
Luka Modric
Gelandang asal Kroasia ini adalah sosok playmaker modern. Ia tak berdiri di belakang penyerang seperti pengatur serangan tradisional. Ia sering bermain melebar, memanfaatkan kemampuan menggiring bola untuk merangsek. Pergerakannya sangat efektif, baik dengan atau tanpa bola. Visinya sangat tajam, dengan kemampuan umpan kelas dunia.
Meski bertubuh kecil, Modric seperti kebal dengan tekanan lawan. Gesit, membuat Modric dapat menghindari lawan dengan mudah. Gelandang berusia 32 tahun ini akan selalu memastikan bahwa Madrid selalu mencapai sepertiga akhir lapangan untuk mencetak gol. Kreativitasnya sering diremehkan. Namun Modric adalah “otak” Madrid sesungguhnya.
Toni Kross
Gelandang asal Jerman ini seperti penembak jitu. Umpannya sangat akurat, mendekati 100 persen hampir di setiap laga. Kroos punya jangkauan umpan yang sangat luas. Di mana pun penyerang Madrid berdiri, Kroos seperti selalu bisa menggapainya. Umpan diagonal dan vertikal antar-lini adalah salah satu senjata Madrid musim lalu.
Seperti Casemiro, mantan gelandang Bayern München ini adalah penyeimbang Madrid. Tak jarang, ia berposisi paling dalam dalam susunan tiga gelandang Madrid. Ia tak hanya jago membangun serangan, Kroos menggunakan kecerdasannya untuk bertahan. Dengan Kroos dan Modric, Madrid punya dua arsitek yang bisa saling bersinergi.
Isco Alarcon
Ketika tengah berada dalam kesulitan atau penderitaan yang berat, sebaiknya pembaca mengingat nama Isco Alarcon. Nama Isco adalah narasi paling indah tentang kerja keras untuk menembus batas diri sendiri. Gelandang asal Spanyol ini menunjukkan bakat saja tak bisa membawamu berlari jauh di dunia sepak bola.
Pernah tersisih dan terasing, Isco menyadari bahwa kesulitan yang ia derita bukan salah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Kesadaran itu yang membuatnya tahan dengan derita. Apa hasil kerja keras Isco? Menjadi pemain yang krusial dalam perjalanan Madrid mempertahankan gelar Liga Champions musim lalu.