Eropa Prancis

Neymar, Lakon Teranyar Hikayat Panjang Brasil di Paris Saint-Germain

Rai
Rai (tengah) saat menghadapi Strasbourg.

Dari ikon tim, sampai Pangeran Kecil

Setelah Camargo, hadir Armando Monteiro yang didatangkan ketika PSG diambil alih desainer terkenal, Daniel Hecter, pada 1973 silam. Sejak saat itu, Les Parisiens perlahan menapaki jalannya, dipimpin pelatih legendaris, Just Fontaine. Meski demikian, Monteiro ternyata mengikuti jejak Camargo yang cuma bertahan satu musim. Delegasi Brasil di PSG sempat vakum lama, sebelum kehadiran Abel Braga tahun 1979, hingga akhirnya bertambah pada dekade 1990-an.

Deretan pemain seperti Leonardo, Ricardo, Valdo, Edmilson, Adailton, sampai Rai didatangkan. Nama terakhir menjelma jadi salah satu ikon tim. Berbekal status sebagai Pemain Terbaik Amerika Selatan 1992, Rai direkrut setahun setelahnya dari Sao Paulo dan langsung mempersembahkan gelar Ligue 1 1993/1994, satu trofi Coupe de la Ligue dan Trophee des Champions, serta dua gelar Coupe de France hingga Piala Winners sepanjang lima tahun kariernya di Parc des Princes.

Saat masih berseragam PSG, Rai juga sukses membawa timnas Brasil juara Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dengan status kapten tim dan pemakai nomor punggung 10. Berselang era milenium, nuansa Brasil di Les Parisiens semakin kental. Kali ini era berganti ke Vampeta, Aloisio, Reinaldo, Paulo Cesar, dan tentunya yang paling diingat adalah Ronaldinho. Meneruskan takhta nomor 10 dari Rai, Ronaldinho kerap tampil memukau publik Parc des Princes lewat tekniknya.

Kendati hanya bertahan dua musim sebelum hijrah ke Barcelona, berbanding terbalik dengan Neymar, Ronaldinho tetap dikenang di PSG dan sempat dijuluki Pangeran Kecil.

Hingga akhirnya kehadiran investor baru pada 2011, Oryx Qatar Sports Investments, benar-benar mengubah wajah PSG menjadi tim kaya baru. Gelontoran dana dikeluarkan Presiden klub, Nasser Al-Khelaifi, untuk membangun tim. Namun satu yang tak berubah: Aroma Brasil tetap dijaga.