

Robby Darwis
Setelah berkeliling Eropa, mari kita kembali ke negeri tercinta. Karena Liga Indonesia mulai bergulir, tidak elok rasanya jika kita tidak mengupas sedikit mantan bintang tim nasional yang meredup kariernya kala menjadi pelatih. Salah satunya adalah Robby Darwis.
Bagi Bobotoh, Robby adalah simbol Maung Bandung. Mungkin tak sedikit pula yang menganggap bahwa pemain asli Jawa Barat ini sebagai Franz Beckenbauer-nya Indonesia dan Bandung. Membawa Persib Bandung menjuarai Ligina pertama menjadi bukti tak terbantahkan. Kecintaan Bobotoh kepadanya pun dibalas dengan kesetiaan. Meski sempat beberapa kali pindah klub, ia selalu kembali ke Bandung.
Setelah pensiun pun, pemain berposisi bek ini tetap menunjukkan kesetiannya pada Persib. Meskipun klub yang tadinya berkandang di Stadion Siliwangi ini gonta-ganti pelatih, posisi Robby sebagai asisten pelatih tak tergoyahkan. Mulai dari lengsernya Arcan Iuri, Draco Mamic, hingga Jaya Hartono, keberadaan Robby tetap aman di pinggir lapangan.
“Keabadian” Robby di jajaran pelatih Persib, yang tak diimbangi prestasi membuat legenda lainnya angkat bicara. Ajat Sudrajat, mantan rekannya ketika masih aktif bermain mengkritik habis kinerja Robby Darwis yang dianggap tidak memberi kontribusi apa-apa bagi tim.
Kariernya di pinggir lapangan Maung Bandung benar-benar habis saat ia menjabat sebagai pelatih kepala pada 2012.

M. Zein Alhadad
Pernah menyandang status top skor di era Galatama bersama Niac Mitra pada musim 1987-1989, Zein Alhadad menjelma menjadi pemain yang ditakuti bek lawan pada masanya. Hanya kejatuhan klub yang ia bela, yang mampu menghentikan lajunya di atas lapangan hijau.
Setelah mondar-mandir mencari ilmu kepelatihan dan beberapa kali menjadi asisten pelatih di tim-tim kecil, Deltras Sidoarjo mendapuk pria keturunan Arab ini sebagai pelatih kepala. Ia sempat dianggap sukses kala mengantar The Lobster menjadi juara ketiga di ajang Copa Dji Sam Soe pada tahun 2009 lalu. Namun capaiannya di Deltras pun mulai menurun seiring permasalahan finansial yang menggerogoti klub.
Zein kembali berkutat sebagai asisten pelatih tim nasional di berbagai ajang. Pria yang akrab disapa Mamak ini kembali merasakan atmosfer sebagai pelatih saat ditunjuk Persija Jakarta sebagai pelatih kepala untuk mengarungi Torabika Soccer Championship (TSC) beberapa waktu lalu.
Kariernya di ibu kota kembali berakhir hambar karena hanya membawa Macan Kemayoran di peringkat 13. Setelah capaian kurang maksimal itu, Zein akhirnya dipecat manajemen Persija. Jelang bergulirnya Liga Indonesia pertengahan April ini, Zein Alhadad belum juga menemukan klub yang mau mempekerjakannya.
***
Mungkin beberapa orang di atas, atau pemain bintang lainnya bisa mendengarkan sedikit curhatan legenda hidup Brazil, Pele. Bahwa ia tidak ingin karier sepak bola yang ia bangun selama puluhan tahun hancur karena kegagalannya jika menjadi seorang pelatih.
Author: Wanda Syafii (@wandasyafii)
Kopites yang masih percaya timnya akan juara liga walau entah kapan. Sering bikin gaduh di wandasyafii.com