Oleguer Presas: Cult Hero Barcelona

Ada yang ingat nama Oleguer Presas?

Pecinta Barcelona pasti mengingat pemain asli Catalonia ini. Nama Oleguer masuk daftar starting eleven El Barca di final Liga Champions tahun 2006 melawan Arsenal. Sialnya, kebanyakan orang lebih mengingat kesalahan pemain ini yang gagal menjaga pergerakan Sol Campbell sehingga menghasilkan gol bagi Arsenal.

Untung, Oleguer digantikan oleh Juliano Belletti di babak kedua. Pemain pengganti tersebut yang mencetak gol kemenangan Barcelona atas Arsenal di final yang berlangsung di Paris tersebut. Setelah itu, nama Oleguer pun perlahan-lahan menghilang dari peredaran.

Meski demikian, bagi para pecinta Barca, terutama mereka yang memiliki nasionalisme Catalan cukup fanatik, Oleguer adalah pahlawan. Meski tidak memiliki skill Lionel Messi, Neymar atau Ronaldinho, wajah tampan Gerard Pique atau karisma Xavi Hernandez dan Andres Iniesta, ada alasan lain yang membuat pemain ini dipuja-puja masyarakat Catalonia.

Beberapa pemain Barcelona memiliki nasionalisme Catalunya tetapi mereka tetap memenuhi panggilan tim nasional Spanyol. Xavi, Carles Puyol, Gerard Pique dan Sergio Busquets pernah mengibarkan bendera Catalonia setelah La Furia Roja memenangi Piala Dunia 2010. Hal seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Oleguer.

Sepanjang karirnya, Oleguer memang hanya sudi bermain di pertandingan internasional jika ‘tim nasionalnya’ memanggil, yaitu tim sepak bola Catalonia. Meskipun tidak diakui oleh FIFA, Catalan memang memiliki federasi dan tim sepak bolanya sendiri. Secara rutin mereka juga sering mengadakan pertandingan internasional melawan tim nasional resmi dari berbagai negara, seperti Argentina, Brazil, dan bahkan Spanyol sendiri.

Radio RAC1 bahkan pernah memberitakan bahwa pemain kelahiran 2 Februari 1980 ini berbicara empat mata dengan almarhum Luis Aragones, pelatih tim nasional Spanyol yang menjuarai Piala Eropa 2008. Pembicaraan itu dilaksanakan atas permintaan Oleguer setelah dirinya diberitakan akan mendapatkan panggilan oleh Aragones.

“Saya memberi tahu Luis pandangan politik saya,” kata Oleguer. “Saya mungkin tak akan berusaha sepenuh hati jika dipanggil membela Spanyol. Jadi lebih baik orang lain saja yang mengisi posisi saya.”

Kiprah pemain ini di luar lapangan lebih mengundang kontroversi lagi. Oleguer memanfaatkan pendidikan formalnya di jurusan ekonomi Universitat Autonoma de Barcelona untuk berkontribusi pada berbagai jurnal akademik bertema sosial-politik.

Ia sering mengangkat isu kemerdekaan wilayah Catalunya dalam tulisan-tulisannya, termasuk secara terang-terangan menentang keputusan Spanyol yang mengirimkan tentara ke Perang Irak.

Selain itu, Oleguer juga menerbitkan buku berjudul Cami d’Itaca pada tahun 2006. Buku yang sebenarnya berisi kisah hidupnya tersebut menjadi kontroversial karena memuat berbagai pandangan politisnya, antara lain protes-protesnya terhadap keterlibatan Spanyol di Perang Teluk.

Sayangnya, perjuangan intelektualnya dianggap kelewat batas oleh publik Spanyol pada tahun 2007. Oleguer membuat heboh karena terang-terangan membela seorang aktivis ETA (tentara separatis Basque) bernama Iñaki de Juana Chaos, yang saat itu menjalani hukuman penjara akibat tindak terorisme. Seluruh media Spanyol mengecam mantan pemain Barcelona dan Ajax Amsterdam ini. Sikap politiknya dianggap terang-terangan menghina pemerintah Spanyol.

Dampaknya, satu persatu perusahaan apparel menghentikan kerjasama sponsorship mereka dengan pemain tersebut. Lalu, setiap bermain di stadion mana pun di seantero Spanyol, penonton akan menyoraki dan bersiul keras setiap kali ia menguasai bola. Oleguer sudah kadung dikenal sebagai pemain dengan pandangan politik ‘sayap kiri’. Salva Ballesta, pemain Levante pada musim 2006-2007, bahkan terang-terangan mengaku membenci Oleguer.

“Saya lebih respek pada kotoran anjing daripada kepada Oleguer,” kata Salva pada saat itu. Salva memang terkenal sebagai pemain dengan pandangan politik ‘sayap kanan’.

Ketika kontrak Oleguer dengan Ajax berakhir pada tahun 2011, tidak satupun klub di Spanyol tertarik untuk menggunakan jasanya akibat reputasi buruknya dan ideologi politiknya. Padahal usianya pada saat itu masih 31 tahun, usia yang masih cukup produktif bagi seorang pemain belakang.

Akhirnya, di awal musim 2012-2013, pemain ini dikabarkan bergabung dengan klub amatir AD Guixols di Girona, yang berkompetisi di liga regional Catalunya. Kenyataan ini tentunya cukup ironis, mengingat pada tahun yang sama, para rekan seangkatannya seperti Xavi dan Puyol masih berada di puncak karir mereka. Sedangkan sang aktivis sendiri harus berkubang di liga amatir.

Sekarang, Oleguer Presas sudah lama pensiun. Namun, perjuangannya mendukung kemerdekaan Catalunya masih berlangsung. Inilah yang membuatnya istimewa, dan tetap dikenang oleh para pendukung Barcelona.

Author: Mahir Pradana (@maheeeR)
Mahir Pradana adalah pecinta sepak bola yang sedang bermukim di Spanyol. Penulis buku ‘Home & Away’.