Nasional Bola

Liga Santri Nusantara: Sebuah Upaya Pengembangan Pesepak Bola Muda Indonesia melalui Pesantren

Liga Santri Nusantara
Kredit: Liga Santri Nusantara

Sekilas tentang LSN 2017

LSN 2017 memiliki tagline “Dari Pesantren untuk NKRI”. Melalui tagline ini, tentu LSN memiliki tujuan untuk memajukan olahraga, terutama sepak bola Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, LSN berkontribusi untuk menyumbang bibit-bibit pesepak bola muda, yang dapat muncul ke publik melalui LSN. Bukti nyata dari kontribusi LSN adalah adanya alumnus LSN yang lolos seleksi timnas Indonesia U-19. Pemain itu bernama M. Rafli Mursalim, top skor dari LSN 2016.

Sebelumnya, ada tiga jebolan LSN yang berhasil dipanggil oleh Indra Sjafri untuk seleksi, yaitu Rafli, Tri Widodo (Pemain Terbaik LSN 2016), dan Richard Rahmad (Pemain Terbaik LSN 2015). Selain itu, LSN juga memiliki andil dalam mengharumkan nama Indonesia. Juara LSN 2015, Pesantren Nurul Islam dengan timnya yang bernama Nuris United, berhasil menjuarai turnamen Malindo Cup U-18 2016, turnamen skala regional yang diselenggarakan di Malaysia.

Hal ini menunjukkan bahwa pondok pesantren memiliki prospek pesepak bola yang cukup menjanjikan dan LSN membantu prospek-prospek tersebuk untuk mencuat ke khalayak dan membuka jalan ke tim nasional Indonesia.

Liga Santri Nusantara juga diharapkan membawa kultur yang baru bagi santri-santri penghuni pesantren. Melalui LSN, Kemenpora sekaligus PBNU berharap agar olahraga menjadi suatu tradisi di kalangan santri. Hal ini disampaikan oleh Bung Kus, yang juga menambahkan bahwa dengan begitu, kalangan santri juga bisa menimbulkan timbal balik bagi olahraga.

Seperti yang kita ketahui, kultur pesantren sangat menghormati kedudukan orang tua. Menurut Bung Kus, kultur ini bisa dibawa ke lapangan, di mana para pemain dapat menghormati dan menganggap pelatih, wasit, bahkan pelatih tim lain seperti orang tua sendiri. Kultur ini diharapkan menjadi contoh sportivitas bagi sepak bola nasional, sekaligus sebagai upaya memperkuat persatuan bangsa.

Lebih lanjut lagi, LSN juga mendata setiap pemain yang berpartisipasi secara daring. Pendataan ini diharapkan akan memudahkan baik klub ataupun PSSI untuk mengakses data masing-masing pemain. Dengan begitu, pemain yang diminati oleh klub ataupun cukup bertalenta untuk mengikuti seleksi lebih mudah untuk dipantau. Sistem pendataan melalui daring ini juga diharapkan menjadi contoh bagi PSSI untuk mendata talenta muda yang ada di sekolah sepak bola.

Upaya Kemenpora sekaligus PBNU dalam menyelenggarakan LSN ini tentu patut diapresiasi. Di antara sekian ratus ribu santri yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, tentu ada bakat-bakat pesepak bola yang terpendam. Dengan diselenggarakannya LSN, potensi tersebut dapat muncul dan terlihat, sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan dengan lebih lanjut lagi di tahap berikutnya.

Kompetisi LSN ini juga membuka jalan bagi pemandu bakat klub-klub Indonesia, yang tentu membutuhkan pasukan muda untuk meregenerasi tim masing-masing. Bukan tidak mungkin, santri yang ada di Klaten ternyata memiliki bakat mencetak gol seperti Cristian Gonzales atau Boaz Solossa, bukan?

Mari berharap agar ke depannya, kontribusi LSN akan semakin besar bagi sepak bola Indonesia dan kultur positif pesantren tertular ke lapangan demi meningkatkan sportivitas antarpemain.

Author: Ganesha Arif Lesmana (@ganesharif)
Penggemar sepak bola dan basket