

Hikayat si Badai Biru
Persma Manado resmi berpartisipasi untuk pertama kalinya di kasta tertinggi sepak bola nasional pada Liga Indonesia (Ligina) jilid dua di musim kompetisi 1995/1996. Badai Biru, julukan Persma, saat itu sangat “beraroma” Amerika Latin dengan trio pemain asing dan pelatih yang berasal dari Cile.
Permainan Rodrigo Araya, Juan Rubio, dan Nelson Sanchez, di bawah arahan pelatih Manuel Vega, berhasil mempertontonkan permainan yang atraktif sepanjang musim tersebut walau hanya finish di urutan sebelas klasemen akhir Wilayah Timur.
Pada Ligina jilid tiga, di musim kompetisi 1996/1997, tim yang identik dengan warna biru kuning ini diperkuat oleh para pemain muda yang sukses meraih perunggu pada PON XIV yang bahu-membahu bersama trio Kamerun, Onana Jules Denis, Ebongue Ernest, dan Jean Pierre Fiala.
Masyarakat Manado waktu itu benar-benar dibius dalam euforia setelah Persma berhasil lolos ke babak 12 besar, yang merupakan prestasi terbaiknya. Penulis masih ingat benar, setiap hari Rabu dan Minggu sore adalah hari di mana Stadion Klabat, markas Persma, berubah menjadi lautan manusia, kala menjamu lawan-lawannya.
Pada tahun selanjutnya, di musim kompetisi 1997/1998, sebelum kompetisi dihentikan di tengah jalan karena terjadinya gangguan keamanan dan kerusuhan masal di beberapa daerah, Persma berada di urutan dua klasemen Wilayah Timur.
Saudara sepulau PSM Makassar adalah musuh abadi Persma, dan laga yang mempertemukan keduanya akan selalu dikenal dengan sebutan “Derby Sulawesi”. Alasan dibalik rivalitas keduanya dijelaskan oleh mantan bek kiri Persma, Feliks Lasut, sewaktu diwawancarai oleh Tribun Manado pada tahun 2012. “Musuh kami hanya dua, yaitu PSM Makassar dan Persipura Jayapura. Kedua tim itu merupakan saingan terberat kami, apalagi PSM,” ujarnya.
“Persma yang langsung menjelma sebagai kekuatan baru pada tahun keduanya di Liga Indonesia, rupanya membuat PSM ketar-ketir. Sebagai kekuatan lama, Makassar rupanya ingin menelan kami. Sebaliknya, kami ingin mengudeta Makassar. Pertemuan dengan PSM selalu seru dan panas, kami selalu ingin mengalahkan PSM,” lanjutnya.
Setelah tahun 2000, Persma mengalami kemunduran seiring tak lagi menjabatnya E.E. Mangindaan, tokoh sepak bola nasional yang berjasa mengangkat kiprah Persma sejak tahun 1995, sebagai Gubernur Sulawesi Utara. Setelah terhempas ke kasta kompetisi yang lebih rendah sejak tahun 2002, Persma sempat merasakan kembali bermain di level tertinggi Liga Indonesia tahun 2007 bersama dua saudara mudanya, Persmin Minahasa dan Persibom Bolaang Mongondow.
Di tahun 2008, tahun dimulainya Liga Super Indonesia jilid pertama, PSSI mengusung semangat profesionalisme penuh pada seluruh kompetisi yang dikelolanya, dengan melarang penggunaan uang APBD dalam pengelolaan tim sepak bola. Hal ini membuat tim-tim yang sangat bergantung pada dana APBD, termasuk Persma, kolaps.
Tak hanya sampai di situ, Persma dituntut hingga ke badan tertinggi sepak bola dunia FIFA oleh pemain asingnya, buntut permasalahan kontrak yang tidak dipenuhi oleh manajemen dan Anda pasti akan terkejut dengan respons FIFA terkait hal ini. Ya, penulis dan masyarakat Manado waktu itu sangat terkejut dengan keputusan FIFA yang memerintahkan PSSI untuk “menyuntik mati” tim kebanggaan Kota Tinutuan tersebut, dalam bentuk pencoretan dari keanggotaan PSSI. FIFA pasti memiliki penilaian tersendiri dengan keputusannya tersebut yang otomatis menghapus nama Persma Manado dari peta sepak bola Indonesia.
Sepanjang kiprahnya di sepak bola nasional, Persma telah berhasil menelurkan pemain-pemain berkualitas dalam diri Francis “Enal” Wewengkang, Stanley Mamuaya, Jendri Pitoy, dan Firman Utina yang semuanya pernah membela timnas. Juga para pemain seperti Hendra Pandeynuwu, Joice Sorongan, dan Alan Mandey, yang merupakan bagian dari generasi emas sepak bola Manado.