Other Editions

Perseru yang Jauh dan Cenderung Terabaikan

Perjuangan Perseru Serui dalam mengarungi kancang Go-jek Traveloka Liga 1 cukup berat. Selain masih terdampar di papan bawah, tim Cenderawasih Jingga juga mulai sering terbentur kenyataan pahit, yaitu kendala geografis.

Akhir-akhir ini, berbagai media olahraga nasional seolah-olah berlomba-lomba merilis tulisan bernada dramatis tentang perjalanan panjang klub peserta Go-jek Traveloka Liga 1 yang akan bertandang ke rumah Perseru. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah ketika klub Indonesia dengan domisili di wilayah paling barat, yaitu Semen Padang, harus melewati perjalanan panjang nan melelahkan untuk sampai ke Serui.

Jarak antara Kota Padang dan Serui yang terbentang ribuan kilometer memang membutuhkan beberapa jenis transportasi. Meski menggunakan pesawat terbang, Semen Padang tak bisa dibilang mudah untuk mencapai Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, markas Perseru.

Semen Padang harus terbang dulu ke Bandara Soekarno-Hatta untuk transit. Setelah itu, mereka harus menumpang pesawat lain menuju Makassar. Belum selesai perjalanan, mereka harus terbang ke Biak, Papua. Dari Biak, perjuangan sebenarnya baru dimulai. Mereka harus menumpang pesawat kecil untuk mencapai Kepulauan Yapen. Total perjalanan yang harus ditempuh mencapai 20 jam lebih.

Memang sukar dibayangkan kondisi para pemain ketika akhirnya sampai di Serui. Seluruh tubuh mereka pasti terasa remuk redam. Maka, tak heran jika banyak klub peserta Liga 1 yang tumbang di Stadion Marora, kandang Perseru. Untuk Liga 1 2017, hanya PSM Makassar sejauh ini yang berhasil meraup poin penuh di Serui.

Perseru memang sempat terusir dari kandang mereka itu selama bulan Ramadan 2017 lalu. Jadwal yang dilangsungkan selama bulan Ramadan mengharuskan semua pertandingan dilaksanakan malam hari, sedangkan lampu stadion Marora tak memadai. Alhasil, Perseru kehilangan poin tiga kali di kandang. Padahal sebenarnya Cenderawasih Jingga tak berlaga di rumah mereka sendiri.

Kembali lagi ke pembahasan mengenai perjalanan ke Serui tadi, bisa dipahami jika Serui menjadi tempat angker bagi tim lawan. Selama gelaran Torabika Soccer Championship 2016 lalu, Perseru selalu meraih poin jika bermain di hadapan pendukung mereka. bahkan mereka sempat disebut tim ‘mistis’ karena hampir selalu menang di Stadion Marora.

Tak heran jika bisa dibilang Perseru adalah salah satu klub paling dibenci di Liga 1 saat ini. Tak akan ada tim peserta Liga 1 yang merasa senang jika harus melakoni tur ke Serui. Malah, seperti kasus Semen Padang tadi, perjalanan jauh hanya menjadi mimpi buruk yang harus dilewati sebelum bertanding.

Bukan hanya itu, kendala geografis pun menjadi penghalang siaran langsung dari Serui. Stasiun televisi pemegang hak siar Liga 1 kewalahan jika harus menanggung biaya operasional pengangkutan alat-alat produksi siaran televisi ke Serui. Alhasil, sejak TSC 2016 hingga Liga 1 2017, tak satu pun siaran langsung dari kandang Perseru. Bahkan, pemegang rating televisi tertinggi, Persib Bandung pun tak disiarkan ketika bertandang ke Serui akhir Juli 2017 lalu.

Sekarang, coba tempatkan posisi Anda sebagai pendukung Perseru yang tersebar di seantero Kepulauan Yapen. Berdasarkan sensus penduduk 2011, ada sekitar 83-ribu jiwa yang tersebar di ratusan pulau di kabupaten Kepulauan Yapen. Sedangkan hanya sekitar 20-ribu yang berdomisili di Serui. Bagaimana cara menyaksikan tim kesayangan bertanding di kandang jika tak pernah disiarkan televisi? Harus naik feri dulu ke Serui untuk nonton langsung di Stadion Marora?

Keluhan ini pernah disuarakan oleh manajemen Perseru beberapa waktu lalu. “Kami hanya ingin diperlakukan adil karena toh Perseru juga peserta Liga 1,” kata Hariadi Winarno, asisten manajer Perseru. “Memang ada kendala geografis, tapi, saya pikir itu bisa disiasati jika stasiun pemilik hak siar ingin berlaku adil,”

Sayang, keluhan itu sama sekali belum ditanggapi oleh operator liga. Rating televisi Perseru pun tetap menjadi yang terendah di antara para peserta Liga 1. Kasihan juga nasib Arthur Bonai dan kawan-kawan. Sudah jauh, susah dijangkau, sering terabaikan pula.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)