Nasional Bola

Menanam Perdamaian di Kawasan Joglosemar

Kredit: Pasoepati

Hubungan dengan Pasoepati

Hubungan dengan suporter Persis Solo ini lebih unik lagi. Dahulu, saya harus selalu menggunakan kereta api apabila ada keperluan di Solo. Tak berani saya membawa sepeda motor dengan plat AB masuk ke kota Solo. Selain trauma di sekitar Kandang Menjangan, saya malas berurusan dengan “suporter lepas” di Surakarta.

Namun, sekitar dua tahun yang lalu, ketika sebuah acara diskusi soal literasi digelar di Solo, sebuah pemandangan langka terjadi. Saya diantar ke stasiun ketika akan pulang ke Jogja oleh seorang suporter Persis. Namanya Aldi, kami teman satu kelas menulis. Lelaki dengan kontur muka seperti Eno NTRL ini mengantar saya ke stasiun dengan senang hati.

Ia rela kuyup kehujanan untuk mengantar saya ke stasiun. Sampai di stasiun kami berseloroh: kalau bukan karena kelas menulis, mana mungkin seorang suporter PSIM dibonceng, diantarkan ke stasiun oleh suporter Persis Solo. Dan ternyata, bisa berseloroh seperti itu terasa menyenangkan. Jauh lebih membahagiakan ketimbang bertukar bogem mentah. Bibir pecah itu perih.

Satu hal lagi, saya juga membuat resensi untuk sebuah buku tentang suporter yang ditulis oleh Devi Fitroh Laily, seorang wanita pendukung Persis Solo. Dari bukunya, saya mendapatkan sebuah perspektif baru.

Begini: banyak yang menggunakan fakta sejarah Kerajaan Mataram sebagai alasan permusuhan antara Jogja dan Solo. Sebuah alasan yang menggelikan. Lagaknya seperti mereka benar-benar belajar sejarah Indonesia. Saya yakin, mereka ini, para bebal, tak pernah belajar sejarah Mataram dan hanya ikut-ikut saja sebagai legitimasi melukai suporter lawan.

Sudah waktunya kawasan Joglosemar menjadi kawasan yang teduh untuk semua suporter. Tak boleh lagi ada nyawa tersabung.

Presiden Pasoepati, Bimo Putranto, lewat Twitter-nya berujar:

Sebuah saran yang sejuk, di tengah jalur Joglosemar yang panas terik.

Sudah tak boleh lagi ada rumput liar, hama, bernama kekerasan di tengah sepak bola. Sudah waktunya kita menanam bibit perdamaian. Pohon damai yang tumbuh akan menjadi peneduh bagi generasi mendatang, para suporter baru yang tak boleh dicemari oleh limbah kekerasan.

Jejak kekerasan memang begitu panjang. Untuk menghapusnya dibutuhkan kesabaran yang tak kalah panjang. Usaha yang tak mungkin dilakukan satu kubu suporter saja atau segelintir orang saja. Mari jernihkan sisi kepala, dinginkan hati. Kebun sepak bola seharusnya berbuah kebahagiaan.

Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen