Kelebihan dan kekurangan
https://www.youtube.com/watch?v=jUD0LbpeQ-o
Sudah menjadi rahasia umum apabila Interisti kurang menyukai tipe permainan dari Antonio Candreva di area sayap kanan Inter. Mereka menganggap jika lelaki kelahiran Roma itu bukanlah representasi winger modern yang gesit dan eksplosif serta kerap melakukan cut inside guna menusuk jantung pertahanan lawan sekaligus memberi opsi tambahan dalam fase menyerang.
Gaya main Candreva dinilai terlalu klasik lantaran lebih banyak beroperasi di wilayah sayap untuk mengirim umpan silang ke kotak penalti. Padahal, dengan pengalaman segudang serta kemampuan apik yang dimilikinya, Interisti berharap jika Candreva bisa mengimbangi performa cemerlang Ivan Perisic yang mengokupansi area sayap kiri La Beneamata.
Lalu, apakah Karamoh bisa menjawab asa Interisti akan keberadaan winger eksplosif lain?
Bercermin pada video di atas, Karamoh yang sering merumput di posisi winger kanan, walau bisa juga turun sebagai winger kiri, tentu bisa menyediakan opsi yang lebih bervariasi untuk Spalletti. Berbeda dengan Candreva yang pergerakannya statis dan tak memiliki kecepatan prima, penampilan Karamoh memang sedikit mirip dengan Perisic.
Bermodal kecepatan dan footwork yang mumpuni, penampilan Karamoh memang lebih gesit dan liat. Ketika bola ada di kakinya, pemain yang di Inter bakal mengenakan seragam bernomor punggung 17 ini pun tak ragu untuk melakukan giringan sembari beradu sprint dengan pemain lawan agar mendapat kesempatan lebih luas dalam menciptakan atau malah mengeksekusi peluang.
Tak sampai di situ, Karamoh juga memiliki nyali besar sehingga berani melakoni duel-duel fisik walau ukuran tubuhnya cenderung kecil. Keberanian itu juga yang membuatnya tak ragu untuk melakukan sejumlah trik agar lepas dari penjagaan pemain lawan.
Terlepas dari sejumlah kelebihan yang dimilikinya, Karamoh juga masih punya beberapa kelemahan. Layaknya pemain-pemain belia, karakter individualis Karamoh masih terlihat menonjol. Entah karena ingin membuktikan diri bahwa ia punya kemampuan lebih atau cuma sekadar pamer skill belaka. Walau harus diakui, skill yang dimiliki pemain kelahiran Abidjan ini juga belum terlalu istimewa.
Saat bermain, Karamoh sering tertangkap melakukan aksi-aksi solo, meski berada di situasi terjepit, ketimbang memperluas opsi serangan atau mempertahankan penguasaan bola via kerja sama bersama rekan-rekannya yang berposisi lebih bebas. Kondisi ini pada akhirnya sering membuat fase serangan tim yang ia bela justru tersendat dan peluang yang ada di depan mata terbuang percuma.
Kemampuan finishing yang dipunyai Karamoh juga belum begitu prima meski di sejumlah situasi pertandingan, dirinya berada di posisi yang menguntungkan untuk menceploskan gol ke gawang lawan. Jika turun berlaga, hal ini tentu bisa menjadi sedikit problem andai Mauro Icardi atau Perisic dijaga ketat oleh penggawa lawan.
Namun tenanglah Interisti, sejumlah penilaian awal di atas tak sepatutnya membuat Anda khawatir secara berlebihan karena saya pun yakin jika Spalletti sudah mengantongi plus-minus yang dimiliki Karamoh bahkan sejak namanya mengemuka jadi incaran La Beneamata. Manajer berkepala plontos dan staf kepelatihannya pasti memiliki cara buat menggembleng Karamoh agar semakin matang.
Mengingat usianya masih begitu muda, Karamoh juga memiliki banyak waktu untuk terus memacu diri dan meningkatkan kemampuan supaya bisa menjadi sesosok winger brilian di masa yang akan datang. Jika tak sesempurna performa Lionel Messi, Arjen Robben maupun Cristiano Ronaldo, setidaknya Karamoh bisa menyamai level Perisic yang kini semakin dicintai Interisti dan investasi La Beneamata untuknya tidak sia-sia.
Asal jangan seperti Jonathan Biabiany versi 2.0 ya, Yann!
Author: Budi Windekind (@Windekind_Budi)
Interista gaek yang tak hanya menggemari sepak bola tapi juga american football, balap, basket hingga gulat profesional