Eropa Lainnya

Hari Terakhir Bursa Transfer Musim Panas 2017: Pembelian Tak Terduga, Kesempatan Kedua, dan Akhir Sebuah Era

Kieran Gibbs

Akhir sebuah era

Ada pertemuan, ada perpisahan. Begitu pula dengan jalan hidup para pesepak bola. Bursa transfer yang merupakan waktu terbaik bagi para pemain untuk berpindah klub, tak melulu menyajikan cerita-cerita pembelian mahal, tapi juga meninggalkan kisah sedih tentang akhir dari sebuah era.

Jussi Jääskeläinen mendarat di Liga Primer Inggris pada tahun 1997 silam dengan berbalut seragam Bolton Wanderers. 14,5 musim ia habiskan bersama The Trotters dalam suka maupun duka, sebelum bergabung dengan West Ham United, Wigan Athletic, dan yang terbaru, Atlético de Kolkata, klub kontestan Liga Super India yang diasuh oleh Teddy Sheringham.

Meski masa edarnya di Liga Primer Inggris belum sepanjang Jääskeläinen, nama Tim Krul tetap melekat di hati para suporter Newcastle United karena merupakan bagian dari masa keemasan The Magpies di musim 2011/2012. Musim di mana tim asuhan Alan Pardew menjadi kuda hitam di Liga Primer Inggris dan finis di posisi kelima berkat penampilan impresif Demba Ba, Papiss Cissé, Yohan Cabaye, dan almarhum Cheick Tioté. Kini, semuanya telah angkat kaki dari St. James’ Park, termasuk Krul yang menyeberang ke Brighton sebagai pemain pinjaman dari Newcastle.

Nasib serupa juga dialami Danny Drinkwater. Sukses membawa Leicester City juara Liga Primer Inggris musim 2015/2016, ia kini mengikuti jejak rekannya, N’Golo Kante untuk pindah ke Chelsea. Bersatunya kembali gelandang ‘peminum air (drinkwater)’ dengan pengangkut air ini semakin jelas menunjukkan bahwa cepat atau lambat, para penggawa The Foxes dua musim lalu akan segera terpecah, yang dimulai dengan pemecatan Claudio Ranieri.

Bergeser ke sisi merah kota London, hengkangnya Kieran Gibbs merupakan senjakala sebuah era di Colney yang kisah pilunya dapat Anda baca di sini. Gibbs, bersama Oxlade-Chamberlain, merupakan dua nama terbaru yang hengkang dan mengakhiri era pemain-pemain asli Britania di Arsenal.

Setelah berkeliling di kasta tertinggi di liga-liga top Eropa, kali ini saya akan mengajak Anda untuk sedikit menengok ke bawah, tepatnya di Serie B, untuk mengingat kembali seorang pemain yang pernah disebut sebagai kloning dari Roberto Baggio. Ia bernama Alessandro Diamanti.

Bersama Marco Di Vaio, pemain yang lihai mengeksekusi tendangan bebas ini sempat membawa Bologna menjadi klub pembunuh raksasa di Serie A, dan AC Milan menjadi salah satu korbannya. Ia juga termasuk bagian dari penggawa Gli Azzurri yang menjadi runner-up di Piala Eropa 2012 dan meraih tempat ketiga di Piala Konfederasi 2013.

Tepat pada 31 Agustus lalu, kontraknya tidak diperpanjang Palermo. Belum diketahui tujuan selanjutnya, apakah ia akan pensiun, merantau ke liga-liga pinggiran, atau mampir ke Indonesia sebagai marquee player.

Satu hal yang pasti, menghilangnya nama Diamanti dari sepak bola Italia adalah akhir dari sebuah era talenta lokal Serie A di tahun 2010-an yang membesarkan nama Alessandro Matri, Federico Balzaretti, Antonio Nocerino, Sebastian Giovinco, juga para stranieri seperti Alexis Sanchez, Edinson Cavani, dan Kevin-Prince Boateng.

Akhir kata, saya ucapkan selamat untuk para pemain yang berhasil pindah ke klub yang diinginkan. Jangan mudah menyerah untuk kalian yang berusaha mengembalikan sentuhan terbaiknya, dan terima kasih pada para gladiator lapangan hijau yang sempat menorehkan tinta emas di klub lamanya dan kini akan memulai petualangan baru.

Semoga kesuksesan selalu mengiringi perjalanan karier kalian!

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.