Nasional Bola

SOIna dan Olahraga untuk Semua

Dalam sejarah peradaban dunia, manusia telah berhasil menaklukkan alam dan menciptakan sejarahnya sendiri. Manusia telah membuktikan bahwa mereka adalah makhluk yang paling unggul, karena diberkahi akal, sehingga mampu mengalahkan spesies-spesies lain. Bencana alam telah menunjukkan pada kita ihwal punahnya dinosaurus. Manusia kemudian mendaku diri sebagai sang terpilih.

Di balik kaki-kaki lincah dan gol-gol spektakuler, sepak bola menjadi paradoksal karena ia menjustifikasi keunggulan fisik. Ada memang, beberapa pemain yang memiliki kekurangan fisik, tetapi jumlahnya tidak banyak. Orang-orang seperti Garrincha, yang memiliki bentuk tulang kaki bengkok namun tetap jago, tidaklah banyak. Dalam kerangka Nitzchian, kesempurnaan fisik Cristiano Ronaldo adalah pengejawantahan dari konsep ubermensch (manusia purna) yang sanggup berkuasa atas apa saja.

Dengan demikian, sepak bola (awalnya) seperti menutup ruang-ruang kemungkinan bagi saudara-saudara yang tidak seberuntung kita dari sisi fisik dan mental. Zaman yang berubah membuat sepak bola turut terkena imbasnya, antara lain upaya untuk melibatkan partisipasi dari setiap golongan manusia.

Dua dasawarsa lalu, mungkin tidak akan pernah terbersit di pikiran bahwa klub-klub Inggris akan juga memilki skuat perempuan. Di hari peringatan LGBT (lesbian, gay, bisexual, and transgender), para pemain mengenakan tali sepatu berwarna pelangi sebagai simbol solidaritas. Kini klub-klub seperti berlomba untuk melibatkan sebanyak mungkin pihak agar pesan positif sepak bola bisa meliputi banyak pihak.

Di Indonesia, semangat serupa turut hadir lewat upaya yang dilakukan Special Olympics Indonesia (SOIna), sebuah lembaga yang berkonsentrasi di pemberdayaan atlet-atlet tunagrahita di negara kita. Sehubungan dengan Hari Down Syndrome Se-Dunia yang jatuh tiap 21 Maret, pada 30 Maret 2017 lalu organisasi ini mengadakan acara yang melibatkan 200 anak down syndrome se-wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Kekurangan fisik dan mental adalah sesuatu yang tidak bisa seseorang pilih, sebagaimana kita tidak bisa memilih kelamin apa yang kita kehendaki sebelum kita lahir. Keberadaan mereka, sayangnya, masih disertai dengan tatapan jijik dan merendahkan. Lebih memprihatinkan lagi, para orang tua justru seperti mengerangkeng anak-anak mereka yang menyandang disabilitas.

Acara ini diadakan SOIna bekerjasama dengan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemdikbud RI). Acara dihelat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina Tingkat Nasional, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sepak bola turut menjadi salah satu olahraga yang dipraktikkan panitia kepada para peserta. Salah satu kegiatannya adalah latihan menggiring bola atlet special olympics Indonesia, juga latihan sepak bola lima-lawan-lima (five-a-side football), yang menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di ajang Special Olympics.

Dalam rilis pers yang mereka sebar, pihak penyelenggara menyebut bahwa acara ini bertujuan untuk ‘mengubah pola pikir masyarakat yang masih memberikan stigma negatif tentang down syndrome. Masih banyak masyarakat yang menganggap down syndrome adalah sebuah penyakit, bahkan kutukan. Masih ada para orang tua yang membesarkan anak down syndrome menerima banyak ungkapan sinis yang merendahkan dan menyakiti perasaan keluarga.

Selain itu, lewat aktifitas yang menyenangkan seperti ini, diharapkan mereka akan mampu menunjukkan keberanian, merasakan kebahagiaan dan memperlihatkan kemampuan, keahlian dan persahabatan dengan keluarga, sesama atlet Special Olympics, dan juga masyarakat luas.

Sebagai informasi, SOIna adalah satu-satunya organisasi di Indonesia yang mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI), otoritas yang membawahi perhelatan Special Olympics, olimpiade bagi mereka yang menyandang disabilitas intelektual. Olimpiade ini diadakan pertama kali pada 1968, atas inisiatif Eunice Kennedy. Eunice adalah adik dari presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy.

Dikutip dari pers rilis di atas, SOIna tengah menyerukan kampanye penghapusan istilah Retardasi Mental/Cacat Mental dari bahasa sehari-hari pemuda-pemudi di Indonesia melalui kegiatan Campaign R-Word “Spread The Word To End The Word” yang dilakukan oleh Youth Leader  Special Olympics Indonesia.

Di lingkup sepak bola sendiri, Inggris lewat Liga Primer Inggrisnya telah memiliki program bernama “The PL/BT Disablility Fund”. Tujuan dari program ini adalah penghimbauan kepada klub-klub yang ada untuk memiliki Disability Officer yang ditugaskan untuk bekerjasama dengan organisasi-organisasi lokal dalam menyediakan fasilitas olahraga baru yang secara khusus dibangun bagi orang-orang dengan disabilitias.

Semangat ini tentu selaras dengan kampanye grassroot football yang digagas FIFA. Grassroot football memiliki semangat mengenalkan dan memberikan akses sepak bola kepada sebanyak mungkin pihak, tanpa peduli dengan umur, kelamin, kondisi fisik, warna kulit, agama serta etnis.

Semoga sepak bola terus dapat menjadi wadah penyalur harapan, semangat dan sportifitas!

(kredit foto: Dokumentasi SOIna)

Author: Fajar Martha
Esais dan narablog Arsenal FC di indocannon.wordpress.com