Eropa Inggris

Sunderland yang Pantas Terdegradasi

Kekalahan Sunderland dari Bournemouth di kandangnya sendiri memastikan tim dengan julukan The Black Cats itu harus terdegradasi ke Divisi Championship musim depan. Ini tentu membuat rival sengit mereka, Newcastle United, senang bukan kepalang. Pasalnya, The Magpies telah memastikan tiket promosi Liga Primer Inggris.

Sunderland, sejak kembali di kancah liga utama sejak sepuluh tahun lalu, tak meninggalkan jejak membekas. Mereka selalu terengah-engah di liga. Di kompetisi domestik lain pun sebelas-dua belas. Sunderland hanya mampu menjadi ­runner-up Piala Liga di musim 2013/2014.

Beberapa saat setelah dilantik untuk melatih klub yang bermaskas di Stadium of Light ini, David Moyes sempat mengeluarkan komentar bernada pesimistik:

“Mereka ‘kan memang selalu berada di posisi begini dalam empat tahun terakhir, bagaimana mungkin (keterpurukan) ini bisa tiba-tiba berubah? Saya pikir Anda tidak bisa mengabaikan fakta-fakta yang ada. Orang-orang akan jemu jika mereka berandai-andai sesuatu dapat berubah secara dramatis, karena keadaan ini tidak bisa berubah secara dramatis, sama sekali tidak.” (BBC, 21/8/2016).

Moyes adalah satu dari sekian banyak masalah yang ada di Sunderland, Anda bisa menyimpulkannya dari komentar di atas. Pelatih yang sebelumnya gagal di Manchester United dan Real Sociedad itu seperti tak bergairah, mencerminkan ketidakseriusan klub secara keseluruhan.

Sejak promosi pada 2007, pos terbaik yang berhasil mereka capai hanya di urutan ke-10 di musim 2010/2011. Padahal klub ini memiliki pondasi yang kuat untuk setidaknya merongrong papan tengah klasemen.

Pada 2014, Brand Finance menempatkan Sunderland di posisi ke-31 dalam daftar klub-klub dengan valuasi brand tertinggi di dunia. Seperti dilansir Sunderland Echo (30/5/2014), sebagai merek olahraga mereka memiliki nilai sebesar 93 juta dollar. Potensi ini juga didukung oleh basis suporter yang kuat dan stadion yang mumpuni. Kandang mereka berkapasitas 49.000 kursi, yang tentu dapat menyokong kondisi keuangan klub.

Musim Posisi
2007/08 15
2008/09 16
2009/10 13
2010/11 10
2011/12 13
2012/13 17
2013/14 14
2014/15 16
2015/16 17
2016/17 20

Melihat tabel di atas, Anda tentu bisa menilai bagaimana ambisi Sunderland dalam kiprahnya di Liga Primer Inggris. Selain Moyes, yang memang baru melatih musim ini, sosok lain yang patut disorot adalah sang pemilik klub, Ellis Short. Sejak menjadi pemilik pada 2007 (yang bertepatan dengan comeback mereka ke Liga Primer), klub sama sekali tidak pernah meraih untung.

Klub ini sangat gegabah dalam hal perekrutan pemain dan proporsi penggajian para pemainnya. Di samping juga didorong oleh kesalahan dalam memilih sejumlah pelatih. Singkatnya, Short tidak memiliki visi yang jelas dalam menakhodai klub yang pernah menjadi kampiun divisi utama sebanyak enam kali ini.

Beberapa musim terakhir, Sunderland terbilang sukses dalam menggembleng pemain lewat nama-nama seperti Darren Bent, Simon Mignolet, atau Jordan Henderson. Walhasil ketiga pemain itu dapat dilego ke klub-klub lain dengan harga tinggi. Sisanya? Sunderland acap membeli pemain dengan harga tinggi, namun dijual dengan harga tak sepadan beberapa musim selanjutnya. Sekadar menyebut contoh, Emnuele Giaccherini dibeli seharga 8,5 juta paun di musim 2013/2014. Dua musim setelahnya, pria Italia itu dilepas ke Napoli dengan banderol 1,5 juta paun.

Di atas lapangan, keadaan tampak sama menyedihkannya. Musim ini mereka hanya melepas rata-rata 10,3 tembakan per laga (terburuk ketiga di atas Burnley dan Middlesbrough). Daya serang mereka pun begitu terpaku pada Jermaine Defoe. Jumlah 14 gol yang sejauh ini ia ceploskan telah melebihi total gol yang timnya ciptakan (52%).

Seperti yang disoroti Nick Wright di Sky Sports (29/4), jumlah tersebut merupakan proporsi tertinggi yang dicetak seorang pemain untuk klub yang ia bela. Di urutan kedua ada nama Romelu Lukaku (24 gol/42%), disusul Zlatan Ibrahimovic (17 gol/33%).

Yang jadi pembeda, di Sunderland selain Defoe hanya ada lima pemain yang menyumbang suplai gol. Hingga pekan ke-35, Sunderland hanya mampu membobol gawang lawan sebanyak 26 kali, nomor dua terburuk dari 20 klub yang ada.

Melihat kenyataan yang ada, klub pujaan Jonathan Wilson ini memang pantas terjerembap. Hal yang telah juga dialami klub ‘bertradisi lain’, Aston Villa, yang musim lalu terdegradasi dan saat ini berkutat di posisi 12 Divisi Championship.

So Long, Black Cats. We will hardly miss you.

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com