
Dari SSB dan kembali ke SSB
Dalam penuturannya pada Juara, pria yang pada hari ini berulang tahun ke-41 ini mengatakan bahwa kariernya di dunia kulit bulat ia mulai pada tahun 1986 ketika bergabung dengan Fortuna Sukoharjo, Sekolah Sepak Bola (SSB) pertamanya.
“Saya masih ingat bagaimana harus mendaftar ke SSB yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Namanya Fortuna Sukoharjo di Kabupaten Sukoharjo. Itu SSB pertama saya sekitar tahun 1986. Saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan mesti naik bus sepulang sekolah untuk ke tempat latihan,” ujar legenda yang pernah berkarier di PSIS Semarang, Persiba Bantul, Persik Kediri, dan Persih Tembilahan ini.
Berkat performa impresifnya, ia pun mendapat panggilan untuk terbang ke Italia, berlatih bersama PSSI Primavera, hingga menjadi pemain tenar di sepak bola nasional pada pertengahan tahun 1990-an.
“Primavera menjadi tonggak karier saya hingga akhirnya bisa menjadi seperti saat ini. Pada usia 16 tahun sudah bermain dan tinggal di luar negeri, di mana anak-anak seumur saya saat itu masih merasakan nikmatnya menjadi siswa SMA, adalah sebuah kenangan yang tidak terlupakan. Saya mengejar masa depan saya di sana dan itu menjadi pengalaman berharga untuk anak didik saya saat ini,” kisahnya seperti dikutip dari Bola.
Ya, betul, anak didik. Sebutan itu diungkapkan oleh Indriyanto, karena setelah membawa Persepam Madura United promosi ke Indonesia Super League (ISL) tahun 2013 lalu, ia memutuskan gantung sepatu dan meniti karier menjadi juru taktik, dimulai dari tingkat SSB.
Uniknya, meski ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Solo, namun tawaran pertama untuk melatih justru datang dari SSB Kabomania di Bogor. Adalah sang adik, Haryanto ‘Tommy’ Prasetyo, yang mengajaknya ke sana setelah Indriyanto mendapat lisensi kepelatihan C AFC.
Sebagai informasi tambahan, Indriyanto memang dilahirkan di keluarga yang lekat dengan aroma sepak bola. Mulai dari kakek, ayah, dan kedua adiknya, pernah meniti karier sebagai seniman lapangan hijau. Bahkan, ibunya juga sempat bermain di kompetisi Galanita sekitar tahun 1982.
Kembali ke kariernya di tepi lapangan, ketekunannya untuk membina bibit muda akhirnya membuahkan hasil. Ia terpilih sebagai pelatih untuk tim Indonesia yang diberangkatkan ke Piala Gothia 2015 di Swedia. Pria yang selama tiga tahun dipercaya mengenakan seragam timnas ini mengalahkan empat kandidat pelatih lain melalui adu presentasi.
***
Namanya memang sudah lama sekali menghilang dari keriuhan kompetisi sepak bola nasional. Akan tetapi, meski pemain-pemain muda dan legiun asing bintang lima di Indonesia Super League (ISL), Torabika Soccer Championship (TSC), maupun Go-Jek Traveloka Liga 1 selalu datang silih berganti, sejuta kenangan terindah tentang kiprah Indriyanto Nugroho takkan lekang oleh waktu.
Dalam dua tahun ke depan, ia berharap dapat dipercaya menangani klub Liga 2. Di hari ulang tahunnya ini, mari kita doakan agar keinginannya tersebut dapat tercapai, sehingga kelak ia dapat kembali ke kasta tertinggi sepak bola nasional. Sebagai pelatih dengan 100 variasi taktik yang berawal dari uang 100 rupiah.
Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.