

Marco Asensio
Untuk pemain satu ini, Zidane, atau siapa saja yang musim depan melatih Madrid, akan dihadapkan pada pilihan yang sulit.
Asensio, yang masih berusia 21 tahun, adalah rough diamond yang apabila diasah dengan benar, akan menjadi kekasih masa depan lini tengah Madrid. Dua kali masuk sebagai pemain pengganti di dua laga Liga Champions melawan Bayern, Asensio menunjukkan seberapa jauh ia bisa berkembang.
Ia menyediakan asis cantik untuk gol kemenangan Madrid di kandang Bayern yang dicetak Ronaldo. Di laga kedua, Asensio melakukan solo run, membelah pertahanan Bayern dan mengecoh Manuel Neuer. Sebuah aksi, sebuah penegasan bahwa kehilangan Asensio adalah “petaka” bagi Madrid.
Baik dengan, maupun tanpa bola, Asensio adalah ancaman nyata bagi lawan. Tubuhnya yang kecil justru memberikan low center of gravity yang baik. Ia dengan mudah berkelit dari lawan dan mempertahankan penguasaan bola. Ditunjang kecepatan berpikir, daya kejut Asensio sangat nyata. Umpan-umpannya pun sangat terukur dan membawa makna.
Ketika tidak membawa bola, pergerakannya tak boros dan terukur. Pandai menemukan ruang , Asensio tak kesulitan melepas umpan matang lantaran musuh yang kesulitan melakukan pressing. Gol kemenangan Madrid di Allianz Arena menjadi contohnya.
Nah, apabila tak ingin kehilangan Asensio, namun tak bisa menjanjikan menit bermain, sebaiknya Madrid memilih opsi meminjamkan si pemain. Asensio akan semakin matang seiring menit bermain, dan Madrid akan mendapatkan seorang pemain, mendekati usia emas, yang siap mengembang tanggung jawan menjadi jenderal lapangan tengah.
“Bersekolah” di Bundesliga bisa menjadi pilihan bijak. Perkembangan taktik yang pesat dan cara bermain yang modern akan menjadi kawah candradimuka yang pas untuk Asensio.
Pengalaman jauh dari rumah juga akan mempertebal mental di pemain. Tak perlu jauh-jauh, Asensio bisa mencontoh Thiago Alcantara yang mekar sempurna bersama Bayern Munchen.
Author: Yamadipati Seno
Koki @arsenalskitchen