Nasional Bola

Serba-serbi Piala Soeratin 2017

Di tengah-tengah keseruan Liga 1 dan Liga 2 plus persiapan timnas junior dan senior untuk beberapa turnamen, ternyata ada satu kejuaraan lokal yang terlupakan dan sepi pemberitaan media: Piala Soeratin.  Generasi sekarang bisa jadi tidak terlalu familiar dengan turnamen ini, namun kejuaraan usia muda ini menjadi titik awal lahirnya pemain-pemain yang bisa mewakili Merah-Putih di kemudian hari.

Apa itu Piala Soeratin? Piala Soeratin ini adalah kejuaraan yang dikhususkan untuk pemain-pemain berusia di bawah 17 tahun (U-17). Nama Soeratin sendiri digunakan untuk mengenang jasa ketua PSSI pertama Soeratin Sosrosoegondo dalam memajukan sepak bola Indonesia.

Seperti kita ketahui, Soeratin mendirikan PSSI sebagai perwujudan kebangkitan nasional dan persatuan. Maklum, saat PSSI didirikan tahun 1930, negeri ini masih dalam euforia Sumpah Pemuda. Soeratin rela keluar dari perusahaan Belanda dan usaha sendiri demi fokus pada PSSI. Dan ironis karena saat Jepang tiba, rumahnya dihancurkan Belanda dan Soeratin hidup dalam kesulitan.

Kejuaraan Piala Soeratin sendiri baru diadakan tahun 1966 dan pembukaannya dihadiri Presiden pertama Indonesia, Ir.Soekarno. Saat itu ketua PSSI sudah dijabat Maulwi Saelan.

Piala Soeratin sendiri sudah banyak menghasilkan pemain-pemain handal nasional. Di era awal-awal Piala Soeratin, ada kiper Ronny Pasla. Ronny yang saat ini sudah berusia 70 tahun saat masih aktif bermain bola membawa Indonesia juara Piala Agakhan 1967 di Bangladesh dan Pesta Sukan tahun 1972 di Singapura.

Di generasi berikutnya, ada nama-nama familiar seperti Robby Darwis, Ricky Yacobi dan Aji Santoso. Nama terakhir ini turut serta saat Indonesia meraih emas sepak bola SEA Games terakhir pada tahun 1991 di Manila, Filipina. Saat ini, eks bek kiri timnas ini melatih Arema FC.

Di era sekarang, kita mengenal nama-nama seperti Ahmad Bustomi, Maldini Pali, Gunawan Dwi Cahyo dan masih banyak lagi.

Tahun ini pun Piala Soeratin juga kembali digelar. Semua tim-tim muda menjalani penyisihan per zona wilayah terlebih dulu, baru nanti lolos ke tingkat nasional. Diharapkan dengan adanya turnamen semacam ini, akan muncul bintang-bintang muda yang bisa mewakili sepak bola Indonesia ke tingkat dunia.

Apa saja hal-hal menarik sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Soeratin?

  • Juara bersama karena sudah gelap

Ini adalah salah satu kejadian menarik. Terjadi pada final Piala 1967 di Stadion Menteng saat Persija berhadapan dengan PSMS. Laga berakhir dengan seri tanpa gol. Tetapi, bukan ditentukan lewat perpanjangan waktu, juara ditentukan lewat undian. Kenapa? Ternyata panitia memutuskan tidak ada perpanjangan waktu karena hari sudah gelap. Yang ada, juara ditentukan lewat undian. Enam bulan pertama, piala dibawa ke Medan untuk PSMS, enam bulan berikutnya piala diboyong ke Jakarta. Unik, bukan?

  • Bukan milik klub besar

Juara Piala Soeratin justru bukan klub-klub teras Indonesia. Klub Persikasi Bekasi menjadi klub tersukses di ajang ini dengan lima kali juara. Disusul setelah oleh klub ibu kota, Persija Jakarta (termasuk gelar juara bersama dengan PSMS).

  • Sempaberhenti

Kejuaraan ini sempat ditiadakan karena konflik internal PSSI tahun 2013. Saat PSSI terkena sanksi, tahun 2015 Piala Soeratin pun dihentikan dulu. Di masa kelam sepak bola Indonesia itu, nasib tunas-tunas muda kita pun ikut mengalami efek negatifnya.

  • Juara bertahan tidak ikut di Piala Soeratin 2017

Persab Brebes Junior menjadi juara Piala Soeratin 2016 lalu. Namun ironis, mereka justru absen di Piala Soeratin tahun ini. Masalah anggaran menjadi alasan klasik mereka tidak ikut kejuaraan junior tahun ini. Selain itu, mereka juga ingin lebih fokus ke Liga 3.

Author: Yasmeen Rasidi (@melatee2512)