Eropa Lainnya

Marco van Basten yang Selalu Topklassen

Berpostur setinggi 188 sentimeter dan berkaki panjang, persepsi kita pasti akan merujuk pada pemain yang jago dalam duel udara dengan gaya bermain keras. Namun, semua pandangan itu tidak berlaku pada Marco van Basten. Sebelum Zlatan Ibrahimović terkenal dengan pemain raksasa yang memiliki sihir luar biasa, The Flying Dutchman lebih dulu menggemparkan jagat sepak bola lewat gol-gol indahnya.

Lahir dengan nama Marcel van Basten tepat pada hari ini, 53 tahun yang lalu, nama van Basten sangat harum di kalangan pendukung Ajax Amsterdam, AC Milan, dan timnas Belanda. Ia termasuk anggota trio Belanda di Milan, dan sederet gelar prestisius telah ia dapatkan sepanjang kariernya. Di antaranya adalah dua trofi Liga Belanda, tiga scudetti, dua Piala Champions, dan medali emas Piala Eropa 1988.

Dari torehan individu, pemain yang disanjung Fabio Capello sebagai penyerang terbaik yang pernah dilatihnya ini pernah empat kali menjadi top skor Liga Belanda, dua kali menjadi capocannoniere, tiga kali terpilih sebagai pemain terbaik Eropa, dan sekali dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Itu belum termasuk segudang penghargaan individu lainnya seperti Sepatu Emas Eropa, tim terbaik turnamen, juga menjadi bagian dalam 100 pemain terbaik yang dirilis FIFA pada 2004.

Marco van Basten memang topklassen (kelas atas). Dengan bangun tubuh yang tinggi, ia tidak kesulitan meliuk-liuk melewati hadangan lawan, padahal gerakannya cukup sederhana. Dalam video di bawah ini, terlihat bahwa cara van Basten melewati lawan tidaklah rumit. Cukup membuat bola tetap berada dalam jangkauan, disertai dengan insting menebak gerakan lawan, jadilah sebuah mahakarya aksi yang menawan.

Mamayo kalau kata Iwan Sukmawan. Bam!, kalau kata Vennard Hutabarat. Menyaksikan van Basten menari-nari di atas catwalk berbentuk lapangan rumput di dalam stadion, membuat siapapun dapat terkesima, tak terkecuali kawan maupun lawan. Itulah sebabnya mengapa cedera panjang yang harus membuatnya pensiun dini adalah musibah bagi dunia sepak bola.

Di musim 1993/1994, ketika Milan berhadapan dengan Ancona, cedera kaki van Basten kambuh yang membuatnya absen sepanjang musim. Ia pun harus mengubur mimpinya untuk tampil di Piala Dunia 1994, juga tidak bisa memperkuat I Rossoneri di final Liga Champions melawan Marseille. Hasilnya, Milan harus merelakan Si Kuping Besar terbang ke Prancis karena kalah 0-1 dari L’OM.

Jagonya tendangan voli

Inilah kemampuan super yang membuatnya sangat ditakuti lawan di kotak penalti. Dari sudut manapun, di posisi bagaimanapun, dengan kaki bagian manapun, ketika bola melayang setinggi lutut, itulah saat terbaik bagi van Basten untuk meluncurkan roket berbentuk bulat ke gawang lawan.

Golnya di final Piala Eropa 1988 ke gawang Uni Soviet menjadi contoh terbaik. Umpan silang yang dikirim Arnold Mühren pada van Basten di tepi kotak penalti sebenarnya tanggung, terlalu rendah untuk disundul dan terlalu tinggi untuk ditendang. Penyerang semenjana mungkin akan berpikir untuk mengontrolnya dan membalikkan badan untuk memberikan bola pada pemain yang bergerak masuk dari belakang. Namun, van Basten justru berpikiran lain.

Ia seakan-akan memberi isyarat pada bola tersebut bahwa inilah saatnya bagimu untuk lepas landas, melesat kencang ke tujuan akhirmu di jala gawang. Tanpa kontrol, pemain bernomor punggung 12 itu melakukan tendangan voli yang menjadi salah satu gol terbaik sepanjang masa.

Saking dahsyatnya, gol van Basten tersebut sampai membuat gol pembuka Ruud Gullit sedikit terlupakan, dan membuat pamor kiper Hans van Breukelen yang menggagalkan penalti Uni Soviet kalah terang. Mamayo! Bam! Jebret! Jika van Basten bermain di Liga Indonesia, mungkin bibir komentator akan pecah karena terlalu sering berteriak kegirangan saat sang pemain mencetak gol.

Fijne verjaardag, Marco! 14 tahun adalah karier yang singkat bagi aktor lapangan hijau, tapi namamu akan kekal sepanjang masa sebagai salah satu legenda sepak bola terbesar Belanda.

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.