Eropa Italia

Sampai Jumpa Carlos Bacca, Sang Pilihan Kedua

Carlos Arturo Bacca Ahumada datang ke AC Milan di saat yang tepat. Ujung tombak haus gol ini bergabung dengan Rossoneri yang sedang haus akan penyerang tajam selepas kepergian Zlatan Ibrahimović. Berstatus sebagai juara bertahan Liga Europa bersama Sevilla, Bacca menjadi salah satu rekrutmen penting Milan kala itu.

Sebelum belanja besar di bursa transfer awal musim ini, Milan pernah melakukan hal serupa di bursa transfer musim panas 2015/2016. Saat itu Il Diavolo Rosso menyudahi periode pinjam-meminjam yang sudah mereka lakukan dalam tiga musim terakhir dengan merekrut tiga pemain berharga di atas 20 juta euro: Andrea Bertolacci, Alessio Romagnoli dan Carlos Bacca.

Dari ketiganya, performa Bacca adalah yang terbaik. 20 gol ia cetak dari 43 penampilannya bersama Rossoneri. Milanisti pun dapat move-on sesaat dari kepergian Zlatan dan inkonsistensi Mario Balotelli di lapangan hijau.

Bacca memang beda. Ia sebelumnya tak terlalu diharapkan dapat bergabung dengan Milan, karena klub pemilik 18 gelar Serie A ini tengah serius mengupayakan pembelian Jackson Martinez. Meski sama-sama berpaspor Kolombia, secara statistik saat itu, Jackson jauh lebih unggul dari Bacca. Penyerang FC Porto itu dilabeli predikat The Next Falcao karena sama buasnya dengan El Tigre di kotak penalti lawan.

Namun, skenario transfer itu tak pernah terjadi. Jackson kemudian berlabuh di Atlético Madrid di mana ia kehilangan ketajamannya dan Milan mengalihkan target ke pilihan kedua mereka yang baru saja mengantar Sevilla juara Liga Europa dua kali berturut-turut. Sang goleador pun mendarat di San Siro dengan nilai transfer 30 juta euro.

Datangnya penyerang sekelas Bacca jelas menjadi kabar baik bagi para Milanisti. Sejak hengkangnya Zlatan, selama dua musim lamanya Milan tidak memiliki sosok pemain haus gol di lini depan. Giampaolo Pazzini, Adel Taarabt, Bojan Krkić, Alessandro Matri, Mattia Destro, hingga Fernando Torres, semuanya hanyalah penggembira di lini serang Milan.

Hanya Stephan El Shaarawy dan Jérémy Ménez yang sempat tajam namun di musim selanjutnya mereka dihajar cedera berkepanjangan.

Padahal, Milan merupakan kesebelasan dengan sejarah penyerang tajam. Tengok saja nama-nama seperti Gunnar Nordahl, Marco van Basten, Andriy Shevchenko, Filippo Inzaghi, Alberto Gilardino dan tentu saja tentara bayaran terbaik di sepak bola, Zlatan Ibrahimović. Milan adalah klub dengan tradisi penyerang jempolan.

Kembali ke Bacca, pertama kali saya melihat Bacca berseragam Milan adalah di ajang International Champions Cup 2015 saat melawan Real Madrid. Di pertandingan yang dimenangkan El Real lewat adu penalti itu, ada satu hal yang diperlihatkan Bacca, yang sudah lama tak nampak di lini serang klubnya Silvio Berlusconi ini: kecepatan, elegansi dan ngotot.

Ketika diwawancarai tentang perbedaan gaya bermainnya dengan Jackson Martinez, Bacca memang mengatakan bahwa ia lebih cepat dan stylish. Hal mana yang langsung ia tunjukkan pada gol pertamanya di Serie A. Menggiring bola dari tengah lapangan, mendahului dua bek lawan dan melewati kiper. Aksinya mengingatkan kita pada ketajaman para attacante klasik Rossoneri.

Kini, masa edarnya di kota mode itu akan segera habis. Performa yang menurun musim lalu serta sempat berselisih dengan sang pelatih membuat Bacca tak lagi masuk dalam rencana Vincenzo Montella. Ditambah fakta bahwa Milan membutuhkan dana besar untuk menutup pengeluaran mereka awal musim ini, menjual Bacca adalah pilihan logis.

Ketika berita ini diunggah, Olympique Marseille kabarnya akan segera merampungkan kepindahan pemilik 39 caps di timnas Kolombia ini. Milan awalnya mematok harga 30 juta euro, namun bersedia memberi diskon menjadi 20 juta euro. Bacca dikabarkan juga sudah setuju dengan kontrak yang ditawarkan klub asuhan Rudi Garcia ini dan semua unggahannya yang berbau Milan di akun Instagram pribadinya telah dihapus. Tinggal menunggu lampu hijau dari Milan untuk terbang ke Prancis menjalani tes medis.

Carlos Bacca, meski dulunya hanya pilihan transfer kedua dan tak lama menginjakkan kakinya di rumput San Siro, ia adalah elemen penting di generasi pertama proyek belanja besar Milan jilid pertama. Berkat kehadirannya, Milan dapat kembali mengulang tradisi mereka, memiliki predator haus gol. Berkat dirinya pula, Milanisti dapat lebih tenang menyaksikan pertandingan karena jaminan gol itu kembali hadir di tim kesayangan kita.

Akhir kata, Molte grazie, goleador70!

Author: Aditya Jaya Iswara (@joyoisworo)
Milanisti paruh waktu yang berharap Andriy Shevchenko kembali muda dan membawa AC Milan juara Liga Champions Eropa lagi.