ke sekolah sepak bola , dan menjadi kiper, demi memenuhi hasrat menjadi Buffon. Buffon adalah legenda Italia. Ia pewaris takhta kapten Italia. Di posisi kiper, hingga detik ini rasa-rasanya belum ada kiper yang bisa menggantikan posisinya di timnas Italia.

Gianluigi Donnarumma yang banyak dianggap akan menggantikan posisinya di timnas Italia, masih terlalu jauh. Gigio ibarat anak kecil ingusan yang belum bisa disandingkan seperti Buffon yang seperti orang tua hebat yang memiliki kemampuan segudang.

Saat ia bermain bersama Juventus, selalu ada gejolak hati. Ingin melihat Juventus kalah, namun di saat yang bersamaan, ada rasa tak tega melihat Buffon memungut bola dari gawangnya sendiri.

Pun saat Buffon merayakan kemenangan Juventus. Ada rasa getir saat melihat Juventus berbahagia, namun ada sedikit senyum saat melihat Buffon bisa merasakan kegembiraan. Tekanan batin bagi seorang yang mengidolakan Buffon namun bukan seorang suporter Juventus.

Maka, saat Juventus dua kali masuk final Liga Champions, saya yakin mayoritas penggemar Serie A dan Italia yang berharap Juventus menang adalah mereka yang ingin melihat Buffon meraih gelar Liga Champions untuk yang terakhir kali. Sebelum akhirnya Buffon memutuskan untuk menepi dari dunia sepak bola.

Buffon adalah “representasi” terbaik dari Italia. Ia adalah wajah asli dari Italia. Setelah Francesco Totti yang lebih dahulu purnatugas, maka Buffon adalah orang terakhir yang bisa menyabet gelar kesetiaan.

Tentu akan banyak perdebatan. Buffon bukan berasal dari Juventus dan memulai kariernya di tim Si Nyonya Tua. Sebelum bermain di Juventus, ia bagian dari skuat “mewah” Parma.

Berkali-kali digoda, dan berkali-kali pula ia tolak. Saat Juventus terjerembab karena kasus Calciopoli dan banyak rekan satu timnya memutuskan hengkang, Buffon bergeming. Masih kurang setia?

Bukti kesetiaan Buffon adalah hanya Juventus yang bisa membuat Buffon mengoreksi keinginannya untuk pensiun akhir musim nanti. Juventus atau klub lain, ia mantap menjawab, “Juventus atau tidak sama sekali.”

Sebuah jawaban yang lugas, tegas, dan presisi. Sebuah jawaban yang akan menjawab segala keraguan perihal kesetiaan.

Tak hanya kesetiaan, Buffon adalah simbol profesionalisme. Alex Manninger menyebut Buffon sebagai pemain kelas dunia yang wajib ditiru oleh siapapun yang memiliki cita-cita menjadi seorang penjaga gawang.

Sikap profesionalisme Buffon datang dari keluarganya yang merupakan keluarga atlet. Sang ayah adalah atlet angkat besi. Dua saudara perempuannya adalah pevoli profesional dan sang paman adalah pebasket.

Sedari dini Buffon sudah dikenalkan dengan profesionalisme. Bukti kecil dari profesionalisme Buffon adalah saat ia menyerahkan masa depannya pada Juventus. Baginya, Juventus dan rekan satu timnya adalah yang utama. Jika bertahan di Juventus akan menyulitkan Juventus, maka ia memilih untuk pensiun.

“Aku tak ingin menjadi masalah bagi Juventus,” ujarnya suatu waktu.

Ketika pemain lain selalu ingin tampil di lapangan, Buffon mengesampingkan kepentingan pribadinya dan mendahulukan kepentingan bersama. Buffon adalah sosok yang romantis. Setidaknya bagi saya. Kalimat-kalimat tentang Dilan yang sedang viral, tak akan mampu mengalahkan romantisnya ucapan Buffon pada Totti saat Totti memutuskan pensiun.

Artinya kira-kira begini:

“Kami tumbuh bersama. Kami saling berhadapan satu sama lain sebagai lawan. Kami melakukan selebrasi dan menangis bersama. Semoga kehidupanmu berjalan indah, apa pun jalan yang kau tempuh.”

Tusuk aku, Buffon. Tusuk akooeeeh.

Andai mesin waktu Doraemon benar-benar ada di dunia nyata, maka pemain seperti Francesco Totti dan Buffon tak akan lekang oleh zaman. Mereka akan terus bermain hingga mereka yang memutuskan sendiri tak akan lagi bermain bola.

Selamat ulang tahun, Gigi Buffon. Segala rivalitasmu dengan Totti akan menjadi rivalitas, sekaligus cerita persahabatan, yang paling indah untuk dikenang.

Buon compleanno, legenda!

Author: Alief Maulana (@aliefmaulana_)
Ultras Gresik yang sedang belajar menulis di serigalagiras.wordpress.com