Kolom

Robbie Keane, Kepingan Penting Golden Generation Republik Irlandia

Ada alasan penting kenapa saya mengenang Robbie Keane sebagai bagian penting skuat timnas Irlandia, daripada mengenang masa-masa kariernya di kancah klub. Selain terkenal sebagai journeyman striker (ia berganti klub sebanyak 10 kali dan 3 kali di level junior), Keane juga salah satu penyerang legendaris Tottenham Hotspurs. Dibanding capaian prestasinya di level klub selama tujuh setengah tahun bersama The Lilywhites, Keane lebih banyak mendapat catatan penting ketika di timnas, daripada di klub London Utara tersebut.

Di era akhir 1990-an, Republik Irlandia adalah skuat yang dipenuhi banyak pemain berbakat yang dimatangkan oleh kompetisi keras Liga Primer Inggris. Selain sang ikon sejati, Roy Keane, generasi emas yang dilatih pelatih eksentrik, Mick McCarthy ini juga diperkuat banyak pemain di usia muda dan usia emas yang tengah menjadi fondasi penting timnas Irlandia.

Di bawah gawang, ada kiper Shay Given, yang turut menjadi bagian penting skuat Irlandia yang lolos ke perdelapan-final Piala Dunia 2002, sebelum kandas di babak adu penalti kontra Spanyol. Di lini belakang, ada bek kanan Fulham, yang kemudian pindah ke Liverpool, Steve Finnan dan salah satu bek legendaris Leeds United, Ian Harte. Selain itu, masih ada nama pemain muda Richard Dunne, yang kala itu membela panji Manchester City.

Di lini tengah, duet pemain berstatus ‘tukang jagal’ terpatri pada sosok Lee Carsley, gelandang botak milik Everton dan siapa lagi kalau bukan the one and only, Roy Keane. Keano memang nyawa lini tengah Irlandia. Sosoknya yang tegas adalah representasi dari cara main Irlandia yang menghentak, cepat, keras dan tanpa kompromi. Dan di situlah, mereka butuh elegansi untuk mengimbangi sisi meledak dari Keano.

Itulah kemudian kehadiran Damien Duff dan Kevin Kilbane serta pemuda 21 tahun, Robbie Keane, menjadi pelengkap kepingan generasi emas skuat berjuluk The Boys in Green ini. Bila lini belakang dan tengah menawarkan tenaga, lini serang Irlandia menawarkan kemampuan teknik menawan dan jaminan gol. Duff, yang kemudian berkarier di Chelsea dan Robbie Keane yang kemudian menjadi penyerang andalan Spurs, melengkapi skuat terbaik Irlandia dalam satu dekade terakhir usai transisi dari masa gemilang kepelatihan Jack Charlton.

Penyerang licin yang klinis

Bila dibandingkan dengan deretan penyerang lain di Liga Inggris, Keane tentu tak seberapa populer. Walau mencetak hampir 90 gol lebih selama membela panji Spurs, Keane bukan jaminan mutu yang menggaransi gelar bagi timnya. Bila bisa dibandingkan, Keane, menurut saya, lebih mirip Nicola Ventola. Penyerang bagus, tapi tak luar biasa.

Namun, itu hanya di level klub.

Di level timnas, hingga detik ini, catatan 68 gol yang diukirnya bersama The Green Army adalah catatan tertinggi yang menahbiskan dirinya sebagai top skor sepanjang masa timnas Irlandia. Selain itu, Keane juga yang mencatat rekor caps terbanyak yang terhenti di angka 146 sebelum ia memutuskan pensiun dan memberikan ban kapten kepada bek kanan Everton yang berwajah mirip Gareth Bale, Seamus Coleman.

Untuk tahu catatan fenomenal Keane bersama timnas, kamu perlu melongok rekor gol di bawah eks penyerang Leeds United ini. Di bawah Keane, ada salah satu penyerang ikonik Irlandia, Nial Quinn, yang ‘hanya’ mengukir 21 gol dari 91 penampilan. Bayangkan jaraknya, 68 gol berbanding 21 gol. Di bawah Keane juga, ada nama ikonik, Tony Cascarino, yang pernah digambarkan Gus Dur dalam tulisannya di buku berjudul, Gus Dur dan Sepakbola, sebagai nyawa tunggaal timnas Irlandia di bawah asuhan pelatih legendaries, Jack Charlton.

Catatan gol penyerang yang kini masih bermain untuk Los Angeles (LA) Galaxy ini juga masih jauh dari penyerang aktif The Green Army lainnya yakni Kevin Doyle, Shane Long hingga Jonathan Walters. Long sendiri, yang tercatat sebagai penyerang inti timnas saat ini, baru menggelontorkan 17 gol, sementara Doyle dan Walters, baru sukses mengemas 14 gol.

Dengan sekumpulan trivia catatan gol tersebut, kamu akan paham kenapa Robbie Keane adalah kepingan penting dari golden generation skuat Republik Irlandia dan catatan golnya yang fenomenal bersama timnas, membuat karier biasa-biasa saja yang diukirnya di Liga Inggris menjadi terlihat lumayan baik.

Hari ini, penyerang yang pernah menjadi ancaman bagi lini belakang Arsenal di derbi London Utara ini berulang tahun ke-37. Di usia senjanya, ia masih tajam bersama LA Galaxy dengan sukses mencetak 104 gol selama enam tahun membela bekas klub David Beckham tersebut. Walau sudah memutuskan pergi dengan status bebas transfer, penyerang nomaden ini belum memutuskan gantung sepatu dari dunia sepak bola.

Mengingat bursa transfer Liga 1 Indonesia akan dibuka dalam satu bulan ke depan, akan sureal rasanya bila penyerang gaek ini berlabuh ke salah satu klub peserta Go-Jek Traveloka Liga 1, bukan?

Author: Isidorus Rio Turangga (@temannyagreg)
Tukang masak dan bisa sedikit baca tulis