

Penambahan jumlah klub?
Bagaimana jika jumlah klub ditambah dengan menghapus skema degradasi dengan tetap mempromosikan klub dari Liga 2? Sekilas, pendapat iu terbaca begitu mulia. Namun ingat, tanpa perbaikan menyeluruh, terutama di pembuat kebijakan, masalah serupa bukan tak mungkin akan terulang.
Dengan 18 klub pun, masalah jadwal sudah sedemikian gawat hingga wacana penghapusan degradasi lahir. Bagaimana jika nanti peserta Liga 1 menggemuk menjadi 20 klub atau lebih? Apakah dengan begitu semakin panjang jadwal dibuat? Semakin banyak masalah yang akan timbul jika tak ada kesadaran revolusi di tubuh pembuat kebijakan.
Sepak bola Indonesia terlalu mudah dijalankan tanpa ada bangunan niat yang jernih. Terlalu mudah menjalankan kompetisi tanpa konsistensi menjalankan regulasi. Aturan penggunaan pemain U-23 yang justru ditangguhkan ketika banyak klub mulai beradaptasi menjadi salah satu contohnya.
Maka jangan heran, apabila muncul anggapan bahwa di sepak bola Indonesia, salah satu solusi masalah adalah dengan membuat masalah lainnya. Ibarat memadamkan api menggunakan cairan bernama bensin.
Wacana menghapus degradasi, wacana yang berbahaya.
Author: Yamadipati Seno (@arsenalskitchen)
Koki Arsenal’s Kitchen