Nasional Bola

Usai Indonesia Melawan Fiji dan Cerita Kusut yang Belum Surut

Kredit: PSSI

Dan sepak bola Indonesia kembali berduka

Sekali lagi, cerita tentang sepak bola memang tidak akan ada habisnya. Dalam satu pertandingan, sepak bola tidak hanya memberi satu cerita. Contoh terdekat ada dalam laga Indonesia melawan Fiji. Setelah cerita tentang hasil tak memuaskan dan jersey bekas yang  memalukan, masih ada cerita lain yang datang dari luar lapangan.

Cerita yang datang dari luar lapangan ini adalah cerita menyedihkan. Ya, satu nyawa penikmat sepak bola melayang di tribun Stadion Patriot Chandrabhaga. Cerita bermula seusai wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Dan petasan konyol adalah kuncinya.

Memang, seusai laga berakhir, ada oknum suporter yang menyalakan petasan di tribun selatan. Petasan dilemparkan ke tribun timur. Fatalnya, petasan tersebut mengenai salah seorang suporter di tribun timur yang diketahui bernama Catur Yuliantono. Pria asal Duren Sawit itu pun terluka dan meregang nyawa ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Kejadian mengejutkan ini tentu harus menjadi pelajaran bagi semua pihak yang bersinggungan dengan sepak bola. Dalam hal barang bawaan penonton, pihak keamanan adalah kuncinya. Oleh karena itu,  pihak keamanan harus jeli dalam mengontrol barang bawaan. Jika botol air mineral saja tidak bisa masuk, petasan pun seharusnya diperlakukan serupa.

Untuk suporter, ini adalah pelajaran berharga. Sesungguhnya, nyawa yang melayang karena menonton sepak bola tidak hanya diakibatkan oleh rivalitas tidak sehat yang kelewat batas. Melalui hal yang kita tidak pernah kita bayangkan, nyawa penikmat sepak bola bisa melayang sia-sia. Buktinya sudah nyata di depan mata. Oleh karena itu, segala hal yang dilarang masuk stadion tidak perl dibawa. Nikmatilah sepak bola dengan cara terbaik.

Dan untuk aparat penegak hukum, tindak tegaslah pelakunya. Dalam kasus semacam itu, hukum harus berbicara. Harapannya tentu agar cerita duka serupa tidak terjadi lagi nantinya.

Sesungguhnya, tidak ada nyawa yang pantas untuk membayar tontonan sepak bola. Apalagi untuk sepak bola kusut seperti sepak bola Indonesia. Duka sepak bola kita cukup duka pada kondisi yang ‘gitu-gitu aja’. Jangan tambah duka sepak bola kita dengan hilangnya nyawa suporter yang mencintainya.

Dan….selamat jalan, bung Catur. Semoga damai di sisi Tuhan.

Author: Riri Rahayuningsih (@ririrahayu_)
Mahasiswi komunikasi yang mencintai sepak bola dalam negeri