Nasional Bola

Penetrasi Kelme di Pasar Sepak Bola Asia

Para pendukung PSM Makassar sedang begembira. Minggu ini, pemain-pemain kesayangan mereka akan mengenakan jersey resmi klub yang disponsori perusahaan apparel asal Spanyol, Kelme. Selain itu, beberapa pendukung fanatik yang sudah memesan lewat jalur pre-order juga bisa menikmati produk tersebut dengan bangga.

Pada pertandingan pekan pertama hingga ke-10 Go-Jek Traveloka Liga 1, pemain-pemain PSM ternyata hanya menggunakan jersey sementara berwarna merah terang. Desain jersey resmi PSM sendiri berwarna merah marun yang lebih gelap dari warna jersey sementara, dengan beberapa corak khas yang membuat tampilan jersey resmi lebih menarik.

Perusahaan berlogo jejak kaki hewan bertaring ini menyediakan tiga kostum tim PSM untuk Liga 1 musim 2017 ini. Selain jersey kandang berwarna merah yang merupakan warna khas PSM selama berpuluh-puluh tahun, perusahaan asal Spanyol tersebut menyediakan kostum berwarna hitam dan putih untuk tandang. PSM akan menggunakan jersey baru mereka untuk pertama kali pada laga kandang melawan Pusamania Borneo FC.

Selain PSM, musim ini Kelme juga menjadi sponsor bagi Persigo Semeru Lumajang, Madiun Putra FC dan PSIM Yogyakarta.

Sepak terjang Kelme sejauh ini

Meski brand mereka belum populer seperti dua raksasa, Nike dan adidas, Kelme sudah berkecimpung di industri apparel olahraga selama empat dekade. Seperti halnya adidas, Kelme didirikan oleh dua bersaudara, Diego dan Jose Quiles di Elche, Spanyol.

Saat ini, Kelme telah mengembangkan bisnis mereka ke seluruh dunia dengan cabang olahraga yang berbeda-beda. Perusahaan ini dipercaya oleh pemerintah Valencia untuk menyediakan perlengkapan olahraga bagi tim balap sepeda mereka. Nama ‘Kelme’ malah sempat digunakan sebagai nama tim balap sepeda wilayah Valencia selama dua dekade sebelum bubar pada tahun 2006.

Menyadari potensi sepak bola yang luar biasa, Kelme mulai berani menjadi apparel resmi klub-klub sepak bola Spanyol sejak awal 1990-an. Klub pertama yang mereka tangani adalah Real Oviedo pada tahun 1990, diikuti Real Valladolid, Real Madrid dan klub kota asal mereka, Elche, beberapa tahun kemudian.

Puncak ketenaran Kelme terjadi pada tahun 1998. Real Madrid pada saat itu keluar sebagai raja Eropa dengan memenangi trofi Liga Champions. Meski demikian, ekspansi Nike dan adidas di awal abad ke-21 terlalu sulit ditandingi. Menurut data yang dikeluarkan oleh situs Statista, Nike dan adidas menguasai lebih dari 20 persen pasar apparel olahraga di dunia.

Brand sebesar Puma dan Reebok saja hanya mampu meraih sekitar 1 sampai 2 persen. Kelme masih jauh di bawah mereka, dengan pangsa pasar di bawah 1 persen.

Maka, terlihat jelas strategi Kelme di abad 21 adalah menjalin kerja sama dengan klub-klub profesional di luar Eropa. Kelme berekspansi ke Amerika Latin, dengan menggaet beberapa klub Argentina, Cile dan bahkan Venezuela.

Di saat bersamaan, mereka masih konsisten menjalin kerja sama dengan beberapa klub kasta bawah Spanyol dan Belanda, antara lain Rayo Vallecano, Racing Santander, Cadiz, Telstar, RKC Waalwijk dan masih banyak lagi.

Pada awal 2010-an, sepertinya Kelme baru menyadari bahwa Asia juga merupakan pasar yang seksi. Dengan gencar, mereka menggaet klub-klub Iran, Korea Selatan dan Cina, sembari membuka kantor-kantor cabang baru di India dan Cina.

Kelme sendiri sebenarnya pernah menjalin kerja sama dengan Persebaya Surabaya pada tahun 2007 lalu, tapi mungkin baru sekarang mereka menyadari potensi pasar Indonesia sehingga berani menjadi sponsor bagi empat klub sekaligus.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pencinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.