Kolom

Dani Alves, Cappucino Terbaik Nyonya Tua

Untuk seorang pemain bertahan, Dani Alves adalah bek sayap modern yang (mungkin) memiliki kemampuan paling komplet. Ia sedikit lebih eksplosif daripada Marcos Cafu, bek sayap kanan legendaris yang notabene seniornya di timnas Brasil. Pun bila dibandingkan dengan Douglas Maicon, Alves satu langkah lebih unggul mengingat ia mengoleksi jauh lebih banyak trofi daripada kompatriotnya yang sempat merajai Eropa bersama Internazionale Milan itu.

Maka ketika Barcelona melepas eks pemain Sevilla tersebut dengan status bebas transfer ke Juventus dan Luis Enrique percaya bahwa Sergi Roberto akan mampu mengisi posisi Alves yang lowong, well, itu bisa jadi salah satu alasan kenapa Barcelona gagal musim ini dan Juventus yang melaju ke final Liga Champions 2016/2017.

Pada tahun 2009 lalu, di sebuah kolomnya di Guardian, Sid Lowe menyebut Dani Alves adalah pemain terbaik dunia, jika, Lionel Messi tidak ada. Wajar mengingat di tahun tersebut, Alves, Messi, dan Barcelona-nya Pep Guardiola  begitu mendominasi Spanyol dan Eropa serta menghipnotis jutaan orang dengan sepak bola menghibur yang memukau banyak orang dengan permainan megah dan banyak gol.

Tapi delapan tahun berselang, ketika sang bek kanan sudah menua (34 tahun) dan ia dilepas oleh Barcelona, nyatanya, pemain yang pernah mengalami pelecehan rasialis dengan pelemparan pisang ini justru mengilap bersama Juventus dan membawa Nyonya Tua ke final Liga Champions kedua mereka dalam tiga musim terakhir.

Gonzalo Higuain, Dani Alves and Paulo Dybala.

Istimewanya Dani Alves

Di bawah arahan Massimiliano Allegri, Alves yang memang bisa bertahan dan menyerang dengan sama baiknya, menjelma jadi salah satu faktor penting kenapa Juventus sangat berpotensi menjuarai Liga Champions musim ini. Sebagai contoh singkat, dari dua laga semifinal melawan AS Monaco saja, bek berusia 34 tahun ini mencatat tiga asis dan satu gol di skor agregat akhir 4-1 untuk keunggulan Bianconeri. Yang kurang lebih berarti bahwa Dani Alves adalah alasan utama kenapa Juventus mampu menghajar Monaco dengan telak dalam dua leg.

Bagi saya, hanya David Beckham yang memiliki lengkungan umpan silang semanis dan sesempurna Dani Alves. Umpannya mampu jatuh tepat di target yang ia mau. Kecepatannya pas dan timing pelepasan umpannya pun sempurna. Ibarat kopi, umpan Dani Alves adalah cappuccino terbaik yang disajikan langsung kedai kopi terbaik Italia untuk penggemar kopi di seluruh dunia.

Satu hal yang Dani Alves miliki dan mungkin tidak (atau belum) mampu diikuti para pewaris takhtanya sebagai bek kanan terbaik dunia, adalah keseimbangannya yang sama bagus dalam bertahan dan menyerang. Di dunia sepak bola modern, kompleksnya tugas pemain membuat mereka dituntut fasih dalam berbagai situasi entah saat transisi menyerang atau bertahan.

Terlebih, di zaman modern ini, evolusi taktik semakin beragam. Populernya kembali skema tiga bek, misalnya. Skema ini membuat pelatih memiliki banyak opsi untuk mengeksplorasi sisi-sisi sayap timnya untuk digunakan sebagai kanal dalam progresi membangun serangan. Dan acapkali, karena keterbatasan bek dengan kemampuan baik di posisi sayap, para pelatih kerap menggunakan pemain berposisi natural sebagai gelandang untuk mengisi pos tersebut.

Timnas Italia di Piala Eropa 2016 memakai Antonio Candreva sebagai bek sayap kanan pilihan Antonio Conte. Dan ketika menangani Chelsea kemudian, eks pelatih Juventus ini juga lebih memilih Victor Moses, ketimbang memasang Cesar Azpilicueta di pos tersebut. Tapi aturan tersebut tak berlaku bagi Alves.

Dalam skema tiga bek, ia tetap pemain pilihan utama Allegri di pos wingback kanan dan memaksa Juan Cuadrado turun di bangku cadangan. Cuadrado baru memiliki kesempatan menjadi pemain inti ketika Allegri turun dengan skema empat bek, itupun dengan catatan bek sayap kanan adalah pos utama Dani Alves dan itu tak bisa diganggu gugat.

Dengan usia yang semakin senja dan menilik kesuksesannya musim ini, pertanyaannya sederhana saja, siapa bek kanan yang mampu menandingi kehebatan Dani Alves saat ini? Mengingat di akhir musim nanti, saingan terdekatnya dengan kehebatan yang hampir setara dengannya, Phillip Lahm, sudah akan gantung sepatu.

Author: Isidorus Rio Turangga (@temannyagreg)
Tukang masak dan bisa sedikit baca tulis